Sales Girl
Pagi ini aku duduk di depan rumah ketika tiba-tiba lewat di depanku Siska, seorang cewek yang bekerja sebagai penjual kosmetik di sebuah supermarket. Ia tersenyum manis melihatku, aku hanya bisa mengangguk saja ketika ia menyapaku. Padahal sebenarnya aku sangat tertarik sekali kepadanya. Siska benar-benar cewek yang seksi sekali, badannya tidak terlalu tinggi, tetapi kulitnya putih dan montok. Keberaniannya untuk memakai rok mini membuatku selalu ingin mengetahui apa yang ada di balik roknya yang sangat minim itu. Namun semuanya hanya menjadi lamunanku saja, karena selama ini kami hanya bertegur sapa di jalan saja. Namun saat ini, ketika isteriku tidak di rumah dan keadaan benar-benar sepi, keberanianku mendadak muncul.
Memijiti Mama
"Mah, kemana saja sih kok sudah sebulan ini baru datang?", tanyaku sengit ketika Mama ku datang mengunjungiku di Bandung.
"Mama sudah dapat pacar baru ya? sampe enggak sempet datang? Pokoknya aku enggak mau kalo Mama dapat Papa baru".
Mama ku terlihat kaget ketika aku marah, padahal beliau baru saja datang dari Jakarta hari jumat sore itu. Tetapi ketika kepalaku di elus-elusnya dan mama mengatakan minta maaf karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan sekaligus juga mengatakan kalau mama tetap sayang denganku, perasaan marahku pun jadi luluh.
"Masak sih Mas (namaku sebenarnya Pur tetapi mama selalu memangggilku Mas sejak aku masih kecil), kamu enggak percaya sama mama? Mama terlalu sayang padamu, jadi kamu jangan curiga kalau mama pacaran lagi", katanya terisak sambil menciumi pipiku dan akhirnya kami berpelukan.
Setelah makan malam, lalu kami berdua ngobrol di ruang tamu sambil melihat acara TV.
"Mas, rambutmu itu sudah mulai banyak lagi yang putih... sini mama cabutin", kata mama yang biasanya selalu mencabuti ubanku bila datang ke Bandung. Segera saja aku bergegas ke kamar untuk mengambil cabutan rambut lalu duduk menghadap kearah TV di lantai sambil sandaran di sofa yang diduduki mama.
Terus terang, aku paling senang kalau mama sudah mulai mencabuti ubanku, soalnya bisa sampai ngantuk.
"Banyak betul sih Mas ubanmu ini?", komentar mama sambil mulai mencabuti ubanku.
"Habis sih... Mama sudah lama enggak kesini... cuman ngurusin kerjaan melulu."
"Ya sudah, sekarang deh mama cabutin ubanmu sampai habis."
Kami lalu diam tanpa berkata kata.
"Mas""ngomong2 kamu sudah punya pacar apa belum?", tanya mama tiba2, sambil masih tetap mencabuti ubanku di kepala bagian belakang.
"Belum kok Ma"..masih dalam penjajakan", sahutku.
"Tuh... kan. Kamu ngelarang mama cari pacar, tapi kamu sendiri malah mau pacaran.", sahut mama dengan nada agak kesal.
"Pokoknya, mama enggak mau lho kalau kamu mulai pacaran, apalagi masih sekolah bisa2 pelajaranmu jadi ketinggalan dan berarti kamu juga sudah enggak sayang lagi sama mama", tambahnya.
"Enggak kok Ma, aku masih sayang kok sama mama."
Imajinasi Istriku
Aku dan istriku, Risnawati yang biasa kupanggil dengan Ris, sudah menikah kira-kira 4 tahun. Istriku saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga, meskipun sempat kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri. Sedikit gambaran fisik tentang istriku, Ris pada saat ini berumur 29 tahun, berkulit putih, berambut ikal sepunggung, dengan payudara yang cukup besar (34B) berbentuk bagus sekal, tinggi 155 cm, berat 50 kg, dengan perut rata dan pinggang kecil namun sintal. Pinggulnya serasi dengan bentuk badannya dan kedua bongkahan pantatnya sekali. Secara umum, dia cukup seksi.
Telah lama kami mempunyai fantasi untuk melakukan aktifitas seks three some. Biasanya, sebelum melakukan Making Love, kami mengawalinya dengan saling menceritakan fantasinya masing-masing. Fantasi yang paling merangsang bagi kami berdua, adalah membayangkan Ris melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain dengan kehadiranku. Sekedar informasi, Ris memang mempunyai gairah seks yang sangat tinggi, sementara di sisi lain, aku biasanya cuma sanggup ejakulasi satu kali. Setelah ejakulasi, meskipun sekitar satu jam kemudian penisku bisa ereksi lagi, umumnya aku merasa lelah dan tidak bergairah, mungkin akibat beban pekerjaan yang cukup berat. Karenanya, biasanya ketika dia minta agar bisa mencapai orgasme berikutnya, paling banter aku melakukannya dengan tangan, atau membantunya bermasturbasi dengan dildo. Walaupun demikian selama ini dia bisa merasa puas dengan cara tsb.
Adikku, Suami Keduaku
Berikut akan saya kisahkan cerita nyata dari salah satu kawan lama saya waktu kuliah dulu di Universitas cukup ternama di Bandung. Cerita tentang cinta dan sayang seorang kakak terhadap adik. Sengaja saya gunakan nama lain sesuai dengan keinginan yang bersangkutan. Untuk kawanku, silakan nikmati cerita tentang kamu ini. Aku penuhi janji aku dulu..
Tini, korban Cumshot party
Tini, seorang ibu muda keturunan Tionghoa berusia 34 tahun berperawakan sedang yang lumayan cantik, suatu siang sedang berjalan-jalan di sebuah mall dekat rumahnya untuk berbelanja keperluan sehari-hari dirumahnya.
Ketika ia melewati jalan berlorong menuju toilet, tiba-tiba seorang pria berperawakan sedang menyapanya secara sopan, dan langsung saja secara tidak sadar Tini terhipnotis oleh pria tersebut, dan dengan mudahnya pria tersebut bersama seorang temannya mengajak Tini menuju ketempat parkir dan menaikkan Tini kedalam mobil pria tersebut.
Lima menit setelah mobil berjalan, barulah Tini sadar bahwa ia terhipnotis dan berusaha untuk berontak dan keluar dari mobil. Tapi apa daya kalau dirinya diapit oleh dua orang pria dikanan kirinya, sementara dua orang lagi duduk didepan. Tini diancam untuk tidak macam-macam serta menuruti saja kemauan mereka jika ingin selamat. Mereka tidak banyak berkata-kata didalam mobil, sementara Tini hanya bisa pasrah dengan tangan dan kaki yang terikat, mata yang ditutup dengan sapu tangan serta mulut yang disumpal segumpal kain handuk.

Paras Ayu