Cerita Dewasa Kumpulan cerita-cerita khusus untuk 17 tahun ke atas

Look Up the US Phone Who calls me phonelookupphone.info

Posted on February 23, 2008

Look Up the US Phone Who calls me 801-863-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 607-371-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 570-247-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 608-301-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 559-119-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 423-979-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 831-783-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 304-334-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 830-500-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 973-918-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 303-996-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 405-355-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 802-913-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 832-671-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 217-874-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 361-616-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 785-418-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 720-947-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 306-088-xxxx
Look Up the US Phone Who calls me 423-349-xxxx

Filed under: Lainnya No Comments

Flight ke Medan

Posted on February 21, 2008

Jam menunjukkan 16.20 PM ketika aku tiba di bandara Soekarno-Hatta, aku akan melakukan perjalanan ke Medan dengan rekan kerjaku Tomi, ketika aku hubungi ke hp nya Tomi masih di tol bandara, flight kami pukul 17.45, masih cukup waktu utk cek in.

Jam 17.45 kami berjalan menuju pesawat utk boarding, seperti biasa ketika memasuki pintu pesawat semua penumpang disambut oleh pramugari yang ramah menyapa semua penumpang....'Ssssttt bagus tuh pramugarinya' kata Tomi padaku...'Yoi man' kataku...sekilas kulirik name tag-nya 'ehmmm Yolanda, namanya' tinggi kira2 167 postur tubuhnya nyaris sempurna ....kulit bersih seperti bintang iklan 'PONDS', sambil menatapku dia bertanya' seat brp mas?' ...'seat 3 C&D' kataku....'Ohh bisnis class mas - silahkan' katanya lagi.

Ketika pesawat sdh mengudara aku menuju toilet di belakang cockpit .....aku menoleh kekanan disitu ada Yolanda dan temannya yg aku blm tau namanya...Yolanda sedang berjongkok mengambil sesuatu dari laci ...dan terlihat pahanya yang mulus ....putih...kulitnya lembut pastinya tanpa cela licin...dia menoleh kearahku dan tersenyum ...aku tatap matanya dan akupun tersenyum sambil berlalu menuju toilet...tatapanku hanya pada matanya saja tadi wkt pahanya terlihat dia blm tau ada aku disitu ....jadi dg "gentleman" tatapanku hanya pada mata saja hahaha.

Filed under: Umum Continue reading

Menaklukkan Kakak Ipar

Posted on February 21, 2008

Aku memang ketagihan bermain cinta dengan wanita setengah baya alias STW. Ada lagi pengalaman nyata yang kualami. Pengalamanku menaklukkan kakak iparku yang pendiam dan agak religius. Entah setan mana yang merasuki diriku karena aku menjerumuskan orang baik-baik kedalam neraka nafsu.
Kejadiannya begini, suatu hari rumahku kedatangan tamu dari Padang. Uni Tati kakak tertua istriku. Dia datang ke Jakarta karena tugas kantor ikut seminar di kantor pusat sebuah bank pemerintah. Uni adalah kepala cabang di Padang, Uni menginap dirumah kami. Dari pada menginap di hotel, mendingan juga uang hotel disimpan buat beli oleh-oleh. Selama seminggu dia tinggal dirumahku. Dari istriku kutau kalau Uni Tati berusia 40 tahun. Suaminya sudah meningal 2 tahun lalu karena kecelakaan. Orangnya cantik, putih, tinggi semampai. Lebih tepatnya kubilang anggun karena orangnya cenderung diam dan sangat religius. Selama di Jakarta, setiap ada kesempatan aku dan istriku mengajak Uni jalan-jalan, maklum ini kunjungan pertamanya ke Jakarta, biasanya ke mal karena waktunya sempit. Kami sudah berencana pas hari Sabtu akan jalan-jalan ke Taman Safari
Tiba hari Sabtu, istriku ternyata punya tugas mendadak dari kantor yaitu harus mengawasi pameran di Mangga Dua. Gagal deh rencana jalan-jalan ke Taman Safari. Istriku mengusulkan agar aku tetap mengantar Uni jalan-jalan misalkan ke Ancol saja dan pulangnya bisa jemput istriku di Mangga Dua. Sebetulnya aku agak males kalo nggak ada istriku. Aku merasa risih harus jalan berdua Uni karena orangnya pendiam. Akupun menduga Uni pasti nggak mau. Tapi tanpa dinyata ternyata Uni menyetujui usul istriku.
Pagi-pagi banget istriku sudah berangkat naik KRL dari stasiun Pondok Ranji. Rumahku yang didaerah Bintaro cukup jauh dari Mangga Dua dan Ancol. Sementara menunggu Uni yang lagi jalan-jalan pagi aku sendirian dirumah menyeruput kopi dan merokok. Kami berencana jalan jam 10 pagi. Sehabis ngopi dan merokok, aku kembali tidur-tiduran di kamarku menunggu jam. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Uni Tati sangat menarik perhatianku secara sexual. Jeleknya aku, mulia keluar. Aku tertantang menaklukkan wanita baik-baik, aku tertantang menaklukkan Uni. Mumpung ada kesempatan. Dasar setan selalu mencari kesempatan menggoda.

Kuatur jebakan untuk memancing Uni. Aku buru-buru mandi membasuh badan dan keramas. Dengan berlilit handuk aku menunggu kepulangan Uni dari olahraga paginya. Sekitar 10 menit aku menunggu dibalik horden dan kulihat Uni memasuki pagar depan dengan pintu besi yang agak berderit. Sengaja pintu rumah aku tutup tapi dibiarkan tak terkunci. Aku berlalu menuju kamarku dan segera memasang jebakan untuk mengejutkan Uni. Aku masuk kamarku dan segera bertelanjang bulat. Pintu kamar kubuka lebar-lebar, jendela kamar juga kubuka biar isi kamar mendapat penerangan jelas.

Aku, Istriku dan Mantan Pacarku

Posted on February 19, 2008

Cerita ini aku alami waktu berlibur di kota S bersama istriku. Saat itu aku ketemu mantanku waktu kerja di kota itu. Namanya Maya, sebut saja demikian. Aku dan istriku waktu itu menginap di hotel 'S', kami berdua sudah hampir 3 hari menginap untuk sedikit refresing dari kota J. Selama ini aku mendengar Maya hidup sendiri, dia sudah putus sama yang katanya calon suami waktu dulu dikenalkan denganku, dan dia katanya sekarang adalah biseks (moga-moga bukan begitu yang aku dengar).

Hari keempat setelah usai makan malam, aku dan istriku mulai iseng seperti biasa suami istri saling cium, saling hisap walaupun dengan pakaian setengah telanjang, namun gairah kami berdua tidak ada habis-habisnya (maklum tiap hari pikiran ini dipenuhi pekerjaan kantor, jadi wajar kalau tiap hari waktu liburan kami senantiasa berhubungan). Kata teman-temanku aku punya libido seks yang tinggi, makanya istriku kadang-kadang tidak kuat meladeni diriku di ranjang. Tengah asyik-asyiknya kami penetrasi pintu kamar hotelku diketuk, aku langsung beranjak tanpa mempedulikan istriku yang sudah ngos-ngosan tidak karuan. Betapa terkejutnya aku waktu kubuka pintu, sesosok badan yag anggun berdiri di depanku dengan celana jeans ketat dan kaos putih ketat terawang. Aku hampir terpesona "Maya..." kataku setengah gugup. "Ayo masuk," pintaku, tanpa sadar aku sudah setengah telanjang (walau hanya memakai celana pendek waktu itu).

Dia mengikutiku masuk ruangan hotel, istriku pun tengah rebahan dan hanya ditutup oleh selimut hotel.
"Ini Maya, Mah kenalin," mereka pun saling berjabat tangan.
"Oh, kalian sedang asyik yah, maaf kalo aku mengganggu?" kata Maya kemudian.
Kami pun agak kikuk, namun Maya dengan santai pun berkata,
"Lanjutin aja, cueklah kalian kan sudah suami istri, ayo lanjutin aja!"
Aku dan istriku heran melihat hal itu, namun dengan sedikit kikuk tanpa aku pikirkan siapa dia, aku mulai lagi penetrasi dengan istriku (walaupun agak canggung). Kulumat bibir istriku, turun ke bawah di antara dua payudara nan indah yang kumiliki selama ini (ukurannya sih 34B) kujilat-kugigit puting susu istriku, dengan terpejam istriku mendesah, "Aaahhh... aaahhh..." dia pun tidak memperdulikan sekelilingnya juga termasuk Maya. Mulutku mulai turun ke arah di lubang kemaluan istriku dengan tangan kanan dan kiri meremas-remas kedua payudaranya. Kujilati lubang kemaluan istriku, dia pun mulai bergoyang-goyang. "Mas... itilnya... aaahhh enak... Mas... terus..." Aku sempat melirik Maya, dia pun melihat adegan kami berdua seakan-akan ingin ikut menikmatinya.

Filed under: Umum Continue reading

SPG yang sombong

Posted on February 16, 2008

Cerita ini muncul karena ulah SPG sombong yang menjaga pameran otomotif di salah satu plaza di kotaku. Pada waktu itu aku dan teman-temanku (berempat) sedang jalan-jalan ke plaza itu, lalu kami melihat ada pameran mobil di sana. Iseng-iseng aku dan teman-teman melihat mobil-mobil yang memang keren-keren itu, meskipun penampilan kami memang sangat jauh dengan pengunjung-pengunjung lainnya yang rapi-rapi. Sekalian cuci mata juga, soalnya para SPG-nya cantik-cantik dan putih-putih serta mulus-mulus, mereka memakai rok mini yang benar-benar serasi dengan tubuh mereka yang langsing dan tinggi, kaki mereka yang jenjang sangat indah dipandang dari ujung kaki sampai ke paha yang terbalut rok mini ketat warna merah. Wajah mereka yang rata-rata Indo seperti bintang sinetron sangat menyenangkan untuk dipandang, memang sangat cocok untuk mendampingi mobil-mobil mewah yang sedang dipamerkan.

Sambil melihat, kupegang-pegang saja mobil yang di pamerkan dan kucoba membuka dan metutup salah satu pintunya. Tiba-Tiba..., "Mas, tolong kalau mau lihat ya dilihat saja, jangan dipegang-pegang, nanti harus dibersihkan lagi," aku menoleh ke arah teguran itu berasal, ternyata teguran tersebut berasal dari salah seorang SPG yang cantik, meskipun aku tersinggung, aku sempat tertegun melihat paras dan body cewek SPG yang satu ini. Wajah SPG yang ini seperti campuran Indo Belanda, kebarat-kebaratan seperti itulah.

Masih setengah sadar, SPG itu ngomong lagi, "Tolong minggir dulu ya.. ini ada pembeli yang mau lihat". Aku menoleh ke sekitar, "Mana pembelinya.." pikirku, yang ada masih lihat-lihat mobil di sebelah, kali ini aku serasa benar-benar dilecehkan oleh SPG itu, dalam pikiranku, "Sombong sekali cewek satu ini... padahal kan dia juga sebagai penjaga, belum tentu bisa beli mobil itu juga." Sambil berpikir begitu, tak terasa aku bertatap pandang dengan cewek SPG itu, yang lebih mengesalkan wajahnya seakan-akan melihatku sebagai makhluk yang tidak sepantasnya berdiri di situ. Kulihat juga senyumnya yang benar-benar menyebalkan, seolah-olah menantang dan sudah menang. Seraya tersenyum aku minggir juga.

"Ayo, cabut!" aku mengomando teman-temanku dengan nada yang masih kesal karena pelecehan tadi. Aku langsung mengarahkan mereka ke tempat parkir dengan tidak menyembunyikan wajah yang kesal. Mobil Espass kami pun meluncur. Sepanjang perjalanan, kami terdiam, teman-temanku tahu aku masih kesal, jadi mereka agak malas ngomong.

Setelah beberapa saat Aguk yang memegang kemudi memecah kesunyian, "Kenapa lu? masih kesal sama SPG itu?" tanyanya kepadaku. Belum sempat aku menimpali, Bimo buka suara, "Lu nggak remas aja pantatnya, biar tau rasa dia." Tawa mereka berderai, tapi aku masih diam, melihat gelagatku yang tidak bisa diajak bercanda, teman-temanku ikutan diam. Tiba-Tiba Dodot mengeluarkan ide bagus, "Eh.. gimana kalo kita culik aja tuh cewek!" Hatiku yang kesal ini bagaikan mendapat siraman air yang menyegarkan, "Betul juga," pikirku, "Biar ntar dia rasain gimana akibatnya kalau melecehkan aku" Aku tersenyum menyeringai ke arah Dodot, dan kami langsung memutar mobil ke arah plaza itu lagi.

Seks Kilat di Kantor

Posted on February 16, 2008

Namaku Joko.Aku adalah seorang manajer di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.Walaupun aku sudah lama bekerja tetapi aku masih melajang.Kisah ini diawali saat aku bertemu seorang mahasiswi yang sedang magang di kantorku.Mahasiswi tersebut bernama Erika.Aku tidak begitu tahu kuliah apa yang ia ambil,tetapi ia bekerja sebagai sekretaris di kantorku.

Adapun Erika adalah gadis yang sangat manis,berkulit putih layaknya wanita keturunan Chinese,memiliki tubuh langsing bak gitar,rambutnya berwarna hitam kecoklatan dgn panjang sebahu,dan raut wajahnya mirip-mirip Dian Sastrowardoyo.Penampilan Erika sangat menarik perhatian pria2 di kantorku,krn dia berpenampilan layaknya mahasiswi di kampus.Ini menjadi angin segar tersendiri untuk kami para pria di kantor.

Suatu hari Erika datang ke ruanganku untuk meminta tanda tanganku.Aku terkejut melihat penampilannya yang sexy sekali.Ia mengenakan kaos hitam lengan pendek yg sangat ketat,rok mini berbahan jeans yg di atas lutut,dan sepasang sandal hak tinggi utk wanita.Aku bisa melihat bentuk payudaranya yg membusung dr balik kaos ketat itu dgn jelas dan juga pahanya yg putih mulus itu bisa kupandangi sepuasku.

Filed under: Umum Continue reading

Diperkosa Teman Sendiri

Posted on February 8, 2008

Novy adalah seorang mahasiswi berusia 22 tahun di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Dia mempunyai tubuh yang sangat sempurna dan terawat. Tingginya 165 cm, dengan berat 55 kg. Rambutnya hitam sebahu dan dia mempunyai payudara yang sangat indah, bulat dan kencang berukuran 34B. Kulitnya putih dan wajahnya pun sangat cantik. Novy termasuk mahasiswi yang berprestasi di kampusnya. Tidak heran banyak sekali teman prianya yang tertarik kepadanya, namun sampai saat ini Novy masih belum punya pacar.

Pada suatu hari Novy terpaksa harus pulang sendiri agak malam dari kampusnya, karena ia harusmenyelesaikan tugasnya di laboratorium. Ketika dia sedang menunggu lift dari lantai 8, tiba-tiba Anto temannya datang.
"Hai, Novy.. mau pulang nih..?"
"Iya.."
"Bareng yuk turunnya..!" ajak Anto.
"Boleh.." tanpa rasa curiga Novy mengiyakan.

Nampaknya malam itu benar-benar sepi di kampusnya, hanya tinggal beberapa orang saja terlihat di tempat parkir di bawah. Ketika pintu lift terbuka, mereka berdua pun masuk. Saat berada di dalam lift, tiba-tiba sebuah benda keras menghantam tengkuk Novy dari belakang, membuatnya langsung tidak sadarkan diri.

"Dukk..," Novy terbangun ketika kepalanya terantuk meja.
Dengan mata masih berkunang-kunang, dia melihat bahwa dia sedang berada di ruang kuliah di lantai 4 kampusnya. Tidak ada orang di situ. Dan ketika dia melihat jam di dinding, ternyata sudah pukul 10 malam. Ketika Novy mencoba bergerak, dia baru menyadari bahwa tangan dan kakinya terikat. Dia mencoba melepaskan diri namun tidak berhasil. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan muncullah tiga orang dari pintu itu. Dua pria dan satu wanita. Mereka semua temannya, Anto, Angga dan Shanty.

"Shanty.. tolong gue Shan.., lepasin gue.. apa-apaan sih ini..? Kalian kalo bercanda jangan keterlaluan dong..!" dengan sedikit kesal Novy bicara dengan Shanty.
"Elo mau apa sih Nov..? Ini bukan bercanda tau..!" teriak Shanty.
"Apa maksud elo..?" Novy mulai panik.
"Kita mau buat perhitungan sama elo, Nov..! Selama ini elo selalu jadi pusat perhatian, tapi elo terlalu sombong untuk memperhatikan temen elo sendiri. Elo tau nggak kalo temen-temen tuh banyak yang nggak suka sama elo..! Sekarang saatnya elo untuk ngasih sesuatu sama mereka..!" Shanty mendekati dan kemudian menampar pipi kiri Novy.
"Elo mau apa sih..!" jerit Novy.
"Gue mau liat elo menderita malam ini, Nov. Karena selama ini elo selalu mendapat segala yang elo inginkan..." kata Shanty.

Betina untuk Bruno

Posted on February 6, 2008

Kehidupan bersama Beni memang membosankan, secara seksual maksudnya. Beni sebenarnya seorang yang baik dan bertanggung jawab. Semua kebutuhan rumah tangga telah dipenuhi olehnya sehingga aku tak perlu bekerja. Kenyataannya, itu justru menjadi bagian dari masalahku. Sebagai seorang wanita berusia 22 tahun tanpa anak, yang menikah dengan seorang pria pekerja yang konservatif berusia 35 tahun, membuatku mempunyai sangat banyak waktu untuk berkhayal macam-macam. Aku juga mempunyai sangat banyak waktu untuk bermasturbasi, membaca novel berisi cerita-cerita seks ataupun mengkhayalkan berbagai macam variasi dalam berhubungan seks..........

Jika mau berusaha, mungkin aku bisa saja mencari seorang kekasih gelap untuk berhubungan seks. Aku memiliki wajah dan tubuh yang lebih dari cukup untuk kupakai guna menarik lelaki mana pun yang aku mau, tapi aku tak pernah melakukannya. Alasan utama untuk tak melakukan hal semacam itu adalah karena pendidikan moral yang sangat ketat yang kuterima sejak kecil. Aku menjalani masa kecilku dalam sebuah keluarga Katolik yang taat di pedalaman Jawa Tengah. Walaupun ibuku orang Belanda, namun beliau sangatlah puritan.

Keadaan di tempat tinggalku sekarang tidak lebih baik, tapi paling tidak tak ada seorang pun yang mengenalku di sini. Kami tinggal di daerah yang asalnya direncanakan sebagai kota baru di luar kota Jakarta. Krisis moneter menyebabkan pembangunan kota baru ini terhenti total. Perusahaan pengembangnya pun telah bangkrut, padahal pembangunannya belum lagi mencapai 15% dari rencana semula. Rumah mungil kami terletak di lingkungan yang terpencil dekat sebuah pabrik. Hanya sedikit orang di sini yang berhubungan dengan tetangganya. Kebanyakan tetangga kami bekerja di pabrik itu, sedangkan suamiku bekerja di Jakarta. Mereka tak bersosialisasi dengan 'orang luar' seperti kami. Rumah-rumah di sini terpisah cukup jauh satu sama lainnya. Hanya ada satu rumah yang terletak tepat di seberang rumah kami. Rumah itu pun sudah lama kosong.

Ketika rumah itu akhirnya ditempati oleh sepasang suami isteri, aku merasa kegirangan. Kuputuskan untuk melakukan usaha supaya dapat bertemu mereka. Mereka adalah pasangan tua. Usia mereka sekitar 50-an, tapi aku selalu dapat bergaul dengan orang-orang yang lebih tua. Nampaknya mereka baik dan ramah. Mungkin mereka ingin menghabiskan masa pensiunnya di tempat yang terpencil ini. Kupikir mereka bisa menjadi sahabat yang baik.

ML dengan Ibu dari Pacarku

Posted on February 6, 2008

Namaku tommy... semula berawal saat aku pacaran dengan stevy cwe keturunan cina yang sangat putih dan cantik....

aku punya pacar bernama stevany yang biasa di panggil stevy.. aku baru 3 bulan berpacaran dengan dia.... tapi pertama kali aku melakukan hubungan seks dengan stevy aku sudah tau kalau dia sudah tidak perawan lagi... selama 3 bulan berpacaran aku sudah melakukan hubungan seks berulang kali... malah bisa dibilang sangat sering... ya namanya anak muda.. aku sering melakukan hubungan seks dengan stevy didalam kamar rumahnya.... walaupun rumahnya ada orang tuanya, tapi dia seperti anak bebas lainnya.. bebas membawa laki2 masuk kedalam kamarnya.. dan oran tuanya tidak mempusingkan hal itu...

sore itu aku datang kerumah stevy tanpa memberitahukan dulu kepada stevy kalau aku mau datang kerumahnya... dengan tiba2 aku memencet bel rumahnya... seperti biasa nyokapnya yang membuka pintu rumahnya... sore tante, stevynya ada? tanyaku.... dengan segera nyokapnya berkata oh stevy lagi pergi ama belinda... belinda adalah saudara dari stevy. kbetulan stevy lagi tidak ada pulsa jadi aku bisa mengerti knapa stevy tidak memberikan kabar kepadaku... ya udah deh tante aku pulang dulu ya... lalu nyokap stevy berkata.. kok gak mampir dulu tom? pali stevy bentar lagi pulang kok.... gak usah deh tante.. nanti aja kalo stevy sudah pulang aku saya titip pesan hubungi saya... pintaku.
udah deh kamu masuk aja dulu tom... masa mertua suruh kamu masuk kamu gak mau sih?? pinta ibu stevy....

karna aku tidak enak kepada ibu stevy maka aku kababulkan permintaannya untuk masuk sebentar kedalam rumah... setelah aku masuk dalam rumah, aku duduk diruang tamu seperti biasa tamu berkunjung kerumah orang... ibu stevy membuatkan aku minum.. saat itu ibu stevy hanya menggunakan daster pakaian rumah.. jadi tubuhnya yang indah terpajang jelas.. dan aku yakin dia tidak menggunakan Bh karena pentilnya sangat terlihat jelas di balik dasternya yang putih mulus...
lalu ibu stevy berkata.. kamu tunggu disini dulu ya tom... paling stevy bentar lagi pungang... iya tante jawabku...
secara tiba2 ibu stevy bertanya... tom, hubungan kamu dengan stevy sudah sampai dimana? aku kaget karena pertanyaan itu... ah enggak tante.. aku sama stevy cuma pacaran aja... gak lebih dari ituu.... ah masa sih kamu duah lama pacaran ama stevy gak ngapa2in? iya tantee.... enggak kok.. bener deh...

Filed under: Umum Continue reading

Dada Nyonya Syeni

Posted on February 3, 2008

Sudah masuk tahun ketiga aku buka praktek di sini semuanya berjalan biasa-biasa saja seperti layaknya praktek dokterr umum lainnya. Pasien bervariasi umur dan status sosialnya. Pada umumnya datang ke tempat praktekku dengan keluhan yang juga tak ada yang istimewa. Flu, radang tenggorokan, sakit perut, maag, gangguan pencernaan, dll.

Akupun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien "langganan", artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan, ketika aku iseng memeriksa file-file pasien, aku baru menyadari bahwa 70 % pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 - 30 tahun. Entah kenapa aku kurang tahu.
"Mungkin dokter ganteng dan baik hati" kata Nia, suster yang selama ini membantuku.
"Ah kamu . bisa aja"
"Bener Dok" timpal Tuti, yang bertugas mengurus administrasi praktekku.
Oh ya, sehari-hari aku dibantu oleh kedua wanita itu. Mereka semua sudah menikah. Aku juga sudah menikah dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Umurku sekarang menjelang 30 tahun.
Aku juga berpegang teguh pada sumpah dan etika dokter dalam menangani para pasien. Penuh perhatian mendengarkan keluhan mereka, juga Aku tak "pelit waktu". Mungkin faktor inilah yang membuat para ibu muda itu datang ke tempatku. Diantara mereka bahkan tidak mengeluhkan tentang penyakitnya saja, tapi juga perihal kehidupan rumah tangganya, hubungannya dengan suaminya. Aku menanggapinya secara profesional, tak ingin melibatkan secara pribadi, karena aku mencintai isteriku.

Semuanya berjalan seperti biasa, wajar, sampai suatu hari datang Ny. Syeni ke meja prakteku ..
Kuakui wanita muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, seperti pada umumnya wanita keturunan Tiong-hwa, parasnya mirip bintang film Hongkong yang aku lupa namanya, langsing, lumayan tinggi, dan .... inilah yang mencolok : dadanya begitu menonjol ke depan, membulat tegak, apalagi sore ini dia mengenakan blouse bahan kaos yang ketat bergaris horsontal kecil2 warna krem, yang makin mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya. Dipadu dengan rok mini warna coklat tua, yang membuat sepasang kakinya mulusnya makin "bersinar".
Dari kartu pasien tertera Syeni namanya, 28 tahun umurnya.
"Kenapa Bu ." sapaku.
"Ini Dok . sesak bernafas, hidung mampet, trus perut saya mules"
"Kalau menelan sesuatu sakit engga Bu "
"Benar dok"
"Badanya panas ?"
Telapak tangannya ditempelkan ke dagunya.
"Agak anget kayanya"
Kayanya radang tenggorokan.
"Trus mulesnya . kebelakang terus engga"
"Iya Dok"
"Udah berapa kali dari pagi"
"Hmmm . dua kali"
"Ibu ingat makan apa saja kemarin ?"
"Mmm rasanya engga ada yang istimewa . makan biasa aja di rumah"
"Buah2 an ?"
"Oh ya . kemarin saya makan mangga, 2 buah"
"Coba ibu baring disitu, saya perika dulu"
Sekilas paha putih mulusnya tersingkap ketika ibu muda ini menaikkan kakinya ke dipan yang memang agak tinggi itu.
Seperti biasa, Aku akan memeriksa pernafasannya dulu. Aku sempat bingung. Bukan karena dadanya yang tetap menonjol walaupun dia berbaring, tapi seharusnya dia memakai baju yang ada kancing ditengahnya, biar aku gampang memeriksa. Kaos yang dipakainya tak berkancing.
Stetoskopku udah kupasang ke kuping
Ny. Syeni rupanya tahu kebingunganku. Dia tak kalah bingungnya.
"Hmmm gimana Bu"
"Eh .. Hmmm .. Gini aja ya Dok" katanya sambil agak ragu melepas ujung kaos yang tertutup roknya, dan menyingkap kaosnya tinggi-tinggi sampai diatas puncak bukit kembarnya. Kontan saja perutnya yang mulus dan cup Bhnya tampak.
Oohh . bukan main indahnya tubuh ibu muda ini. Perutnya yang putih mulus rata, dihiasi pusar di tengahnya dan BH cream itu nampak ketat menempel pada buah dadanya yang ampuun .. Putihnya . dan menjulang.
Sejenal aku menenangkan diri. Aku sudah biasa sebenarnya melihat dada wanita. Tapi kali ini, cara Ibu itu membuka kaos tidak biasa. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Aku tetap bersikap profesional dan memang tak ada sedikitpun niatan untuk berbuat lebih.
Kalau wanita dalam posisi berbaring, jelas dadanya akan tampak lebih rata. Tapi dada nyonya muda ini lain, belahannya tetap terbentuk, bagai lembah sungai di antara 2 bukit.
"Maaf Bu ya .." kataku sambil menyingkap lagi kaosnya lebih keatas. Tak ada maksud apa-apa. Agar aku lebih leluasa memeriksa daerah dadanya.
"Engga apa-apa Dok" kata ibu itu sambil membantuku menahan kaosnya di bawah leher.
Karena kondisi daerah dadanya yang menggelembung itu dengan sendirinya stetoskop itu "harus" menempel-nempel juga ke lereng-lereng bukitnya.
"Ambil nafas Bu."
Walaupun tanganku tak menyentuh langsung, melalui stetoskop aku dapat merasakan betapa kenyal dan padatnya payudara indah ini.
Jelas, banyak lendir di saluran pernafasannya. Ibu ini menderita radang tenggorokan.
"Maaf Bu ya .." kataku sambil mulai memencet-mencet dan mengetok perutnya. Prosedur standar mendiagnosis keluhan perut mulas.
Jelas, selain mulus dan halus, perut itu kenyal dan padat juga. Kalau yang ini tanganku merasakannya langsung.
Jelas juga, gejalanya khas disentri. Penyakit yang memang sedang musim bersamaan tibanya musim buah.
"Cukup Bu ."
Syeni bangkit dan menurunkan kakinya.
"Sakit apa saya Dok" tanyanya. Pertanyaan yang biasa. Yang tidak biasa adalah Syeni masih membiarkan kaosnya tersingkap. Belahan dadanya makin tegas dengan posisnya yang duduk. Ada hal lain yang juga tak biasa. Rok mini coklatnya makin tersingkap menampakkan sepasang paha mulus putihnya, karena kakinya menjulur ke bawah menggapai-gapai sepatunya. Sungguh pemandangan yang amat indah .
"Radang tenggorokan dan disentri"
"Disentri ?" katanya sambil perlahan mulai menurunkan kaosnya.
"Benar, bu. Engga apa-apa kok. Nanti saya kasih obat" walaupun dada dan perutnya sudah tertutup, bentuk badan yang tertutup kaos ketat itu tetap sedap dipandang.
"Karena apa Dok disentri itu ?" Sepasang pahanya masih terbuka. Ah ! Kenapa aku jadi nakal begini ? Sungguh mati, baru kali ini aku "menghayati" bentuk tubuh pasienku. Apa karena pasien ini memang luar biasa indahnya ? Atau karena cara membuka pakaian yang berbeda ?
"Bisa dari bakteri yang ada di mangga yang Ibu makan kemarin" Syeni sudah turun dari pembaringan. Tinggal lutut dan kaki mulusnya yang masih "tersisa"
Oo .. ada lagi yang bisa dinikmati, goyangan pinggulnya sewaktu dia berjalan kembali ke tempat duduk. Aku baru menyadari bahwa nyonya muda ini juga pemilik sepasang bulatan pantat yang indah. Hah ! Aku makin kurang ajar. Ah engga.. Aku tak berbuat apapun. Cuma tak melewatkan pemandangan indah. Masih wajar.
Aku memberikan resep.
"Sebetulnya ada lagi Dok"
"Apa Bu, kok engga sekalian tadi" Aku sudah siap berkemas. Ini pasien terakhir.
"Maaf Dok .. Saya khawatir .. Emmm .." Diam.
"Khawatir apa Bu "
"Tante saya kan pernah kena kangker payudara, saya khawatir ."
"Setahu saya . itu bukan penyakit keturunan" kataku memotong, udah siap2 mau pulang.
"Benar Dok"
"Ibu merasakan keluhan apa ?"
"Kalau saya ambil nafas panjang, terasa ada yang sakit di dada kanan"
"Oh . itu gangguan pernafasan karena radang itu. Ibu rasakan ada suatu benjolan engga di payudara" Tanpa disadarinya Ibu ini memegang buah dada kanannya yang benar2 montok itu.
"Saya engga tahu Dok"
"Bisa Ibu periksa sendiri. Sarari. Periksa payudara sendiri" kataku.
"Tapi saya kan engga yakin, benjolan yang kaya apa .."
Apakah ini berarti aku harus memeriksa payudaranya ? Ah engga, bisa-bisa aku dituduh pelecehan seksual. Aku serba salah.
"Begini aja Bu, Ibu saya tunjukin cara memeriksanya, nanti bisa ibu periksa sendiri di rumah, dan laporkan hasilnya pada saya"
Aku memeragakan cara memeriksa kemungkinan ada benjolan di payudara, dengan mengambil boneka manequin sebagai model.
"Baik dok, saya akan periksa sendiri"
"Nanti kalau obatnya habis dan masih ada keluhan, ibu bisa balik lagi"
"Terima kasih Dok"
"Sama-sama Bu, selamat sore"
Wanita muda cantik dan seksi itu berlalu.

Filed under: Umum Continue reading
   

Page optimized by WP Minify WordPress Plugin