Cerita Dewasa Kumpulan cerita-cerita khusus untuk 17 tahun ke atas

Elly: Terjebak Hadiah

Posted on November 28, 2007

Namaku Elly. Usiaku kini 23 tahun. Aku sudah menikah dengan Albert yang kini berusia 25 tahun, dan kini aku adalah seorang ibu muda, dengan seorang anak yang baru berusia 6 bulan yang kami beri nama Michael. Sejak pacaran dan menikah sampai sekarang ini, suamiku sering berpergian ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Aku sendiri adalah wanita yang mendapat karunia wajah yang cantik, itu menurut teman temanku. Aku memiliki rambut yang lurus dan panjang sampai sebahu. Tubuhku sudah kembali ramping dan indah seperti pujian suamiku, meskipun aku baru melahirkan setengah tahun yang lalu. Mungkin hal itu karena aku rajin mengikuti senam aerobik, dan memang aku menjaga pola makan supaya badanku tak semakin melar, dan aku sedikit banyak bangga karenanya.

Aku sendiri tidak bekerja di luar, karena suamiku memiliki penghasilan yang lebih dari cukup. Dan memang suamiku ingin aku menjadi ibu rumah tangga yang baik saja, dengan tinggal di rumah untuk merawat anak kami dengan baik. Kehidupan seks kami juga luar biasa. Suamiku adalah lelaki perkasa di tempat tidur, dan aku sungguh menikmati kehidupanku ini. Kini kalau suamiku tak ada di rumah, aku hanya tinggal dengan anakku, juga pembantu kami yang kupanggil bi Iyem, satpam kami yang bernama Adrian, tukang kebun kami yang bernama pak Jono, dan juga sopir kami yang bernama Sarman. Di usiaku yang sekarang ini, nafsu seksku tentu sedang tinggi tingginya. Ditinggal oleh suamiku bekerja seperti ini, kadang aku amat merindukan bermain cinta dengannya. Demikian sekilas tentang keadaanku dan keluargaku.

Hari itu hari Sabtu. Siang hari itu, aku menerima telepon dan aku terkejut dengan berita yang aneh. Aku mendapatkan hadiah sebuah mobil lewat undian sebuah produk. Dan seingatku, aku tak pernah mengikuti prosedur undian itu.

Dengan santai aku berkata, “Pak, terserah bapak mau bicara apa, tapi saya tak akan pernah mentransfer uang apapun untuk pajak atau yang lain”.

Dan orang itu berkata panjang lebar, “Ibu Elly, kami memaklumi kalau ibu berhati hati, memang kami tak menyuruh ibu membayar apapun, karena pajak hadiah ditanggung oleh kami. Kami akan mengantarkan hadiah itu langsung ke rumah ibu sekitar satu jam lagi. Gratis bu, tak dipungut biaya apapun. Ibu boleh mencobanya, kalau ternyata mobilnya bermasalah kami langsung mengganti dengan yang baru. Tapi itu tidak akan terjadi bu, karena kami sudah melakukan More...pemeriksaan terhadap mobil ini”.

Mendengar hal ini, aku hanya bisa mengangkat bahu dan berkata, “Ya terserah bapak. Maaf, dengan bapak siapa saya bicara?”.

Kencan dengan Teman Pacarku dan Pacar dari Temanku

Posted on November 28, 2007

Nama gwe Tommy umur gwe skarang 21 tahun.. ya mungkin masih masih muda ya. awalnya waktu gwe masih duduk di bangku SMA.. ya gwe waktu SMA lumayan di pandanglah karna gwe dari kalangan orang berada (punya uang) dan juga tampang yang gak jelek2 banget. gwe di sekolah punya banyak temen dan seseorang bernama Reza. Reza temen dekat gwe dari SMP. gwe punya pacar namanya Donna dan Donna punya teman bernama Lisa. Lisa adalah pacarnya reza. hubungan gwe ama Donna baik2 saja malah dibilang jarang bekelahi dan adu mulut. yang pasti romantis banget deh. Hungungan Reza dengan Lisa kebalikan dari hubungan gwe. mreka sering banget berantem karna Lisa dikenal dengan cwe yang cukup seksi, genit dan juga suka mempermainkan cwo. sebenarnya mrereka sering berkelahi karna Reza sering melarang Lisa untuk inilah.. itulah.. ya pokoknya banyaklah.. ya gwe tau itu karna Reza sayang ama Lisa dan Reza juga sadar Lisa harus meninggalkan kebiasaan lamanya karna dia skarang sudah milik Reza. walaupun mereka sering berantem sebenarnya Lisa juga sayang banget sama Reza. itu gwe bisa tau karna Lisa sering banget curhat ama gwe.. kalo Lisa lagi curhat dia biasanya cuma mau gwe doang yang dengerin dan dia gak mau ada orang lain.. jadi Lisa sering banget main kerumah gwe. saking seringnya Lisa curhat ama gwe Reza dan Donna gak curiga ama hubungan gwe ma Lisa.

hubungan gwe ama Lisa diawali waktu Reza berantem sehabis pulang skolah dengan Lisa.. saat itu jam istirahat gwe liat Reza ama Lisa berantem di kantin dan setelah itu Reza langsung bolos sekolah dengan alasan sakit ke guru piket agak bisa pulang. Biasanya kalo pulang sekolah Lisa, Donna dan Reza pulang sama gwe.. karna kebetulan gwe bawa mobil. Tp siang itu Reza gak sama2 ama gwe karna dia pulang duluan dan gwe gak tau dia kemana karna HP dia matiin. saat pulang, biasanya gwe anterin Lisa dulu baru Donna terakhir tp saat itu Lisa minta ijin ke Donna mau curhat ama gwe jadi dia mau Donna duluan yang di anterin pulang bari Lisa terakhir karna dia mau ngobrol ama gwe di mobil berdua aja. ya tanpa cemburu Donna kasih ijin ke gwe.

Filed under: Umum Continue reading

Bu Ita Mencari Pejantan

Posted on November 28, 2007

Namaku Rian, aku seorang pegawai swasta di bandung. Baru sebulan ini aku pindah kantor, alasannya klasik, soalnya kantor baruku ini memberi gaji yang jauh lebih tinggi dari kantorku yang lama. Sebenernya sih aku agak heran dengan kantor baruku ini, soalnya waktu wawancara dulu gaji yang aku ajukan tidak ditawar sama sekali, langsung setuju ! Emang sih aku agak nyesel kenapa gak nawarin yang lebih tinggi lagi, tapi aku sadar diri, untuk posisi yang aku tempati sekarang aja, gajiku tergolong sangat tinggi.

Hari itu hari jumat, setelah makan siang, HPku tiba-tiba berdering. Itu dari Bu Ita, manager keuangan yang dulu menyetujui gaji yang aku ajukan. Mengingat "jasanya" dia ke aku, tentu aja aku sangat menghormati dia.

"Halo bu, selamat siang" sapa saya menjawab telpon.

"Halo rian.." jawab dia riang sekali.

"Ada yang saya bisa saya bantu ?" tanya saya, basa-basi sih.

"Ah enggak cuma ngecek kamu aja. Dah makan siang ?" tanyanya ramah.

"Oh sudah bu, baru aja" jawabku.

"Gimana kerja disini, ada masalah ?" tanya bu ita lagi.

"Wah enggak bu, tapi memang saya baru mulai sih, baru membiasakan diri dengan keadaan kerja disini" jawab saya singkat.

"Gimana gajinya, dah cukup ?" tanyanya dengan suara menggoda.

"He..he..he.. maunya sih tambah lagi bu" jawab saya sambil tertawa.

"Hah.. segitu aja udah tinggi kan ?" balas bu ita sedikit kaget.

"Iya bu, becanda tadi.." jawabku singkat.

"Oh.. kirain." jawabnya. "Eh rian nanti sore sehabis kantor kamu ada kerjaan gak ?" tanya bu ita.

"Enggak kayaknya bu, ada apa emangnya" tanyaku sedikit heran.

"Hmm.. ada yang ingin saya bicarakan, agak pribadi sih, makanya saya ingin bicaraiinnya sehabis kantor aja nanti" jawab bu ita.

"OK bu, saya gak ada janji untuk sore sampe malem nanti" jawab saya.

"OK nanti aku tunggu di kafe xxx nanti sore" kata bu ita.

"OK bu" jawab saya.

"Ok kalo gitu, oh iya, golongan darah kamu apa ?" tanya bu ita sebelum mengakhiri pembicaraan.

"B" jawabku penuh kebingungan.

"Perfect ! OK deh aku tunggu nanti sore" kata bu ita lalu menutup telponnnya.

Sejenak aku terdiam penuh kebingungan, tapi aku kembali bekerja sebab pekerjaanku lumayan menumpuk.

Aku diperkosa dirumahku sendiri

Posted on November 28, 2007

Aku adalah wanita berumur 25 tahun, sekarang aku tinggal sendirian di rumahku yang terletak di salah satu komplek yang disebut sebagian orang sebagai komplek orang berduit di wilayah Jakarta. Aku adalah janda tanpa anak, suamiku telah meninggal enam bulan yang lalu karena kecelakaan. Saat itu usia perkimpoian kami baru menginjak tahun kedua. Rumah yang kutempati ini adalah hadiah perkimpoian untukku, suamiku membeli rumah ini atas namaku. “Sebagai bukti ketulusan sayangku padamu” katanya.

Rumah-rumah di komplekku terbilang saling berjauhan karena masing-masing rumah memiliki pekarangan yang luas. Hidup di Jakarta menyebabkan aku juga tidak begitu mengenal tetanggaku. Kami masing-masing memiliki kehidupan sendiri-sendiri.

Sering aku merasa kesepian tinggal sendiri di rumah ini, tapi aku tidak mau menggunakan jasa pramuwisma, aku ingin mengerjakan pekerjaan rumahku sendiri. Alasanku pada mama sih biar aku ada kesibukan di rumah, rasanya lebih enjoy kalau semua dikerjakan sendiri.

The Orgy Club

Posted on November 19, 2007

Aku mahasiswa di Yogya tingkat hampir akhir. Aku mau berkisah tentang pengalamanku ngesex di sebuah kost-kostan mahasiswa. Kost-kostan itu untuk campur, untuk cowok dan cewek. Sebulan pertama sih normal-normal saja bagiku yang dari luar pulau, tapi beberapa hari setelah bulan kedua kost-kostan tersebut ketahuan belangnya (atau asyiknya, tergantung dari mana melihatnya). Hari itu aku lagi mau berangkat kuliah siang ketika kulihat dari seberang kamar Nina, si cewek dengan payudara sebesar buah melon yang kebanyakan pupuk, nongol dari kamarnya ke kamar mandi tidak pakai apapun kecuali sandal jepit. Handuk saja cuma ditenteng sama tangan kirinya, sedang tangan kanannya menenteng peralatan mandinya. Kulitnya yang sawo matang semakin membuatnya tampak seksi. Bodinya yang agak pendek semakin menampakkan bongkahan pantatnya wuuihh!!

Aku yang masih normal terang saja terangsang. Aku langsung kena komplikasi mata-jantung-kemaluan. Mata melotot melihat bodinya Nina, jantung langsung berdegup kencang, penis langsung menegang. Setelah masuk ke kamar mandi Nina sedikit menutup pintu untuk menggantungkan handuk dan pandangan matanya bertemu dengan pelototan mataku. Ia tidak terlihat kaget, malah tersenyum menggoda dan sedikit meremas payudaranya sendiri. Ia ternyata, dan untungnya bagiku, tidak menutup pintu kamar mandi dan mulai mengguyur badan semoknya dengan santai-santai saja seakan aku yang menonton dia mandi adalah hal yang normal.

Beberapa saat setelah mengguyur tubuhnya untuk membersihkan sabun di badannya ia menoleh ke belakang dan cengengesan melihat aku bengong saja di depan pintu kamarku. Kuliah langsung terlupakan begitu dia menggunakan jemari telunjuk kanannya untuk mengajakku ke kamar mandi. Langsung saja aku melemparkan diktat kuliahku ke kamar dan melepas seluruh bajuku, termasuk CD-ku, sehingga batang kemaluanku yang sudah menegang dari tadi langsung seperti terbebas dari kungkungannya. Lalu aku berjalan dengan agak pelan ke kamar mandi bersama itu. Nina ternyata memunggungiku, tidak tahu lagi apa. Saat aku masuk ke kamar mandi ia cuma menoleh sedikit dan tersenyum.

Ayah Boleh Mendapatkanku Jika Ingin

Posted on November 19, 2007

Berdiri di depan pintu rumahku, Mirna mendekatkan kepalaku ke arahnya dan berbisik di telingaku, “Ayah boleh mendapatkanku jika ingin.”

Dia memberiku sebuah kecupan ringan di pipi, dan berbalik lalu berjalan menyusul suami dan anaknya yang sudah lebih dulu menuju ke mobil. Yoyok menempatkan bayinya pada dudukan bayi itu, dan seperti biasanya, terlalu jauh untuk mendengar apa yang dibisikkan istrinya terhadap ayahnya. Mirna melenggang di jalan itu dengan riangnya seperti seorang gadis remaja yang menggoda saja. Yoyok tak mengetahui ini juga, ini hanya untukku.

Mungkin kamu mengira aku terlalu mengada-ada soal ini, tapi nyatanya apa yang Mirna lakukan itu tidak hanya sekali saja. Dan sejak aku tak terlalu terkejut lagi, aku jauh dari rasa bosan soal itu. Aku merasa ada getaran pada penisku, dan pikiran yang wajar ‘andaikan’ berputar di benakku.

Mirna adalah seorang wanita yang mungil, tapi ukurannya itu tak mampu menutupi daya tarik seksualnya. Sosoknya terlihat tepat dalam ukurannya sendiri. Dia mempunyai rambut hitam pekat yang dipotong sebahu, yang dengan alasan tertentu dia biasanya mengikatnya dengan bandana. Dia memiliki energi dan keuletan yang sepengetahuanku tak dimiliki orang lain. Cantiklah kalau ingin mendeskripsikannya. Dia selalu sibuk, selalu terburu-buru tapi selalu kelihatan manis. Dia masuk dalam kehidupan kami sejak dua tahun lalu, tapi dengan cepat sudah terlihat sebagai anggota keluarga kami sekian lamanya.

ML dengan Ibu Vivin

Posted on November 18, 2007

Cerita ini bermula pada waktu itu aku lagi kuliah di semester VI di salah satu PTS di Bandung. Ceritanya saat itu aku lagi putus dengan pacarku dan memang dia tidak tahu diri, sudah dicintai malah bertingkah, akhirnya dari cerita cintaku cuma berumur 2 tahun saja. Waktu itu aku tinggal berlima dengan teman satu kuliah juga, kita tinggal serumah atau ngontrak satu rumah untuk berlima. Kebetulan di rumah itu hanya aku yang laki-laki. Mulanya aku bilang sama kakak perempuanku, “Sudah, aku pisah rumah saja atau kos di tempat”, tapi kakakku ini saking sayangnya padaku, ya saya tidak diperbolehkan pisah rumah. Kita pun tinggal serumah dengan tiga teman wanita kakakku.

Ada satu diantara mereka sudah jadi dosen tapi di Universitas lain, Ibu Vivin namanya. Kita semua memanggilnya Ibu maklum sudah umur 40 tahun tapi belum juga menikah. Ibu Vivin bertanya, “Eh, kamu akhir-akhir ini kok sering ngelamun sih, ngelamunin apa

Filed under: Umum Continue reading

Cici

Posted on November 16, 2007

Cici (aku biasa memanggilnya CC) adalah keponakan yang ketemu lagi beberapa bulan yang lalu (sekitar September 2001) di Mataram. Sebagai mahasiswi salah satu Akademi Pariwisata terkenal di Jakarta, dia harus menjalani studi praktek di salah satu hotel berbintang di Lombok. Umurnya baru 19 tahun, beda jauh dengan umurku yang sudah 35 tahun dan sudah menikah dengan dua anak.

Sekarang aku menjalani hidup pisah ranjang dengan istriku, sejak dia menyeleweng dengan rekan bisnisnya. Aku membutuhkan kawan wanita, tapi tidak suka ganti-ganti atau jajan. One women at a time, lah. Hubungan kami berlangsung biasa saja, karena kami hanya bertemu satu atau dua kali sebulan, pada saat aku melakukan kunjungan kerja ke kota S. Rasanya senang punya saudara di tempat jauh.

Tapi, lama kelamaan senyumnya itu lho yang membuatku mabok kepayang. Ukuran tubuhnya yang relatif (tingginya hanya 155 cm) kecil pun merupakan impianku, karena aku juga tidak terlalu tinggi (167 cm). Hubungan kami sebenarnya mulai sebagai layaknya saudara, sampai suatu hari saya telpon dan menyatakan keinginan saya untuk berhubungan lebih serius.

"Kapan Cici ke Jakarta? Aku udah pengin banget nih ketemu sama kamu." tanyaku ketika meneleponnya pada awal bulan yang lalu.
"Wah aku nggak bias bolos, kecuali kalau hanya untuk satu atau dua hari. Aku baru pulang nanti bulan Januari tahun depan. Jatah tiket aku untuk bulan-bulan itu." jawabnya, "Kecuali kalau ada yang mau kasih tiket pesawat, hehehe."
Kesempatan nih, pikirku.
"Gimana kalau aku kirim tiket? Mau kan? Tanggal berapa?" tanyaku penuh harap.
"Gimana kalau akhir minggu ini? Tapi jangan bilang sama orang rumah kalau aku bolos lho!" pintanya mengingatkan.

Kisah perselingkuhan

Posted on November 16, 2007

Namaku Faridha. Orang biasa memanggilku dengan Ridha saja. Aku lahir tahun 1975 di sebuah kota terkenal dengan julukannya, yaitu kota hujan. Aku telah menikah dengan seorang pria keturunan Jawa bernama Mas Hadi. Kami dikarunai seorang anak laki-laki yang kulahirkan di akhir tahun 1999. Oh.. iya, aku menikah dengan Mas Hadi pada tahun 1998, bulan April.

Kehidupan kami biasa saja, dari segi ekonomi sampai hubungan suami istri. Aku dan suamiku cukup menikmati kehidupan ini. Suamiku yang kalem dan sedikit pendiam adalah seorang pegawai swasta di kotaku ini. Penghasilan sebulannya cukup untuk menghidupi kami bertiga. Namun kami belum begitu puas. Walau bagaimana kami harus merasakan lebih bukan hanya sekedar cukup.

Karena jabatan suamiku sudah tidak mungkin lagi naik di perusahaannya, untuk menambah penghasilan kami, aku meminta ijin kepada Mas Hadi untuk bekerja, mengingat pendidikanku sebagai seorang Accounting sama sekali tidak kumanfatkan semenjak aku menikah. Pada dasarnya suamiku itu selalu menuruti keinginanku, maka tanpa banyak bicara dia mengijinkan aku bekerja, walaupun aku sendiri belum tahu bekerja di mana, dan perusahaan mana yang akan menerimaku sebagai seorang Accounting, karena aku sudah berkeluarga.

"Bukankah kamu punya teman yang anak seorang Direktur di sini?" kata suamiku di suatu malam setelah kami melakukan hubungan badan.
"Iya... si Yanthi, teman kuliah Ridha..!" kataku.
"Coba deh, kamu hubungi dia besok. Kali saja dia mau menolong kamu..!" katanya lagi.
"Tapi, benar nih.. Mas.. kamu ijinkan saya bekerja..?"
Mas Hadi mengangguk mesra sambil menatapku kembali.

Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku.
"Terimakasih.. Mas.., mmhh..!" kusambut ciuman mesranya.
Dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang lagi, dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang ketiga. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.

Cindy, Istri Sahabatku

Posted on November 16, 2007

Hai, namaku Rian. Saat ini aku sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup besar di Bandung. Perusahaan tempat aku bekerja memperbolehkan suami istri bekerja pada kantor yang sama, asalkan beda bagian. Begitulah Dodi, sahabatku. Aku dan Dodi di bagian IT sedangkan istrinya Cindy di bagian keuangan. Aku dan Dodi jadi teman baik sejak proses penerimaan karyawan di perusahaan ini, sebab aku dan Dodi satu angkatan. Sedangkan Cindy beda 1 tahun dibawahku.

Ada sesuatu tentang Cindy yang selalu mengganggu tidurku semenjak aku bertemu dengan dia. Saat aku diperkenalkan ke Cindy oleh Dody, aku merasa ada suatu getaran aneh. Rasanya seperti bertemu dengan seseorang yang sudah sangat aku kenal. Aku rasa Cindy pun merasa demikian, sebab saat aku menjabat tangannya, aku dan dia sama-sama terdiam sesaat saling memandang dengan penuh arti. Setelah beberapa saat aku melepas jabatan tangan tadi dengan berat hati, sebenarnya sih aku masih mau megang, tapi gak enak sama Dodi, terlihat cindy pun agak berat melepas jabatan tanganku.

Sejak saat itu ada hubungan aneh antara aku, dodi dan cindy. Didepan dodi, aku dan cindy berlaku biasa saja, seperti layaknya kenalan biasa. Tapi disaat aku bertemu dengan cindy berdua secara tak sengaja disela-sela jam kantor, kami berdua jadi akrab sekali. Tak bisa aku lupakan senyumnya yang selalu terkembang saat bertemu aku, dan antusiasmenya menanggapi obrolan denganku. Bahkan kadang-kadang Cindy berlaku agak manja menanggapi candaanku.

Page optimized by WP Minify WordPress Plugin