Cerita Dewasa Kumpulan cerita-cerita khusus untuk 17 tahun ke atas

Kisah Ibu-ibu

Posted on November 28, 2011

Sebenarnya saya malu untuk menuliskan cerita ini, tetapi karena sudah banyak yang menggunakan media ini untuk menuliskan cerita-cerita tentang seks walaupun saya sendiri tidak yakin apakah itu semuanya fakta atau fiksi belaka. Memang cerita yang saya tulis ini cukup memalukan tetapi di samping itu ada kejadian yang lucu dan memang sama sekali belum pernah saya alami.

Awal mula dari cerita ini adalah ketika saya baru saja tinggal di sebuah daerah perumahan yang relatif baru di daerah pinggiran kota-maaf, nama daerah tersebut tidak saya sebutkan mengingat untuk menjaga nama baik dan harga diri keluarga terutama suami dan kedua anak saya. Saya tinggal di situ baru sekitar 6 bulanan.

Karena daerah perumahan tersebut masih baru maka jumlah keluarga yang menempati rumah di situ masih relatif sedikit tetapi khusus untuk blok daerah rumah saya sudah lumayan banyak dan ramai. Rata-rata keluarga kecil seperti keluarga saya juga yaitu yang sudah masuk generasi Keluarga Berencana, rata-rata hanya mempunyai dua anak tetapi ada juga yang hanya satu anak saja.

Sudah seperti biasanya bila kita menempati daerah perumahan baru, saya dengan sengaja berusaha untuk banyak bergaul dengan para tetangga bahkan juga dengan tetangga-tetangga di blok yang lain. Dari hasil bergaul tersebut timbul kesepakatan di antara ibu-ibu di blok daerah rumahku untuk mengadakan arisan sekali dalam sebulan dan diadakan bergiliran di setiap rumah pesertanya.

Suatu ketika sedang berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang berada di deretan depan rumahku, pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Bu Soni (bukan nama sebenarnya) dan sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah perumahan ini daripada saya. Bu Soni bisa dibilang ramah, banyak ngomongnya dan senang bercanda dan sampai saat tulisan ini aku buat dia baru mempunyai satu anak, perempuan, berusia 8 tahun walaupun usia rumah tangganya sudah 10 tahun sedangkan aku sudah 30 tahun. Aku menikah ketika masih berusia 22 tahun. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya juga bisa dibilang kecukupan.

Setelah acara arisan selesai saya masih tetap asyik ngobrol dengan Bu Soni karena tertarik dengan keramahan dan banyak omongnya itu sekalipun ibu-ibu yang lain sudah pulang semua. Dia kemudian bertanya tentang keluargaku, "Jeng Mar. Putra-putranya itu sudah umur berapa, sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya?" (Jeng Mar adalah nama panggilanku tetapi bukan sebenarnya) tanya Bu Soni kepadaku.
"Kalau yang pertama 18 tahun dan yang paling ragil itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu, nakalnya wah, wah, waa.. Aah benar-benar, deh. Saya, tuh, suka capek marahinnya."
"Lho, ya, namanya juga anak laki-laki. Ya, biasalah, Jeng."
"Lebih nikmat situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal."
"Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu saja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ."
"Lho, mbok ya bilang saja sama suaminya. ee.. siapa tahu ada rejeki, si putri tunggalnya itu bisa punya adik. Situ juga sama suaminya kan masih sama-sama muda."
"Ya, itulah Jeng. Papanya itu lho, suka susah. Dulu, ya, waktu kami mau mulai berumah tangga sepakat untuk punya dua saja. Ya, itung-itung mengikuti program pemerintah, toh, Jeng. Tapi nggak tahu lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah tambah asik saja sama kerjaannya. Terlalu sering capek."
"O, itu toh. Ya, mbok diberi tahu saja kalau sewaktu-waktu punya perhatian sama keluarga. 'Kan yang namanya kerja itu juga butuh istirahat. Mbok dirayu lah gitu."
"Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi, ya, tetap susah saja, tuh. Sebenernya ini, lho, Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kalo' saya omongin. Tapi Jeng Mar tentunya juga tau dong masalah suami-istri 'kan."
"Ya, memang. Ya, orang-orang yang sudah seperti kita ini masalahnya sudah macem-macem, toh, Bu. Sebenarnya Bu Soni ini ada masalah apa, toh?"
"Ya, begini Jeng, suami saya itu kalo' bergaul sama saya suka cepet-cepet mau rampung saja, lho. Padahal yang namanya istri seperti kita-kita ini 'kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama, toh, Jeng."
"O, itu, toh. Mungkin situ kurang lama merayunya. Mungkin suaminya butuh variasi atau model yang agak macem-macem, gitu."
"Ya, seperti apa ya, Jeng. Dia itu kalo' lagi mau, yang langsung saja. Saya seringnya nggak dirangsang apa-apa. Kalo' Jeng Mar, gimana, toh? Eh, maaf lho, Jeng."
"Kalo' saya dan suami saya itu saling rayu-merayu dulu. Kalo' suami saya yang mulai duluan, ya, dia biasanya ngajak bercanda dulu dan akhirnya menjurus yang ke porno-porno gitulah. Sama seperti saya juga kalau misalnya saya yang mau duluan.""Terus apa cuma gitu saja, Jeng."
"O, ya tidak. Kalo' saya yang merayu, biasanya punya suami saya itu saya pegang-pegang. Ukurannya besar dan panjang, lho. Terus untuk lebih menggairahkannya, ya, punyanya itu saya enyot dengan mulut saya. Saya isep-isep."
"ii.. Iih. Jeng Mar, ih. Apa nggak jijik, tuh? Saya saja membayangkannya juga sudah geli. Hii.."
"Ya, dulu waktu pertama kali, ya, jijik juga, sih. Tetapi suami saya itu selalu rajin, kok, membersihkan gituannya, jadi ya lama-lama buat saya nikmat juga. Soalnya ukurannya itu, sih, yang lumayan besar. Saya sendiri suka gampang terangsang kalo' lagi ngeliat. Mungkin situ juga kalo' ngeliat, wah pasti kepengen, deh."
"Ih, saya belon pernah, tuh, Jeng. Lalu kalo' suaminya duluan yang mulai begimana?"
"Saya ditelanjangi sampai polos sama sekali. Dia paling suka merema-remas payudara saya dan juga menjilati putingnya dan kadang lagaknya seperti bayi yang sedang mengenyot susu.", kataku sambil ketawa dan tampak Bu Soni juga tertawa.
"Habis itu badan saya dijilati dan dia juga paling suka menjilati kepunyaan saya. Rasanya buat saya, ya, nikmat juga dan biasanya saya semakin terangsang untuk begituan. Dia juga pernah bilang sama saya kalo' punya saya itu semakin nikmat dan saya disuruh meliara baik-baik."
"Ah, tapi untuk yang begituan itu saya dan suami saya sama sekali belum pernah, lho, Jeng. Tapi mungkin ada baiknya untuk dicoba juga, ya, Jeng. Tapi tadi itu masalah yang situ dijilatin punyanya. Rasa enaknya seperti apa, sih, Jeng."
"Wah, Bu Soni ini, kok, seperti kurang pergaulan saja, toh."
"Lho, terus terang Jeng. Memang saya belon pernah, kok."
"Ya, geli-geli begitulah. Susah juga untuk dijelasin kalo' belum pernah merasakan sendiri." Lalu kami berdua tertawa.

Setelah berhenti tertawa, aku bertanya, "Bu Soni mau tau rasanya kalau gituannya dijilati?"
"Yah, nanti saya rayu, deh, suami saya. Mungkin nikmat juga ya." Ucapnya sambil tersenyum.
"Apa perlu saya dulu yang coba?", tanyaku sambil bercanda dan tersenyum.
"Hush!! Jeng Mar ini ada-ada saja, ah", sambil tertawa.
"Ya, biar tidak kaget ketika dengan suaminya nanti. Kita 'kan juga sama-sama wanita."
"Wah, kayak lesbian saja. Nanti saya jadi ketagihan, lho. Malah takutnya lebih senang sama situ daripada sama suami saya sendiri. Ih! Malu' akh.", sambil tertawa.
"Atau kalo' nggak mau gitu, nanti saya kasih tau gimana membuat penampilan bulu gituannya biar suaminya situ tertarik. Kadang-kadang bentuk dan penataannya juga mempengaruhi rangsangan suami, lho, Bu Soni."
"Ah, Jeng ini."
"Ee! Betul, lho. Mungkin bentuk bulu-bulu gituannya Bu Soni penampilannya kurang merangsang. Kalo' boleh saya lihat sebentar gimana?"

Filed under: Umum Continue reading

Aku Menjadi Pengantin Muridku

Posted on November 28, 2011

Hai, perkenalkan namaku Erina. Usiaku sekarang 18 tahun. Teman-temanku sering memuji wajahku yang bulat dan manis dengan rambutku yang hitam sebahu yang menurut mereka amat serasi dengan bentuk wajahku. Tubuhku yang mungil dengan tinggi 152 cm, memberi kesan imut yang sering menjadi daya tarik tersendiri bagi teman-temanku. Aku merupakan seorang mahasiswi keturunan Chinese dari Medan yang bisa tergolong sebagai pendatang baru di Jakarta. Aku merantau ke Jakarta sendirian untuk melanjutkan pendidikanku di sebuah universitas swasta di Jakarta Barat. Sehari-harinya aku bekerja sebagai guru les privat yang mengajar anak-anak sekolah yang pada umumnya adalah anak-anak SMP atau SD. Aku melakukan ini untuk membiayai uang kuliah dan segala keperluanku. Maklumlah, sebagai pendatang baru di kota besar seperti Jakarta, aku harus bisa membiayai segala keperluanku sendiri. Apalagi keluargaku yang berasal dari daerah juga bukan tergolong keluarga yang cukup mampu untuk membiayaiku, maka aku memutuskan untuk mandiri sendiri di perantauanku. Suatu hari, aku mendapat panggilan dari sebuah keluarga yang ingin agar aku mengajar les anak tunggal mereka. Mereka menawarkan gaji yang bagiku amat tinggi dan kurasa cukup untuk membiayai kehidupanku di Jakarta. Tanpa pikir panjang lagi, segera kuterima tawaran keluarga itu, dan kami setuju bahwa aku akan mulai mengajar anak mereka besok sore harinya sepulang kuliah. Esok harinya, aku pun datang untuk mulai mengajar murid baruku itu. Sesampainya di rumah itu, aku tertegun melihat arsitektur rumah itu yang seperti sebuah istana yang dilengkapi taman hijau dan dikelilingi pagar terali yang tinggi. Dibandingkan dengan rumahku di daerah yang hanya ¼ luas rumah itu, apalagi tempat kosku yang kecil dan sumpek, tentu saja memiliki rumah seperti ini sudah menjadi impianku sejak kecil.

DING-DONG!! Kutekan bel pintu di sebelah pagar rumah itu.

"Siapa?" terdengar suara wanita di Interkom yang terletak di samping bel pintu itu.

"Saya Erina, guru les privat anak anda yang baru!" jawabku

"Oh, Erina! Ayo, silakan masuk!"

Tiba-tiba, gerbang terali rumah itu terbuka. Aku pun segera masuk kedalam. Pintu garasi itu terbuka dan keluarlah seorang wanita paruh baya, usianya sekitar 40-an tahun. Dari penampilannya yang necis seperti seorang business-woman, sudah jelas bahwa ia adalah pemilik rumah ini. Wanita itu segera menyambut kedatanganku.

"Halo, Erina! Bagaimana kabarnya?"

"Baik-baik saja bu. Anda Bu Diana? Ibu Rendy?" tanyaku dengan sopan.

"Ya, betul! Ayo masuk, kita bicara didalam!" ujarnya mempersilahkanku masuk

Sambil menuju ke ruang tamu, kami berbincang-bincang sejenak. Dari situ aku tahu bahwa bu Diana adalah pemilik Bridal Studio ternama di Jakarta sekaligus seorang desainer gaun pengantin yang sering pergi ke luar negeri untuk melihat pameran-pameran di luar negeri. Bahkan, di rumahnya banyak terpajang piala penghargaan bagi desainer di pameran luar negeri. Sementara suaminya adalah kepala cabang sebuah bank multinasional yang saat ini tinggal di Jerman. Maka ia hanya tinggal berdua saja dengan anaknya di rumah itu. Seringkali anaknya dititipkan ke kerabatnya apabila bu Diana hendak pergi ke luar negeri. Aku pun dipersilahkan untuk menunggu di ruang tamu sementara bu Diana mengambilkan minuman untukku. Aku hanya terpaku melihat hiasan-hiasan indah di rumah itu. Rasa-rasanya, harga salah satu hiasan patung ataupun lukisan itu cukup untuk membiayai uang kuliahku untuk satu semester.

"Hayo, kok malah melamun?" aku dikagetkan oleh suara bu Diana yang segera menyajikan segelas es sirop untukku.

"Eh.. tidak.. maaf, Bu!" aku tergagap salah tingkah, namun bu Diana hanya tersenyum melihatku. Bu Diana segera duduk di sofa ruang tamu di depanku.

"Nah, Erina. Kamu akan mengajar Rendy mulai hari ini. Ibu harap kamu bisa memperbaiki nilai-nilainya di sekolah."

"Baik bu. Saya akan berusaha sebaik mungkin."

"Saya senang melihat semangatmu. Tapi apa kamu tahan menghadapi anak-anak nakal?"

"Memangnya ada apa, bu?" tanyaku penasaran

"Rendy sekarang duduk di kelas 3 SMP, usianya tahun ini 16 tahun. Kamu tahu, itu masa yang rawan bagi anak remaja. Nilai Rendy terus menurun, ia lebih sering menghabiskan waktunya buat bermain atau menonton di kamarnya." Bu Diana tampak menghela napas.

"Tenang saja, bu. Saya akan berusaha untuk membuatnya belajar. Saya yakin, nilai Rendy pasti akan segera membaik."

"Bagus. Kinerjamu akan dinilai lewat nilai-nilai ujian semester mereka Juni ini."

"Berarti, 5 bulan dari sekarang?"

"Benar. Tunggu sebentar ya, Erina? Ibu akan memanggil Rendy dulu."

Rendy
Aku mengangguk menyetujui. Bu Diana lalu beranjak pergi ke lantai atas. Tak lama kemudian, Bu Diana turun beserta seorang anak laki-laki. Wajah anak itu tidak bisa dibilang tampan, menurutku. Tubuhnya kurus dan termasuk tinggi untuk anak seusianya, bahkan lebih tinggi dariku. Tapi mukanya yang tampak masam saat melihatku yang duduk di hadapannya, dari wajahnya sudah terlihat ia seorang yang nakal dan bermasalah.

"Ayo, beri salam ke Kak Erina! Mulai hari ini dia yang akan menjadi guru privatmu!"

"Rendy." Anak itu tampak acuh dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman denganku.

"Erina, salam kenal!" Aku berusaha tersenyum sambil membalas uluran tangannya.

"Baiklah, ayo antar kak Erina ke kamarmu dan mulai belajar!" perintah bu Diana, yang hanya dijawab oleh gerutuan dari Rendy. Aku tersenyum dan mengikuti Rendy ke kamarnya. Sejak hari itu, aku mulai mengajari Rendy sebagai guru privatnya.

Hari demi hari berlalu. Tidak terasa, sudah 3 bulan berlalu sejak hari itu. Tiap hari Senin hingga Jumat sore, aku terus mengajari Rendy sebagai guru privatnya secara rutin. Lama-lama aku pun semakin mengenal Rendy. Rendy sering bergaul dengan teman-temannya, namun sayangnya Rendy salah memilih pergaulan. Ia bergaul dengan anak-anak nakal di sekolahnya. Aku pernah melihat teman-temannya yang nakal itu, mereka selalu saja mengajak Rendy untuk membolos saat aku mengajar, yang seringkali dituruti olehnya, belum lagi sikap mereka yang menurutku tidak sopan maupun cara mereka bergaul yang lebih condong ke arah pergaulan bebas. Aku selalu bersabar mengajari Rendy, tapi anak itu benar-benar bandel. Setiap kali aku mengajarinya, ia hanya mengacuhkanku ataupun bengong melamun. Semua tugas yang kuminta untuk dikerjakan tidak pernah disentuhnya sama sekali. Parahnya lagi, tidak jarang kulihat kepingan DVD porno yang disembunyikannya dibawah kasurnya. Aku tidak pernah menghiraukan hal itu, karena tugasku di sini adalah untuk mengajarinya bahan pelajaran, bukan untuk menceramahinya. Mungkin karena pengaruh DVD itu dan pergaulannya, dia juga sering menggodaku untuk menjadi pacarnya. Aku memang masih single, tapi pacaran dengan anak dibawah umur? Tak pernah sama sekali terlintas di benakku untuk melakukan hal itu, apalagi Rendy adalah muridku.

Sering aku nyaris kehilangan kesabaran karena ulah Rendy, namun aku selalu teringat akan janjiku pada bu Diana untuk memperbaiki nilai Rendy dan mengingat biaya yang dikeluarkan bu Diana untuk membayarku, sudah cukup untuk membuatku selalu tegar menghadapi kebandelan Rendy. Namun seberapapun aku berusaha menahan kesabaranku, rupanya kesabaran bu Diana mulai habis. Suatu hari, ia memanggilku saat aku mengajar Rendy.

"Erina, saya pikir kamu sudah tahu kalau nilai Rendy selama ini sama sekali tidak membaik." Ujarnya agak keras

"Maaf, bu. Saya sudah berusaha, tapi Rendy.."

"Saya tidak mau mendengar alasan, Erina. Kamu tahu berapa gajimu setiap bulan bukan? Saya berharap pengeluaran itu setimpal dengan hasil yang kamu berikan. Tapi kalau begini hasilnya, saya benar-benar kecewa.." ujarnya dengan nada agak ketus

"Tapi.."

"Begini saja. Saya akan tetap berpegang pada janji saya untuk menilaimu lewat hasil Rendy pada semester ini. Kalau nilainya masih juga belum membaik, saya terpaksa mencari pembimbing yang lebih mampu."

"Tapi bu.." aku berusaha memberi argumen dengan Bu Diana.

"Sudahlah Erina, saya harus pergi ke studio sekarang! Saya harap, kamu bisa memperbaiki nilai Rendy secepat mungkin!" tegas bu Diana sambil berlalu pergi keluar dari rumahnya.

Kata-kata bu Diana benar-benar membuatku mulai patah arang. Bagaimana cara menggerakkan anak sebandel itu untuk belajar? Yang kutahu ia hanya tertarik dengan game PlayStation dan koleksi film miliknya, baginya memegang buku pelajaran pasti lebih susah daripada berenang melintasi samudra! Rasa putus asa menyelimutiku saat aku membayangkan bagaimana membiayai kuliahku apabila bu Diana meberhentikanku. Dengan lesu, aku kembali ke kamar Rendy untuk mengajar. Namun, sesampainya di kamar, aku melihatnya tertawa terbahak-bahak saat aku memasuki kamarnya.

"Apa yang lucu?!" ketusku dengan muka masam.

"Mau dipecat ya, Kak? Kasihaan deeeh!" ejeknya sambil tertawa.

Mendengar ejekan Rendy sudah lebih dari cukup untuk membuat amarahku yang sudah lama terpendam, meledak seketika.

"Kamu maunya apa sih?! Kakak sudah memberimu penjelasan dan latihan-latihan, tapi sama sekali tak digubris!! Bagaimana nilaimu bisa bagus kalau kamu tidak pernah belajar!! Setiap hari yang kamu tahu cuma main game atau bengong saja!!" bentakku pada Rendy. Aku benar-benar merasa marah dan dipermainkan oleh anak itu. Tapi Rendy hanya tersenyum mendengar bentakanku itu.

"Oke deh, kalau Kakak maunya begitu. Rendy akan minta Mami untuk mencari guru baru. Kakak cari saja murid yang mau menurut!!" Ujarnya dengan sombong.

Seketika itu juga aku ambruk ke lantai, air mataku menetes karena putus asa. Aku sudah harus membayar biaya kuliahku bulan depan yang rencananya akan kubayar dengan gajiku bulan ini. Apabila aku diberhentikan sekarang, bagaimana caraku untuk membayar uang itu? Tidak mungkin meminta kiriman uang dari keluargaku, aku tidak memiliki kerabat di Jakarta dan lagipula mana mungkin teman-temanku mau meminjamkan uang untuk mahasiswi miskin sepertiku ini? Sebenarnya banyak mahasiswa yang tertarik padaku dan mau menjadi pacarku. Bisa saja aku meminjam uang dari mereka, namun aku tak mau kalau harus berhutang budi pada mereka, bisa saja itu menjadi alasan mereka untuk memaksaku menjadi pacar mereka. Pikiran bahwa aku harus berhenti kuliah membuatku galau dan putus asa. Aku pun menangis terisak di hadapan Rendy.

"Waah, malah nangis.. Dasar cengeng!" ejek Rendy saat melihatku menangis, namun itu tidak menghentikan isak tangisku.

"Oke, oke. Aku mau belajar, tapi kakak harus menuruti permintaanku, Oke?!" Rendy mulai membujukku.

"A..apa yang kamu mau?!" jawabku sambil terisak.

"Pertama, kakak berdiri dulu ya?" Rendy memegang tanganku dan membantuku berdiri. Aku pun segera beranjak bangun. Kulihat mata Rendy tampak menggerayangi lekuk tubuhku. Ia lalu berjalan berputar-putar mengelilingiku. Aku pun mulai risau melihat gelagat anak itu.

"Sudah! Jangan putar-putar melulu! Kepala kakak pusing tahu!! Kamu maunya apa sih?!" bentakku tidak sabaran.

"Kak, Rendy penasaran deh.." ungkap Rendy.

"Apanya?!"

"Kakak itu cewek kan?"

"Lalu kenapa? Bukannya sudah jelas kan?!" jawabku kesal.

"Kalau begitu, kakak punya memek juga doong.." balas Rendy dengan nada mengejek.

"Rendy penasaran nih.. Memek kakak mirip nggak ya, dengan memek cewek-cewek yang sering kulihat di film-film porno?" sambungnya dengan santai.

Oh, astaga! Bagai tersambar petir, aku benar-benar marah mendengar ucapan Rendy itu. Moral anak ini benar-benar sudah hancur sama sekali!! Bagaimana bisa dia menanyakan hal seperti itu didepan seorang gadis dengan santainya? Anak ini benar-benar sudah kelewat batas!

PLAAK.. Tanpa sadar kutampar pipi kiri Rendy hingga anak itu terjatuh ke lantai. Rendy pun merintih kesakitan.

"Aduh, sakiit.." rintihnya pelan.

Ya ampun! Apa yang telah kulakukan? Sesaat aku sontak tersadar, namun sudah terlambat. Tamparanku sudah keburu mendarat di pipi Rendy. Melihat Rendy yang terjatuh, aku pun merasa semakin panik. Segera kuhampiri Rendy yang masih merintih di lantai.

"Rendy, Rendy! Kamu nggak apa-apa kan?! Maaf ya, kakak tak sengaja. Maaf.." tanyaku cemas.

Aku berusaha menggenggam tangan Rendy, namun ia segera menepis tanganku.

"Pergi sana! Rendy akan laporkan kakak ke Mami!! Biar nanti kakak dituntut ke polisi!!" teriaknya.

"Rendy.. Kakak minta maaf ya? Kakak benar-benar tak sengaja.." aku benar-benar panik mendengar ancaman Rendy, yang sangat mungkin menjadi kenyataan mengingat keluarganya yang cukup terpandang.

"Nggak mau! Pergi sana!! Tunggu saja sampai Mami pulang, Kakak pasti kulaporkan!" ancam Rendy sekali lagi. Rendy segera beranjak, hendak keluar dari kamarnya.

Aku benar-benar putus asa dan kebingungan. Masalah yang datang menghampiriku silih berganti. Bagaimana ini? Sebelumnya, ancaman pemecatanku sudah diambang mata dan sekarang malah aku terancam dituntut oleh keluarga kaya ini. Pikiranku pun mulai buntu dan tanpa pikir panjang lagi, kutarik tangan Rendy untuk mencegahnya keluar kamar.

"Tunggu Rendy!! Kakak akan menuruti permintaan Rendy! Apapun! Tapi tolong jangan laporkan kakak ke bu Diana!" bujukku pada Rendy.

Langkah kaki Rendy terhenti sebentar. Rendy lalu melirik melihatku.

"Benar nih? Kakak nggak bohong kan?" tanyanya tidak percaya.

"Iya, iya! Kakak janji! Tapi cuma sekali ini saja ya!" jawabku putus asa.

"Oke deh kalau begitu. Rendy mau lihat memek kakak sekarang." Perintahnya padaku.

Kisah tragis Mariska si cantik

Posted on August 31, 2011

aku mariska, seorang siswa kelas 3 sma yang baru saja lulus. untuk sekedar perkenalan aku, aku ini cantik,kulit putih,badanku tinggi juga 172 cm, berat 60 kg. sexy banget kan. rambut hitam panjang lulus sepunggung. sebenernya sebagai gadis yang baru saja masuk ke kehidupan kuliah aku cuma seorang gadis biasa, namun pada suatu hari sebuah perjalanan panjang membuat hidupku jadi tidak biasa.

suatu hari aku plang kuliah agak larut, aku naik angkot untuk pulang ke rumahku ddaerah jakarta barat. malam itu aku memakai kaos warna pink,bh item, kolor putih,celana jeans skinny biru muda, dan bersepatu converse putih. untuk yang pecinta jeans ketat pasti suka, karena jeansku itu sangat bagus tebal dan ketat skali,hingga lekukan paha,selangkangan,dan betis, jelas skali terlihat.

setelah turun d dkt daerah rumahku aku tidak sadar sama skali kalo aku sedang diikuti. aku terus berjalan dengan santai, waktu itu mungkin sudah jam 11 lewat dan sangat sepi, bahkan hansip tidak ada. tiba-tiba saja, ahhhh.. seseorang menarik tas ku dari blakang dan segera menutup muludku. ada 3 orang mengenakan penutup wajah. salah satuny perempuan. tapi aku tidak tau siapa mereka. oh no!!!

salah satu dari mereka mengikat tanganku danyagn lain memplester mulutku. awww, kasar skali mereka. mataku juga d tutup dengan kain hitam.. lalu.... oh tidak.... argggg, dukk. aku berasa seperti d lempar. dantiba aku mendengar suara mesin mobil. brmmmmm... tampakny aku di masukan ke dalam box mobil pick up. aku mencoba menjerit dan melawan tapi percuma.

Ternyata Adikku Liar

Posted on August 31, 2011

Namaku Luky, saat ini usiaku 20 th, aku tergolong pemuda yang biasa saja penurut dan pendiam diantara saudaraku. namun di balik itu aku juga punya hasrat bercinta yang sangan hebat.

cerita ini terjadi sekitar 6 bulan yang lalu, ketika adikku sebut saja namanya nur. dia baru pulang dari luar tempat sekolahnya. nur adalah gadis yang cantik, dia sangat agresif di banding gadis gadis lain seusianya.

pada siang itu aku dan nur sedang tidur siang bersama, tapi aku selalu saja gelisah saat hanya berdua saja bersamanya. aku sudah sejak dulu berfantasi untuk bisa merasakan nikmatnya tubuh adikku itu. dadaku berdebar debar saat itu. tangan dan seluruh tubuhku bergetar hebat. tiba tiba aku memberanikan diri untuk memeluknya dari belakang. awalnya dia hanya diam saja dan kupikir mungkin saja dia memang masih tertidur. kuteruskan kegiatanku, aku gesek gesekkan bagian selakanganku di pantatnya dia tetap saja diam. akhirnya aku memberanikan diri untuk menyentuh buah dadanya dari luar bajunya dan dia tetap saja diam semakin lama aku meremas remas buah dadanya semakin kencang remasanku ke gumpalan daging empuk itu.

Kakak Ipar Istriku dan kontrakannya

Posted on July 5, 2011

Nama Aku YOnar, aku adalah seorang lelaki yang sudah menikah, istriku mempunyai seorang kakak laki - laki yang telah beristri, istrinya sebut saja namanya linA, dengan linA dulu ketika kami masih sama2 pacaran, kami pernah dekat dan menjalin hubungan. Namun setelah kami sama2 menikah, kami menjauh, bahkan linA sangat menjaga jarak denganku. Jujur aku sendiri masih menyimpan hayal dengannya, tubuhnya memang kurang berisi, payudaranya juga tidak besar, tapi permainan sex nya luar biasa, libido yang besar membuatku sering terbayang dirinya. Sering pada suatu saat aku berusaha menggodanya, tapi sulit. lina dan suaminya (kakak istriku) tinggal mengontrak sebuah rumah kontrakan yang kecil  tepat di seberang sebelah rumah mertuaku yang juga mertua dia.

Ketika aku berkunjung k rumah mertua ku otomatis aku juga pasti bertemu dengannya dan suaminya.

Suatu Ketika aku sedang berkunjung ke rumah mertuaku, tentunya dengan istri dan anakku, karena rumah mertuaku berada di luarkota tempat aku tingal, otomatis biasanya aku menginap. Hari Minggu kami disana, Aku bertemu dengan lina, kami salam dan berbasa basi seperti biasa, aku masih saja terpesona melihatnya, apalgi dia hanya pakai celana pendek dan kaos oblong tipis, aku berusaha berlama-lama bersalaman dengannya, tp dia buru2 melepasnya. Aku berhasrat sekali dengannya tapi segera kubuang jauh2 pikiran itu karena keluarga sedang berkumpul tidak mungkin itu trjadi.

Esok hari, subuh2 sekali istriku, kakaknya (suaminya lina), dan adik2nya, sudah bersiap2 berangkat acara keluarga sekaligu ziarah ke makam leluhurnya, mereka berangkat dengan Pamannya, Ibu dan seluruh keluarga. Hanya Aku putuskan tidak ikut karena masih cape dan malas. jadi hanya AKu dan Kakak Perempuan ibu mertua yang sudah sangat tua dan sulit berjalan yang tidak bisa ikut, Oh iya lina juga tidak ikut karena dia hari itu tidak libur. Sial sekali pikirku, kukiran pagi ini bisa melihat alin dan ada kesempatan untuk menggodanya.

Pagi itu keadaan rumah sudah sepi, semua sudah berangkat, kecuali aku dan uwa. tiba2 terdengar alin masuk dari pintu belakang dari arah kontrakannya, bertanya pada uwa "wa, saklar di kontrakan rusak wa, jadi air sama lampunya ga bisa nya nyala, mana lina harus kerja lagi, si mas sama yng lain udah berangkat lagi gada yang bisa dimintain tolong". Mendengar itu ingin rasanya aku segera beranjak dari ruang tengah menawarkan bantuan, tapi sebelum aku bicara uwa sdh menimpali "Tuh ada ada Yonar, dia ga ikut, minta tolong aj ya",  mendengar itu aku langsung menimpali " Udah sini Lin aku coba liat sapa tau bisa" " Ngga usah ngerepotin" jawab lina sambil berbisik " ntra macem2 lagi". Pikirku tau aja dia kalau aku punya niat macem2, tapi demi jaga gengsi aku bilang "Ada-ada aja, gini aj deh, selagi aku betulin saklar dikontrakan mu, lina disni aja dulu sampe beres, mandi disni aja" Dari gerakgeriknya dia hendak menolak namun Uwa buru2 bilang " ya udah sekarang cepat betulin Yo, Lina disni aja dulu"

Membawa Peralatn listrik, obeng, gunting dsb, lina menuntunku ke kontrakannya, sekaligus dia membawa perlengkapan mandinya untuk mandi di rumah mertua. Setelah Lina menerangkan masalahnya aku pun segera memperbaiki saklar kontraknya, dimana saklar ini sebagai penghubung listrik induk dengan listrik rumahnya, sementara Lina mandi di rumah mertua.

Sekitar 15 Menit sudah aku memperbaiki saklar di kontrakannya, Lina Pun belum juga selesai mandi. Sesekali aku bolak balik ke rumah mertua untuk mengambil beberapa keperluan, suatu kali ketika aku bolak balik, aku penasaran, jiwa nakal ku muncul, Hayalku membayangkan Lina yang sedang Bugil, tanpa sehelai benang pun ditubuhnya, terbayang tubuhnya dibasuh sabun, payudara dan vaginanya, pikiranku pun smkn nakal aplg setauku pintu kamar mandi disini tidak bisa tertutup sempurna sehingga ada bnyk celah untuk mengintip. .. Uuh.. ku intip Uwa sedang dikamarnya, mungkin tidur, maka hayalku memberanikan untuk Mengintip Lina yang sedang mandi, dari balik celah pintu yang rusak,.

Perlahan kuintip, wow kulihat lina menyamping, bugil seluruh tubuhnya dipenuhi busa - busa sabun, tangannya yang lentik mengusap perlahan toketnya, oh.. dia meremas2 toketnya sambil memejamkan mata, melihat ini kontolku tak kuasa makin menegang, aplagi kemudian aku dikagetkan dgn adegan berikutnya: Lina Mengusap vaginanya, memasukkan jarinya kedalam vaginanya, ah apakah dia sedang masturbasi? pikrku.. terus dia mengocok vaginanya sebari mendesah tak karuan, aku semakin tegang melihatnya, kontolku tak kuasa menegang, andai saya aku dapat menyetubuhinya.. . Sedang asik bermain dgn kelamin masing2, terdengar suara dari Dalam Ruang tengah: " Liinn, kalau sudah mandinya, kesini dulu bentar ya.." lina yang sptnya sedang asik memainkan vagina terkaget lsg menjawab " Iya Wa.." Begitupun dengan aku buru2 aku beranjak dari intipan ku dan segera kembali ke kontrakan lina meneruskan memperbaiki saklar.

Ina : Adik Iparku, Suamiku

Posted on July 5, 2011

TREK... TREK ... TREK  ...

Aku mendengar bunyi ketukan pada pagar besi rumahku yang telah terkunci.

Setiap menjelang maghrib aku memang selalu mengunci pintu pagarku karena hanya tinggal sendirian di rumah. Suamiku sehari-hari berkerja di sebuah BUMN bidang energi di Jakarta dan hanya ada di Bandung Jum'at malam sampai hari Minggu.

Oh iya, perkenalkan namaku Ina, pada saat kejadian ini umurku sekitar 33 tahun. Walaupun aku sudah menikah sekitar 10 tahun tapi belum punya anak sehingga sehari-hari aku praktis sendirian di rumahku.  Ironisnya aku memutuskan menikah dengan suamiku ini justru karena aku hamil sebelum menikah walaupun kemudian digugurkan. Aku sendiri bekerja sebagai sekretaris direksi di sebuah pabrik karpet yang cukup besar di Bandung Selatan.

Untuk melihat siapa yang datang, aku coba intip melalui tirai ruang tamu. Ternyata yang datang adalah Yanto adik iparku, suami dari adikku yang nomor tiga. Sebelumnya ibuku memang sudah menelepon bahwa ada barang untukku yang dititipkannya kepada adik iparku ini, sehingga sewaktu-waktu akan diantarkan olehnya ke rumah.

Aku segera membuka pintu rumah untuk membuka gembok pintu pagar supaya adik iparku bias masuk.  Saat itu sebenarnya aku sudah mengenakan daster rumah yang cukup longgar dengan tangan terbuka tanpa memakai bra lagi di dalamnya karena memang tidak menyangka akan ada tamu malam ini. Tapi karena aku pikir yang datang adalah adikku iparku sendiri maka aku merasa tidak perlu ganti baju dulu seperti yang biasa aku lakukan kalau ada tamu-tamu lainnya.

"Yanto, apa kabar ? “

“Maaf pintunya sudah di kunci, kamu tau kan Ina hanya tinggal sendiri”

“Kamu langsung dari kantor ?" Berondongku pada adik iparku sambil tanganku berusaha membuka kunci gembok pintu pagar.

"Iya nih, saya bawa titipan ibu dari Jakarta buat Ina" Jawab adik iparku sambil masuk dan kemudian membantu menutup dan mengunci kembali pintu pagarnya.

Aku kemudian mempersilahkannya masuk ke ruang tengah karena tadi aku sedang menonton suatu acara di TV dan tidak ingin ketinggalan kelanjutannya.  Pintu ruang tamu di depan tetap aku buka, seperti yang biasa aku lakukan kalau menerima tamu laki-laki. Maklumlah aku tinggal sendiri, sehingga aku tidak ingin jadi omongan dan kecurigaan tetangga lainnya kalau kebetulan ada yang melihatnya. Jadi walaupun yang datang adalah adik iparku sendiri, aku tetap menjalankan "aturanku" itu.

"Mau minum apa Yan ?  Teh atau kopi ? Jangan menolak ya, kan udah repot-repot datang ke ujung dunia" Aku menawarkan minum sambil tersenyum.

Rumahku memang ada di daerah by-pass, sehingga cukup jauh bagi Yanto untuk datang ke rumah dari kantornya yang di tengah kota pada jam pulang kantor yang macet.

"Kopi aja deh ..." Jawab Yanto pendek sambil menghempaskan diri duduk di sofa di mana aku sebelumnya duduk menonton TV.

Yanto badannya tinggi besar, sekitar 180 cm dengan berat badan mungkin sekitar 80 Kg, umur sekitar 2 - 3 tahun lebih muda dariku dan wajah di atas rata-rata. Aku sendiri cukup mungil dengan tinggi kurang dari 160 cm dan berat badan sekitar 40 Kg.  Hal lainnya yang kontras adalah, Yanto berkulit coklat dengan bulu-bulu yang lebat di badannya, sedangkan aku berkulit kuning langsat.

Berbeda dengan suamiku yang pegawai negeri, Yanto adalah seorang pengusaha yang ulet membangun usahanya sendiri mulai dari nol.   Walaupun kami jarang bertemu (seringnya hanya di arisan keluarga dan kumpul-kumpul hari raya), tapi Yanto selalu menjadi teman mengobrol yang menyenangkan karena wawasan dan pengalamannya yang sangat luas.

Kami duduk bersebelahan di sofa sambil mengobrol tentang banyak hal dan nonton TV, sekali-sekali aku bangkit dari kursi untuk mengambil kue-kue maupun tambahan minum baik buat aku sendiri maupun buat Yanto.  Setiap kali aku menaruh atau mengambil barang di meja, posisiku selalu berdiri menunduk menghadap Yanto karena posisi meja yang cukup rendah.

Sampai pada satu saat ketika sedang menunduk lagi, tanpa sengaja mataku melirik ke arah Yanto dan melihat ekspresi yang aneh dari Yanto, terutama saat memandang ke arah baju bagian atasku.  Sehingga secara otomatis akupun ikut melihat ke arah yang dipandangi oleh Yanto itu.

Ya ampun … ternyata selama ini setiap aku menunduk seluruh payudaraku yang polos tanpa bra terpampang dengan jelas menggantung bebas melalui leher dasterku yang memang sangat lebar dan longgar.  Payudaraku tidak lah besar, tetapi masih sangat padat dan terawat baik dengan putingnya yang masih kecil berwarna coklat terang. Mungkin karena tidak pernah dipakai menyusui anak.

Seketika itu juga aku menjadi merasa salah tingkah, jadi aku coba kembali duduk di sebelah Yanto sambil menunduk dengan muka yang merah padam karena rasa malu yang amat sangat.

Belum lagi rasa maluku itu hilang, tiba-tiba Yanto memelukku dari depan sambil mencoba mencium bibirku dengan nafas yang sedikit memburu dan membuatku terdorong ke posisi setengah berbaring di sofa.

“Yantooo … Apa yang kamu lakukan ?!” Kataku setengah berteriak dan mencoba mendorong tubuh Yanto yang sudah setengah menindihku.

Tini : Aku Diperawani Bossku

Posted on July 5, 2011

“Ahhhh ….” Aku  hanya bisa mendesah pendek karena kesal saat suamiku sudah berejakulasi padahal penetrasinya baru berjalan kurang dari dua menit saja, sedangkan aku sendiri baru mulai menikmati persetubuhan ini.

Seharusnya aku bisa maklum karena ini adalah pengalaman pertama bagi suamiku yang baru melangsungkan pernikahan denganku.  Sedangkan aku sudah lebih dari empat tahun mengenal seks dan secara rutin berhubungan badan.  Sehingga dengan tanpa sadar tadi pun aku membantu suamiku memasukkan penisnya ke dalam liang vaginaku.

Tentu saja suamiku bahkan keluargaku sendiri tidak pernah tahu mengenai pengalaman seksku selama ini karena dari penampilan dan aktivitasku sehari-hari terlihat biasa-biasa saja.  Hal itu dimungkinkan karena aku hanya berhubungan badan dengan orang yang sama terus. Walaupun demikian aku sudah siapkan alasan kalau suamiku nanti mempermasalahkan tidak adanya pendarahan saat malam pertama.

Namaku Tini, aku bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan pelayaran kapal barang. Umurku waktu menikah adalah 28 tahun, tapi aku kehilangan keperawananku pada umur 23 tahun saat aku berkerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan telekomunikasi.  Di bawah ini adalah ceritaku mengenai pengalaman seksku yang pertama.

-------- oo0oo ---------

Hari ini adalah hari terakhir bossku ada di kantor cabang Bandung ini, karena mulai besok beliau akan digantikan oleh orang baru yang dipilih oleh kantor pusat.  Bossku memang mendapat promosi dari kepala cabang di Bandung menjadi direktur di Jakarta.  Padahal aku belum sampai dua bulan bekerja sebagai sekretaris di sini, sehingga selain harus beradaptasi dengan tempat kerja yang baru aku juga harus beradaptasi dengan boss baru.  Di tempat kerjaku ini, aku adalah karyawan yang paling muda karena karyawan lainnya rata-rata 10 tahun lebih tua.

Calon boss yang baru juga sudah datang karena hari ini akan menjadi hari serah terima de facto kantor cabang Bandung dari boss lama ke boss yang baru.  Ternyata boss baru ini masih muda, umurnya masih sekitar 26-27 tahun dengan badan yang tinggi besar dan cukup tampan dengan kumisnya yang tebal. Pak Yanto adalah nama boss baruku itu, beliau sudah berkeluarga dengan dua anak ; seorang  putri dan seorang putra.

Pak Yanto ternyata membawa gaya kepemimpinan yang sama sekali berbeda dan membawa moderenisasi dalam bekerja.  Karyawan-karyawan yang asalnya terbiasa dengan kerja individual sekarang dipaksa kerja secara kolektif dalam suatu team work.  Semua karyawan tanpa kecuali harus melek teknologi dan untuk itu boss baru tidak segan-segan turun sendiri mengajari.  Sebagai sekretaris akupun banyak belajar dari beliau tetang berbagai hal dan karena aku adalah karyawan yang paling sering berinteraksi dengan beliau tentunya aku punya paling banyak kesempatan untuk belajar .

Pelahan-lahan mulai muncul rasa kagumku pada pak Yanto dan mulai mengidamkan mendapatkan jodoh seperti beliau atau mendekati kemampuan beliau.  Berbeda dengan karyawan pria lain yang suka memandang rendah bahkan melecehkan sesama karyawan wanita, pak Yanto sangat santun kepada wanita baik itu karyawannya maupun bukan.  Hal ini membuat muncul rasa sayangku pada pak Yanto karena aku merasa bisa berlindung kepada beliau.

Kombinasi rasa hormat, kagum dan sayang membuat aku merasa  selalu ingin dekat dengan beliau, sehingga saat kami sedang berdua aku kadang-kadang bersikap agak manja dan kelihatannya beliau tidak keberatan.  Lambat laun aku mulai melihat bahwa pak Yanto pun mulai merasa nyaman kalau dekat dengan aku.   Walaupun demikian kesempatan kami bisa berdua hanya saat berada di kantor saja sehingga semua urusan adalah berkaitan dengan pekerjaan dan pak Yanto tidak pernah mencoba mengajakku keluar berdua selain karena urusan kantor.

Hingga pada suatu waktu kantor Bandung harus bertindak sebagai tuan rumah pelatihan produk baru dari perusahaan dan pada akhir acara semua peserta ingin berwisata ke Ciater Subang. Walaupun aku bukan peserta training, tapi sebagai wakil panitia aku harus menemani mereka berwisata ke sana.  Seperti yang aku khawatirkan sebelumnya, sebagai wanita satu-satunya dimana peserta lainnya adalah pria, aku menjadi bulan-bulanan yang cenderung melecehkan.

Untung saja pak Yanto segera melihatnya sehingga bisa menarikku dan mengajakku pulang lebih awal karena teman-teman kantor Bandung yang lain pun tidak bisa diandalkan untuk melindungi aku.  Akhirnya aku pulang berduaan saja dengan pak Yanto dan pada kesempatan sepanjang perjalanan kembali ke Bandung kami manfaatkan untuk mengobrolkan hal-hal diluar perkerjaan bahkan ke hal-hal yang agak pribadi.

“Udah hampir sampai Bandung nih …” kata pak Yanto “Enaknya ke mana dulu ya ?”

“Lho … kenapa ga langsung pulang ? ” Kataku keheranan “Bukankah bapak biasa ada acara bersama keluarga kalau malam minggu seperti sekarang ?”

“Saya sudah tanggung nih ijin pulang malam ke istriku untuk nemenin orang-orang tadi” jelas pak Yanto

“Kalau begitu terserah bapa saja deh …” kataku dengan perasaan campur aduk antara senang bisa bersama beliau di malam minggu dengan rasa takut bepergian dengan suami orang.

“Okay … Jadi malam ini kita akan malam mingguan berdua  ya ” Sahut beliau sambil tersenyum.

Thya : Keperawananku Adalah Hadiah Ulang Tahun Buat Bossku

Posted on July 5, 2011

“Pak nanti kalau ulang tahun di Taipei mau diberi hadiah apa ?” Tiba-tiba aku bertanya pada bosku di tengah-tengah obrolan selama perjalanan dari Jakarta ke Taipei yang memakan waktu hampir 5 jam.  Saat itu aku sedang menemani bosku melakukan kunjungan rutin ke supplier perusahaan kami di Taiwan sekaligus mengunjungi pameran di sana selama kurang lebih satu minggu.

Namaku Thya, aku adalah General Manager Administration, Logistik & Purchasing di perusahaanku sehingga aku yang akan menemani boss apabila melakukan pertemuan dengan supplier-supplier perusahaan.  Aku orang menado yang sudah lama tinggal di Bandung,  berbadan mungil dengan kulit yang putih bersih serta rambut pendek.  Saat itu walaupun umurku sudah 28 tahun tapi aku belum menikah dan masih perawan walaupun sudah punya pacar.

“Memangnya laki-laki umur 37 tahun masih butuh kado kalau ulang tahun ?” Jawab pak Yanto dengan tersenyum.  Pak Yanto adalah nama bossku, selain sebagai pimpinan perusahaan dia juga merupakan pemilik perusahaan yang dia bangun sendiri dari nol.  Secara fisik, pak Yanto sangat kontras denganku; badannya tinggi besar dengan kulit sawo matang ditambah dengan bulu-bulu yang lebat yang mebuat pak Yanto terlihat macho bagiku.  Oh ya, bossku ini sudah menikah dengan dua anak yang sudah besar dan aku kenal cukup dekat dengan keluarganya karena diperusahaan kami sering diadakan family gathering paling sedikit setahun sekali.

Selama ini hubungan kami hanya sebatas professional, walaupun kuakui aku punya rasa simpati dan kagum yang sangat besar kepada pak Yanto karena aku mengikuti beliau sejak perusahaannya bukan apa-apa sampai menjadi perusahaan yang disegani.

“Biasanya kalau orang dikasih kan mau saja pak” Kataku dengan muka yang dipasang seserius mungkin.

“Kalau begitu saya hanya bakal menerima hadiah dari kamu saja Thya, wong pas saya ulang tahun kita masih di Taiwan” balas pak Yanto sambil tertawa “Nah … kamu emangnya bisa kasih apa ?”

“Orang Manado itu katanya terkenal karena bubur dan bibirnya” Jawabku dengan bercanda seperti biasa “ … dan karena kita sedang berada di Taiwan, saya tidak mungkin bisa membuatkan bubur untuk bapak jadi tinggal bibir Manadonya saja yang memang selalu ada bersama saya”.

Kata-kata itu terlepas begitu saja tanpa sempat aku pikirkan dulu akibatnya, malah yang sempat aku khawatirkan adalah apabila candaku itu membuat marah pak Yanto.  Hal ini yang membuatku jadi salah tingkah sendiri dan pura-pura melihat-lihat majalah penerbangan yang ada di hadapanku.

“Wah menarik nih …” kata pak Yanto dengan suara serius seperti kalau mendapat ide bisnis baru “Artinya kamu mau kasih hadiah ciuman bibir Manado kan di hari ulang tahun saya ?”

Husband Watch Therapy

Posted on April 18, 2011

Namaku Roy umur 32th, nama istriku Sisca umur 25th. Istriku mempunyai bentuk tubuh yang sangat proporsional, dari tinggi badan 165cm dan ukuran payudaranya benar-benar sangat serasi. Ditunjang dengan kulit putihnya yang lembut, serta rambut lurus panjang sebahu dengan kilau hitamnya. Sehabis melahirkan anak pertama, body istriku terlihat agak melar. Waktu itu ada keinginanku untuk mengajaknya ke salah satu salon perawatan tubuh guna mengembalikan keindahan tubuhnya seperti semula. Namun istriku menyarankan nanti aja kalo sesudah anak kami umur 1 tahun, dimana istriku sudah tidak menyusui lagi. Satu tahun berlalu sesuai dengan yang aku janjikan akhirnya kami menuju salah satu salon tempat perawatan tubuh. Disitu saya baca fasilitasnya sangat lengkap, mulai dari massage sampe luluran dan spa pun tersedia. Selain itu juga didukung oleh para ahli yang saya liat semuanya wanita. Kira-kira 1minggu 3x saya mengajak istriku Sisca kesalon tersebut, selama kurang lebih 2 bulan. Hingga para pegawai disalon tersebut sampai hafal dan mengenal kami. Sampai pada akhirnya istriku menjadi pelanggan salon tersebut. Kadang-kadang 1 minggu sekali, aku ajak dia kesana sekedar untuk relaksasi, kalo tidak 2 minggu sekali. Pada awal bulan memang saya tidak diperkenankan masuk untuk melihat proses perawatan tubuh pada istriku, karena aku laki-laki dan salon tersebut memang diperuntukan bagi wanita. Akhirnya mereka menawarkan kepada saya sebagai pelanggan tetap, bahwa di salon tersebut juga ada sebuah penginapan yang letaknya di bagian dalam salon tersebut. Penginapan itu berupa kamar-kamar untuk pelanggan, dimana terjaga privasinya. Dengan fasilitas AC, jacuzi, kamar mandi uap dan tidak lupa springbed yang nyaman, dengan tujuan bagi wanita yang sudah beristri, sang suami bisa ikut menemani di dalam tanpa mengganggu pelanggan salon yang lain khususnya wanita. Dengan adanya penawaran seperti itu tentu saya ambil.
Selesai reservasi kami diantar ke sebuah kamar yang telah saya pesan di depan. Kami dipersilahkan masuk dan menunggu dipanggilkan ahlinya perawatan tubuh. Tidak terlalu lama pintu kamar diketok seseorang. Ternyata datang juga orang yang kita tunggu. Seorang wanita namanya Nita, kulitnya putih bersih, cantik dan cukup sexy juga menurutku. Ternyata selama ini Nita lah yang sering menangani perawatan tubuh istriku. Waktu aku panggil mbak dia malu katanya umurnya masih muda dari saya, akhirnya untuk lebih akrab aku panggil Nita aja.

“Mbak Sisca ada keluhan apa? Atau mau sekedar relaksasi saja?” tanya Nita.
“Yach sekedar relaksasi aja Nit, dah lumayan lama ndak kesini” jawab istriku.
Lalu Nita mengusulkan kepada istriku kalo massage ringan disertai luluran keseluruh tubuh. Sebelumnya Nita mempersilahkanku duduk disofa di dalam kamar tersebut, sambil menyarankan sebuah minuman semacam jamu kepadaku. Yang katanya bisa menambah stamina dan menghilangkan lelah di tubuh, sambil menunggu istriku. Datang juga akhirnya minuman tersebut agak hangat dan rasanya ternyata manis, saya pikir pahit karena jamu. Nita menyalakan sebuah alat berupa aroma terapi untuk menambah suasana yang nyaman dan rilex. Kemudian istriku disuruh melepaskan semua pakaiannya, karena yang pertama adalah luluran keseluruh tubuh. Setelah tubuh istriku Sisca telanjang total serta merta istriku berbaring diatas kasur memunggungi Nita. Mulailah Nita melumuri punggung hingga kekaki istriku dengan ramuan lulur yang aku sendiri kurang paham. Sambil jari jemari kedua tangannya memijat istriku mulai dari leher, bahu, punggung pantat dan sampe ke kaki. Setelah agak lumayan lama, Nita menyuruh istriku berbalik menghadap ke depan, terlihat bukit payudara istriku yang dulu sehabis menyusui terlihat kendor dengan warna puting agak kehitam-hitaman, sekarang sudah kencang dan warna putingnya terlihat merah muda menggemaskan. Dilulurinya seluruh badan istriku oleh Nita dari atas sampai bawah tak luput payudara dan vaginanya. Mulai pemijatan ringan dari leher turun ke dada, sampe payudara dan puting istriku tak luput dari pijatannya. Kulihat istriku merasa nikmat dan terdengar sedikit desahan kecil tanda kenikmatan tersebut.
“Gimana mbak Sisca, enak yaaa?” tanya Nita.
“Iya Nit, pijatanmu bener-bener bikin relax dan nikmat dirasakan.” jawab istriku.
Dengar hal seperti itu dimana kondisinya yang sangat nyaman dan rilex sepertinya pikiranku cuek aja, aahhh itu khan proses umum dalam terapi pikirku. Nita melanjutkan pijatannya sampe ke bawah dan sekarang tidak hanya memijat paha dan kaki istriku saja tetapi jari-jemari Nita yang lentik memainkan bibir vagina dan klitoris istriku. Digosok-gosok dan dielus dengan lembut membuat klitoris istriku makin menonjol dan keliatan sebesar biji kacang tanah. Sebelumnya memang sejak melahirkan istriku Sisca selalu mencukur rambut di sekitar vaginanya biar nampak bersih. Desahan demi desahan terdengar lirih tapi pasti, nafsu birahi istriku perlahan mulai meninggi. Hebat juga pikirku si Nita ini bener ahli dalam merangsang sesama wanita. Ya memang dalam pandangan istriku sebelumnya merasa jijik melihat hubungan sex antar wanita atau lesbian. Tapi anehnya diperlakukan oleh Nita seperti itu, koq diem aja yaaa?

“Mbak Sisca, apa boleh vagina dalamnya saya beri lulur supaya bersih?” tanya Nita.
“Boleh aja ndak apa-apa kok Nit” jawab istriku terbata-bata oleh kenimatan.
“Mas ngijinin khan, kalo vagina mbak Sisca juga saya bersihkan, supaya kalo berhubungan lebih nikmat mas” kata Nita kepadaku sambil merayu dan minta ijin dahulu.
Jawabku “boleh aja kok”, khan juga suatu proses terapi pikirku.
Aneh juga pikiranku bisa seperti itu, selain itu aku juga terangsang melihat perlakuan Nita kepada istriku. Mungkin karena minuman tadi atau aroma terapi yang bener-bener membuatku rilex dan bersikap cuex. Setelah mendapat ijin, Nitai melanjutkan niatnya. Saya liat jari telunjuk Nita mulai keluar masuk vagina istriku. Pelan-pelan dengan gerakan yang lembut, sedang ibu jari Nita menggosok-gosok klitoris istriku. Tidak terlalu lama dan keliatannya Sisca juga belum orgasme, Nita menyudahi permainannya. Nita mengatakan kepadaku bahwa ini bagian dari ritual rilexsasi katanya, jadi tidak perlu sampe orgasme. Terlihat di raut muka istriku akan ketidakpuasannya. Selesai hal tersebut, Nita meminta istriku mandi untuk membersihkan badan. Tadinya istriku ogah-ogahan beranjak dari tempat tidur, mungkin aja karena tidak puas. Tapi Nita berkata katanya ini baru sebagian saja dan nanti akan ada yang lebih hebat. Mau juga istriku mandi di jacuzi dengan air hangat hingga bersih. Selesai mandi dan mengeringkan badannya dengan handuk, istriku duduk di sofa di sampingku sambil berbalut handuk saja. Nita sedikit ngobrol-ngobrol dan katanya,

“apa mau dilanjutkan atau istirahat dahulu?”
Belum sempat aku jawab ehh istriku udah nggak sabar ngomong duluan, katanya “ok aja selagi seger badannya.”
“Apa ndak sebaiknya mbak Sisca minta pendapat dan ijin dari mas Roy sebagai suami?” pinta Nita kepada istriku.
“Gimana mas boleh ndak tawaran Nita tadi?” pinta istriku.
“Boleh-boleh aja khan memang sudah seharusnya” jawabku. Karena dalam pikiranku memang seperti itu prosesnya.

Nita

Kemudian aku menanyakan pada Nita, “sebetulnya proses selanjutnya seperti apa?”
Nita menerangkan “untuk selanjutnya pijatan-pijatan yang ringan dan kalo mau juga bisa sampai kepuasan kenikmatan yang dalam, itupun kalo mas Roy mengijinkan”, terang Nita kepadaku.
“Bukannya aku tadi sudah memperbolehkan” jawabku.
“Iya mas, tapi nanti ada satu syarat bila mas Roy bener-bener menyetujui” kata Nita. “Kira-kira seperti apa syarat tersebut?” tanyaku.

Filed under: Umum Continue reading

Selingkuh Lagi

Posted on February 12, 2011

Aku tinggal di kompleks perumahan BTN di Jakarta. Suamiku termasuk orang yang selalu sibuk. Sebagai arsitek swasta, tugasnya boleh dibilang tidak kenal waktu. Walaupun dia sangat mencintaiku, bahkan mungkin memujaku, aku sering kesepian. Aku sering sendirian dan banyak melamun membayangkan betapa hangatnya dalam sepi itu Mas Adit, begitu nama suamiku, ngeloni aku. Saat-saat seperti itu membuat libidoku naik. Dan apabila aku nggak mampu menahan gairah seksualku, aku ambil buah ketimun yang selalu tersedia di dapur. Aku melakukan masturbasi membayangkan dientot oleh seorang lelaki, yang tidak selalu suamiku sendiri, hingga meraih kepuasan.

Yang sering hadir dalam khayalan seksualku justru Pak Parno, Pak RT di kompleks itu. Walaupun usianya sudah di atas 55 tahun, 20 tahun di atas suamiku dan 27 tahun di atas umurku, kalau membayangkan Pak Parno ini, aku bisa cepat meraih orgasmeku. Bahkan saat-saat aku bersebadan dengan Mas Aditpun, tidak jarang khayalan seksku membayangkan seakan Pak Parnolah yang sedang menggeluti aku. Aku nggak tahu kenapa. Tetapi memang aku akui, selama ini aku selalu membayangkan kemaluan lelaki yang gedee banget. Nafsuku langsung melonjak kalau khayalanku nyampai ke sana. Dari tampilan tubuhnya yang tetap kekar dan kokoh walaupun tua, aku bayangkan kontol Pak Parno juga kekar dan kokoh. Gede, panjang dan pasti tegar dilingkari dengan urat-urat di sekeliling batangnya. Ooohh.., betapa nikmatnya dientot kontol macam itu ..

Di kompleks itu, di antara ibu-ibu atau istri-istri, aku merasa akulah yang paling cantik. Dengan usiaku yang 28 tahun, tinggi 158 cm dan berat 46 kg, orang-orang bilang tubuhku sintal banget. Mereka bilang aku seperti Sarah Ashari, selebrity cantik yang binal adik dari Ayu Ashari bintang sinetron. Apalagi kalau aku sedang memakai celana jeans dengan blus tipis yang membuat buah dadaku yang cukup besar membayang. Hatiku selangit mendengar pujian mereka ini..

Pada suatu ketika, tetangga kami punya hajatan, menyunatkan anaknya. Biasa, kalau ada tetangga yang punya kerepotan, kami se-RT rame-rame membantu. Apa saja, ada yang di dapur, ada yang ngurus pelaminan, ada yang bikin hiasan atau menata makanan dan sebagainya. Aku biasanya selalu kebagian bikin pelaminan. Mereka tahu aku cukup berbakat seni untuk membuat dekorasi pelaminan itu. Mereka selalu puas dengan hasil karyaku.

Aku menggunakan bahan-bahan dekorasi yang biasanya aku beli di Pasar Senen. Pagi itu ada beberapa bahan yang aku butuhkan belum tersedia. Di tengah banyak orang yang pada sibuk macam-macam itu, aku bilang pada Mbak Surti, yang punya hajatan, untuk membeli kekurangan itu.

‘Kebetulan Bu Mar, tuh Pak Parno mau ke Senen, mbonceng saja sama dia’, Bu Kasno nyampaikan padaku sambil nunjuk Pak Parno yang nampak paling sibuk di antara bapak-bapak yang lain.
‘Emangnya Pak Parno mau cari apaan?, aku nanya.
‘Inii, mau ke tukang tenda, milih bentuk tenda yang mau dipasang nanti sore. Sama sekalian sound systemnya’, Pak Parno yang terus sibuk menjawab tanpa menengok padaku.
‘Iyaa deh, aku pulang bentar ya Pak Parno, biar aku titip kunci rumah buat Mas Adit kalau pulang nanti’. Segalanya berjalan seperti air mengalir tanpa menjadikan perhatian pada orang-orang sibuk yang hadir disitu.

Sekitar 10 menit kemudian, dengan celana jeans dan blus kesukaanku, aku sudah duduk di bangku depan, mendampingi Pak Parno yang nyopirin Kijangnya. Udara AC di mobil Pak Parno nyaman banget sesudah sepagi itu diterpa panasnya udara Jakarta. Pelan-pelan terdengar alunan dangdut dari radio Mara yang terdapat di mobil itu.

Saat itu aku jadi ingat kebiasaanku mengkhayal. Dan sekarang ini aku berada dalam mobil hanya berdua dengan Pak Parno yang sering hadir sebagai obyek khayalanku dalam hubungan seksual. Tak bisa kutahan, mataku melirik ke arah selangkangan di bawah kemudi mobilnya. Dia pakai celana drill coklat muda. Aku lihat di arah pandanganku itu nampak menggunung. Aku nggak tahu apakah hal itu biasa. Tetapi khayalanku membayangkan itu mungkin kontolnya yang gede dan panjang.

Saat aku menelan ludahku membayangkan apa di balik celana itu, tiba-tiba tangan Pak Parno nyelonong menepuk pahaku. ‘Dik Marini mau beli apaan? Di Senen sebelah mana?’, sambil dia sertai pertanyaan ini dengan nada ke-bapak-an.
Dan aku bener-bener kaget lho. Aku nggak pernah membayangkan Pak RT ini kalau ngomong sambil meraba yang di ajak ngomong.
‘Kertas emas dan hiasan dinding, Pak. Di sebelah toko mainan di pasar inpress ituu..’, walaupun jantungku langsung berdegup kencang dan nafasku terasa sesak memburu, aku masih berusaha se-akan-akan tangan Pak Parno di pahaku ini bukan hal yang aneh.
Tetapi rupanya Pak Parno nggak berniat mengangkat lagi tangannya dari pahaku, bahkan ketika dia jawab balik, ‘Ooo, yyaa.. aku tahu ..’, tangannya kembali menepuk-nepuk dan digosok-gosokkanya pada pahaku seakan sentuhan bapak yang melindungi anaknya.

Ooouuiihh.. aku merasakan kegelian yang sangat, aku merasakan desakan erotik, mengingat dia selalu menjadi obyek khayalan seksualku. Dan saat Pak Parno merabakan tangannya lebih ke atas menuju pangkal pahaku, reaksi spontanku adalah menurunkan kembali ke bawah. Dia ulangi lagi, dan aku kembali menurunkan. Dia ulangi lagi dan aku kembali menurunkan. Anehnya aku hanya menurunkan, bukan menepisnya. Yang aku rasakan adalah aku ingin tangan itu memang tidak diangkat dari pahaku. Hanya aku masih belum siap untuk lebih jauh. Nafasku yang langsung tersengal dan jantungku yang berdegap-degup kencang belum siap menghadapi kemungkinan yang lebih menjurus.

Pak Parno mengalah. Tetapi bukan mengalah bener-bener. Dia tidak lagi memaksakan tangannya untuk menggapai ke pangkal pahaku, tetapi dia rubah. Tangan itu kini meremasi pahaku. Gelombang nikmat erotik langsung menyergap aku. Aku mendesah tertahan. Aku lemes, tak punya daya apa-apa kecuali membiarkan tangan Pak Parno meremas pahaku. ‘Dik Maarr..’, dia berbisik sambil menengok ke aku.

Tiba-tiba di depan melintas bajaj, memotong jalan. Pak Parno sedikit kaget. Otomatis tangannya melepas pahaku, meraih presnelling dan melepas injakan gas. Kijang ini seperti terangguk. Sedikit badanku terdorong ke depan. Selepas itu tangan Pak Parno dikonsentrasikan pada kemudi. Jalanan ke arah Senen yang macet membuat sopir harus sering memindah presnelling, mengerem, menginjak gas dan mengatur kemudi. Aku senderkan tubuhku ke jok. Aku nggak banyak ngomong. Aku kepingin tangan Pak Parno itu kembali ke pahaku. Kembali meremasi. Dan seandainya tangan itu merangkak ke pangkal pahaku akan kubiarkan. Aku menjadi penuh disesaki dengan birahi. Mataku kututup untuk bisa lebih menikmati apa yang barusan terjadi dan membiarkan pikiranku mengkhayal.

Benar. Sesudah jalanan agak lancar, tangan Pak Parno kembali ke pahaku. Aku benar-benar mendiamkannya. Aku merasakan kenikmatan jantungku yang terpacu dan nafasku yang menyesak dipenuhi rangsangan birahi. Langsung tangan Pak Parno meremasi pahaku. Dan juga naik-naik ke pangkal pahaku. Tanganku menahan tangannya. Eeeii malahan ditangkapnya dan diremasinya. Dan aku pasrah. Aku merespon remasannya. Rasanya nikmat untuk menyerah pada kemauan Pak Parno. Aku hanya menutup mata dengan tetap bersender di jok sambil remasan di tangan terus berlangsung.

Sekali aku nyeletuk,
‘N’tar dilihat orang Pak’,
‘Ah, nggaakk mungkin, kacanya khan gelap. Orang nggak bisa melihat ke dalam’, aku percaya dia.
Sesudah beberapa saat rupanya desakan birahi pada Pak Parno juga menggelora,
‘Dik Mar.. kita jalan-jalan dulu mau nggak?’, dia berbisik ..
‘Kemana..?’, pertanyaanku yang aku sertai harapan hatiku ..
‘Ada deh.. Pokoknya Dik Mar mau khan..’.
‘Terserah Pak Parno.., Tapinya n’tar ditungguin orang-orang .., n’tar orang-orang curiga .. lho’.
‘Iyaa, jangan khawatirr.., paling lama sejamlah.’, sambil Pak Parno mengarahkan kemudinya ke tepi kanan mencari belokan ke arah balik. Aku nggak mau bertanya, mau ngapain ‘sejam’??

Persis di bawah jembatan penyeberangan dekat daerah Galur, Pak Parno membalikkan mobilnya kembali menuju arah Cempaka Putih. Ah.. Pak Parno ini pasti sudah biasa begini. Mungkin sama ibu-ibu atau istri-istri lainnya. Aku tetap bersandar di jok sambil menutup mataku pura-pura tiduran. Dengan penuh gelora dan deg-degan jantungku, aku menghadapi kenyataan bahwa beberapa saat lagi, mungkin hanya dalam hitungan menit, akan mengalami saat-saat yang sangat menggetarkan. Saat-saat seperti yang sering aku khayalkan. Aku nggak bisa lagi berpikir jernih. Edan juga aku ini.., apa kekurangan Mas Adit, kenapa demikian mudah aku menerima ajakan Pak Parno ini. Bahkan sebelumnya khan belum pernah sekalipun selama 8 tahun pernikahan aku disentuh apalagi digauli lelaki lain.

Yang aku rasakan sekarang ini hanyalah aku merasa aman dekat Pak Parno. Pasti dia akan menjagaku, melindungiku. Pasti dia akan mengahadpi aku dengan halus dan lembut. Bagaimanapun dia adalah Pak RT kami yang selama ini selalu mengayomi warganya. Pasti dia nggak akan merusak citranya dengan perbuatan yang membuat aku sakit atau terluka. Dan rasanya aku ingin banget bisa melayani dia yang selama ini selalu jadi obyek khayalan seksualku. Biarlah dia bertindak sesuatu padaku sepuasnya. Dan juga aku ingin merasakan bagaimana dia memuaskan aku pula sesuai khayalanku.
Agu gemetar hebat. Tangan-tanganku gemetar. Lututku gemetar. Kepalaku terasa panas. Darah yang naik ke kekepalaku membuat seakan wajahku bengap. Dan semakin kesana, semakin aku nggak bisa mencabut persetujuanku atas ajakan ‘jalan-jalan dulu’ Pak Parno ini.

Page optimized by WP Minify WordPress Plugin