Cerita Dewasa Kumpulan cerita-cerita khusus untuk 17 tahun ke atas

Aku Menjadi Pengantin Muridku

Posted on November 28, 2011

Hai, perkenalkan namaku Erina. Usiaku sekarang 18 tahun. Teman-temanku sering memuji wajahku yang bulat dan manis dengan rambutku yang hitam sebahu yang menurut mereka amat serasi dengan bentuk wajahku. Tubuhku yang mungil dengan tinggi 152 cm, memberi kesan imut yang sering menjadi daya tarik tersendiri bagi teman-temanku. Aku merupakan seorang mahasiswi keturunan Chinese dari Medan yang bisa tergolong sebagai pendatang baru di Jakarta. Aku merantau ke Jakarta sendirian untuk melanjutkan pendidikanku di sebuah universitas swasta di Jakarta Barat. Sehari-harinya aku bekerja sebagai guru les privat yang mengajar anak-anak sekolah yang pada umumnya adalah anak-anak SMP atau SD. Aku melakukan ini untuk membiayai uang kuliah dan segala keperluanku. Maklumlah, sebagai pendatang baru di kota besar seperti Jakarta, aku harus bisa membiayai segala keperluanku sendiri. Apalagi keluargaku yang berasal dari daerah juga bukan tergolong keluarga yang cukup mampu untuk membiayaiku, maka aku memutuskan untuk mandiri sendiri di perantauanku. Suatu hari, aku mendapat panggilan dari sebuah keluarga yang ingin agar aku mengajar les anak tunggal mereka. Mereka menawarkan gaji yang bagiku amat tinggi dan kurasa cukup untuk membiayai kehidupanku di Jakarta. Tanpa pikir panjang lagi, segera kuterima tawaran keluarga itu, dan kami setuju bahwa aku akan mulai mengajar anak mereka besok sore harinya sepulang kuliah. Esok harinya, aku pun datang untuk mulai mengajar murid baruku itu. Sesampainya di rumah itu, aku tertegun melihat arsitektur rumah itu yang seperti sebuah istana yang dilengkapi taman hijau dan dikelilingi pagar terali yang tinggi. Dibandingkan dengan rumahku di daerah yang hanya ¼ luas rumah itu, apalagi tempat kosku yang kecil dan sumpek, tentu saja memiliki rumah seperti ini sudah menjadi impianku sejak kecil.

DING-DONG!! Kutekan bel pintu di sebelah pagar rumah itu.

"Siapa?" terdengar suara wanita di Interkom yang terletak di samping bel pintu itu.

"Saya Erina, guru les privat anak anda yang baru!" jawabku

"Oh, Erina! Ayo, silakan masuk!"

Tiba-tiba, gerbang terali rumah itu terbuka. Aku pun segera masuk kedalam. Pintu garasi itu terbuka dan keluarlah seorang wanita paruh baya, usianya sekitar 40-an tahun. Dari penampilannya yang necis seperti seorang business-woman, sudah jelas bahwa ia adalah pemilik rumah ini. Wanita itu segera menyambut kedatanganku.

"Halo, Erina! Bagaimana kabarnya?"

"Baik-baik saja bu. Anda Bu Diana? Ibu Rendy?" tanyaku dengan sopan.

"Ya, betul! Ayo masuk, kita bicara didalam!" ujarnya mempersilahkanku masuk

Sambil menuju ke ruang tamu, kami berbincang-bincang sejenak. Dari situ aku tahu bahwa bu Diana adalah pemilik Bridal Studio ternama di Jakarta sekaligus seorang desainer gaun pengantin yang sering pergi ke luar negeri untuk melihat pameran-pameran di luar negeri. Bahkan, di rumahnya banyak terpajang piala penghargaan bagi desainer di pameran luar negeri. Sementara suaminya adalah kepala cabang sebuah bank multinasional yang saat ini tinggal di Jerman. Maka ia hanya tinggal berdua saja dengan anaknya di rumah itu. Seringkali anaknya dititipkan ke kerabatnya apabila bu Diana hendak pergi ke luar negeri. Aku pun dipersilahkan untuk menunggu di ruang tamu sementara bu Diana mengambilkan minuman untukku. Aku hanya terpaku melihat hiasan-hiasan indah di rumah itu. Rasa-rasanya, harga salah satu hiasan patung ataupun lukisan itu cukup untuk membiayai uang kuliahku untuk satu semester.

"Hayo, kok malah melamun?" aku dikagetkan oleh suara bu Diana yang segera menyajikan segelas es sirop untukku.

"Eh.. tidak.. maaf, Bu!" aku tergagap salah tingkah, namun bu Diana hanya tersenyum melihatku. Bu Diana segera duduk di sofa ruang tamu di depanku.

"Nah, Erina. Kamu akan mengajar Rendy mulai hari ini. Ibu harap kamu bisa memperbaiki nilai-nilainya di sekolah."

"Baik bu. Saya akan berusaha sebaik mungkin."

"Saya senang melihat semangatmu. Tapi apa kamu tahan menghadapi anak-anak nakal?"

"Memangnya ada apa, bu?" tanyaku penasaran

"Rendy sekarang duduk di kelas 3 SMP, usianya tahun ini 16 tahun. Kamu tahu, itu masa yang rawan bagi anak remaja. Nilai Rendy terus menurun, ia lebih sering menghabiskan waktunya buat bermain atau menonton di kamarnya." Bu Diana tampak menghela napas.

"Tenang saja, bu. Saya akan berusaha untuk membuatnya belajar. Saya yakin, nilai Rendy pasti akan segera membaik."

"Bagus. Kinerjamu akan dinilai lewat nilai-nilai ujian semester mereka Juni ini."

"Berarti, 5 bulan dari sekarang?"

"Benar. Tunggu sebentar ya, Erina? Ibu akan memanggil Rendy dulu."

Rendy
Aku mengangguk menyetujui. Bu Diana lalu beranjak pergi ke lantai atas. Tak lama kemudian, Bu Diana turun beserta seorang anak laki-laki. Wajah anak itu tidak bisa dibilang tampan, menurutku. Tubuhnya kurus dan termasuk tinggi untuk anak seusianya, bahkan lebih tinggi dariku. Tapi mukanya yang tampak masam saat melihatku yang duduk di hadapannya, dari wajahnya sudah terlihat ia seorang yang nakal dan bermasalah.

"Ayo, beri salam ke Kak Erina! Mulai hari ini dia yang akan menjadi guru privatmu!"

"Rendy." Anak itu tampak acuh dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman denganku.

"Erina, salam kenal!" Aku berusaha tersenyum sambil membalas uluran tangannya.

"Baiklah, ayo antar kak Erina ke kamarmu dan mulai belajar!" perintah bu Diana, yang hanya dijawab oleh gerutuan dari Rendy. Aku tersenyum dan mengikuti Rendy ke kamarnya. Sejak hari itu, aku mulai mengajari Rendy sebagai guru privatnya.

Hari demi hari berlalu. Tidak terasa, sudah 3 bulan berlalu sejak hari itu. Tiap hari Senin hingga Jumat sore, aku terus mengajari Rendy sebagai guru privatnya secara rutin. Lama-lama aku pun semakin mengenal Rendy. Rendy sering bergaul dengan teman-temannya, namun sayangnya Rendy salah memilih pergaulan. Ia bergaul dengan anak-anak nakal di sekolahnya. Aku pernah melihat teman-temannya yang nakal itu, mereka selalu saja mengajak Rendy untuk membolos saat aku mengajar, yang seringkali dituruti olehnya, belum lagi sikap mereka yang menurutku tidak sopan maupun cara mereka bergaul yang lebih condong ke arah pergaulan bebas. Aku selalu bersabar mengajari Rendy, tapi anak itu benar-benar bandel. Setiap kali aku mengajarinya, ia hanya mengacuhkanku ataupun bengong melamun. Semua tugas yang kuminta untuk dikerjakan tidak pernah disentuhnya sama sekali. Parahnya lagi, tidak jarang kulihat kepingan DVD porno yang disembunyikannya dibawah kasurnya. Aku tidak pernah menghiraukan hal itu, karena tugasku di sini adalah untuk mengajarinya bahan pelajaran, bukan untuk menceramahinya. Mungkin karena pengaruh DVD itu dan pergaulannya, dia juga sering menggodaku untuk menjadi pacarnya. Aku memang masih single, tapi pacaran dengan anak dibawah umur? Tak pernah sama sekali terlintas di benakku untuk melakukan hal itu, apalagi Rendy adalah muridku.

Sering aku nyaris kehilangan kesabaran karena ulah Rendy, namun aku selalu teringat akan janjiku pada bu Diana untuk memperbaiki nilai Rendy dan mengingat biaya yang dikeluarkan bu Diana untuk membayarku, sudah cukup untuk membuatku selalu tegar menghadapi kebandelan Rendy. Namun seberapapun aku berusaha menahan kesabaranku, rupanya kesabaran bu Diana mulai habis. Suatu hari, ia memanggilku saat aku mengajar Rendy.

"Erina, saya pikir kamu sudah tahu kalau nilai Rendy selama ini sama sekali tidak membaik." Ujarnya agak keras

"Maaf, bu. Saya sudah berusaha, tapi Rendy.."

"Saya tidak mau mendengar alasan, Erina. Kamu tahu berapa gajimu setiap bulan bukan? Saya berharap pengeluaran itu setimpal dengan hasil yang kamu berikan. Tapi kalau begini hasilnya, saya benar-benar kecewa.." ujarnya dengan nada agak ketus

"Tapi.."

"Begini saja. Saya akan tetap berpegang pada janji saya untuk menilaimu lewat hasil Rendy pada semester ini. Kalau nilainya masih juga belum membaik, saya terpaksa mencari pembimbing yang lebih mampu."

"Tapi bu.." aku berusaha memberi argumen dengan Bu Diana.

"Sudahlah Erina, saya harus pergi ke studio sekarang! Saya harap, kamu bisa memperbaiki nilai Rendy secepat mungkin!" tegas bu Diana sambil berlalu pergi keluar dari rumahnya.

Kata-kata bu Diana benar-benar membuatku mulai patah arang. Bagaimana cara menggerakkan anak sebandel itu untuk belajar? Yang kutahu ia hanya tertarik dengan game PlayStation dan koleksi film miliknya, baginya memegang buku pelajaran pasti lebih susah daripada berenang melintasi samudra! Rasa putus asa menyelimutiku saat aku membayangkan bagaimana membiayai kuliahku apabila bu Diana meberhentikanku. Dengan lesu, aku kembali ke kamar Rendy untuk mengajar. Namun, sesampainya di kamar, aku melihatnya tertawa terbahak-bahak saat aku memasuki kamarnya.

"Apa yang lucu?!" ketusku dengan muka masam.

"Mau dipecat ya, Kak? Kasihaan deeeh!" ejeknya sambil tertawa.

Mendengar ejekan Rendy sudah lebih dari cukup untuk membuat amarahku yang sudah lama terpendam, meledak seketika.

"Kamu maunya apa sih?! Kakak sudah memberimu penjelasan dan latihan-latihan, tapi sama sekali tak digubris!! Bagaimana nilaimu bisa bagus kalau kamu tidak pernah belajar!! Setiap hari yang kamu tahu cuma main game atau bengong saja!!" bentakku pada Rendy. Aku benar-benar merasa marah dan dipermainkan oleh anak itu. Tapi Rendy hanya tersenyum mendengar bentakanku itu.

"Oke deh, kalau Kakak maunya begitu. Rendy akan minta Mami untuk mencari guru baru. Kakak cari saja murid yang mau menurut!!" Ujarnya dengan sombong.

Seketika itu juga aku ambruk ke lantai, air mataku menetes karena putus asa. Aku sudah harus membayar biaya kuliahku bulan depan yang rencananya akan kubayar dengan gajiku bulan ini. Apabila aku diberhentikan sekarang, bagaimana caraku untuk membayar uang itu? Tidak mungkin meminta kiriman uang dari keluargaku, aku tidak memiliki kerabat di Jakarta dan lagipula mana mungkin teman-temanku mau meminjamkan uang untuk mahasiswi miskin sepertiku ini? Sebenarnya banyak mahasiswa yang tertarik padaku dan mau menjadi pacarku. Bisa saja aku meminjam uang dari mereka, namun aku tak mau kalau harus berhutang budi pada mereka, bisa saja itu menjadi alasan mereka untuk memaksaku menjadi pacar mereka. Pikiran bahwa aku harus berhenti kuliah membuatku galau dan putus asa. Aku pun menangis terisak di hadapan Rendy.

"Waah, malah nangis.. Dasar cengeng!" ejek Rendy saat melihatku menangis, namun itu tidak menghentikan isak tangisku.

"Oke, oke. Aku mau belajar, tapi kakak harus menuruti permintaanku, Oke?!" Rendy mulai membujukku.

"A..apa yang kamu mau?!" jawabku sambil terisak.

"Pertama, kakak berdiri dulu ya?" Rendy memegang tanganku dan membantuku berdiri. Aku pun segera beranjak bangun. Kulihat mata Rendy tampak menggerayangi lekuk tubuhku. Ia lalu berjalan berputar-putar mengelilingiku. Aku pun mulai risau melihat gelagat anak itu.

"Sudah! Jangan putar-putar melulu! Kepala kakak pusing tahu!! Kamu maunya apa sih?!" bentakku tidak sabaran.

"Kak, Rendy penasaran deh.." ungkap Rendy.

"Apanya?!"

"Kakak itu cewek kan?"

"Lalu kenapa? Bukannya sudah jelas kan?!" jawabku kesal.

"Kalau begitu, kakak punya memek juga doong.." balas Rendy dengan nada mengejek.

"Rendy penasaran nih.. Memek kakak mirip nggak ya, dengan memek cewek-cewek yang sering kulihat di film-film porno?" sambungnya dengan santai.

Oh, astaga! Bagai tersambar petir, aku benar-benar marah mendengar ucapan Rendy itu. Moral anak ini benar-benar sudah hancur sama sekali!! Bagaimana bisa dia menanyakan hal seperti itu didepan seorang gadis dengan santainya? Anak ini benar-benar sudah kelewat batas!

PLAAK.. Tanpa sadar kutampar pipi kiri Rendy hingga anak itu terjatuh ke lantai. Rendy pun merintih kesakitan.

"Aduh, sakiit.." rintihnya pelan.

Ya ampun! Apa yang telah kulakukan? Sesaat aku sontak tersadar, namun sudah terlambat. Tamparanku sudah keburu mendarat di pipi Rendy. Melihat Rendy yang terjatuh, aku pun merasa semakin panik. Segera kuhampiri Rendy yang masih merintih di lantai.

"Rendy, Rendy! Kamu nggak apa-apa kan?! Maaf ya, kakak tak sengaja. Maaf.." tanyaku cemas.

Aku berusaha menggenggam tangan Rendy, namun ia segera menepis tanganku.

"Pergi sana! Rendy akan laporkan kakak ke Mami!! Biar nanti kakak dituntut ke polisi!!" teriaknya.

"Rendy.. Kakak minta maaf ya? Kakak benar-benar tak sengaja.." aku benar-benar panik mendengar ancaman Rendy, yang sangat mungkin menjadi kenyataan mengingat keluarganya yang cukup terpandang.

"Nggak mau! Pergi sana!! Tunggu saja sampai Mami pulang, Kakak pasti kulaporkan!" ancam Rendy sekali lagi. Rendy segera beranjak, hendak keluar dari kamarnya.

Aku benar-benar putus asa dan kebingungan. Masalah yang datang menghampiriku silih berganti. Bagaimana ini? Sebelumnya, ancaman pemecatanku sudah diambang mata dan sekarang malah aku terancam dituntut oleh keluarga kaya ini. Pikiranku pun mulai buntu dan tanpa pikir panjang lagi, kutarik tangan Rendy untuk mencegahnya keluar kamar.

"Tunggu Rendy!! Kakak akan menuruti permintaan Rendy! Apapun! Tapi tolong jangan laporkan kakak ke bu Diana!" bujukku pada Rendy.

Langkah kaki Rendy terhenti sebentar. Rendy lalu melirik melihatku.

"Benar nih? Kakak nggak bohong kan?" tanyanya tidak percaya.

"Iya, iya! Kakak janji! Tapi cuma sekali ini saja ya!" jawabku putus asa.

"Oke deh kalau begitu. Rendy mau lihat memek kakak sekarang." Perintahnya padaku.

Ternyata Adikku Liar

Posted on August 31, 2011

Namaku Luky, saat ini usiaku 20 th, aku tergolong pemuda yang biasa saja penurut dan pendiam diantara saudaraku. namun di balik itu aku juga punya hasrat bercinta yang sangan hebat.

cerita ini terjadi sekitar 6 bulan yang lalu, ketika adikku sebut saja namanya nur. dia baru pulang dari luar tempat sekolahnya. nur adalah gadis yang cantik, dia sangat agresif di banding gadis gadis lain seusianya.

pada siang itu aku dan nur sedang tidur siang bersama, tapi aku selalu saja gelisah saat hanya berdua saja bersamanya. aku sudah sejak dulu berfantasi untuk bisa merasakan nikmatnya tubuh adikku itu. dadaku berdebar debar saat itu. tangan dan seluruh tubuhku bergetar hebat. tiba tiba aku memberanikan diri untuk memeluknya dari belakang. awalnya dia hanya diam saja dan kupikir mungkin saja dia memang masih tertidur. kuteruskan kegiatanku, aku gesek gesekkan bagian selakanganku di pantatnya dia tetap saja diam. akhirnya aku memberanikan diri untuk menyentuh buah dadanya dari luar bajunya dan dia tetap saja diam semakin lama aku meremas remas buah dadanya semakin kencang remasanku ke gumpalan daging empuk itu.

Tini : Aku Diperawani Bossku

Posted on July 5, 2011

“Ahhhh ….” Aku  hanya bisa mendesah pendek karena kesal saat suamiku sudah berejakulasi padahal penetrasinya baru berjalan kurang dari dua menit saja, sedangkan aku sendiri baru mulai menikmati persetubuhan ini.

Seharusnya aku bisa maklum karena ini adalah pengalaman pertama bagi suamiku yang baru melangsungkan pernikahan denganku.  Sedangkan aku sudah lebih dari empat tahun mengenal seks dan secara rutin berhubungan badan.  Sehingga dengan tanpa sadar tadi pun aku membantu suamiku memasukkan penisnya ke dalam liang vaginaku.

Tentu saja suamiku bahkan keluargaku sendiri tidak pernah tahu mengenai pengalaman seksku selama ini karena dari penampilan dan aktivitasku sehari-hari terlihat biasa-biasa saja.  Hal itu dimungkinkan karena aku hanya berhubungan badan dengan orang yang sama terus. Walaupun demikian aku sudah siapkan alasan kalau suamiku nanti mempermasalahkan tidak adanya pendarahan saat malam pertama.

Namaku Tini, aku bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan pelayaran kapal barang. Umurku waktu menikah adalah 28 tahun, tapi aku kehilangan keperawananku pada umur 23 tahun saat aku berkerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan telekomunikasi.  Di bawah ini adalah ceritaku mengenai pengalaman seksku yang pertama.

-------- oo0oo ---------

Hari ini adalah hari terakhir bossku ada di kantor cabang Bandung ini, karena mulai besok beliau akan digantikan oleh orang baru yang dipilih oleh kantor pusat.  Bossku memang mendapat promosi dari kepala cabang di Bandung menjadi direktur di Jakarta.  Padahal aku belum sampai dua bulan bekerja sebagai sekretaris di sini, sehingga selain harus beradaptasi dengan tempat kerja yang baru aku juga harus beradaptasi dengan boss baru.  Di tempat kerjaku ini, aku adalah karyawan yang paling muda karena karyawan lainnya rata-rata 10 tahun lebih tua.

Calon boss yang baru juga sudah datang karena hari ini akan menjadi hari serah terima de facto kantor cabang Bandung dari boss lama ke boss yang baru.  Ternyata boss baru ini masih muda, umurnya masih sekitar 26-27 tahun dengan badan yang tinggi besar dan cukup tampan dengan kumisnya yang tebal. Pak Yanto adalah nama boss baruku itu, beliau sudah berkeluarga dengan dua anak ; seorang  putri dan seorang putra.

Pak Yanto ternyata membawa gaya kepemimpinan yang sama sekali berbeda dan membawa moderenisasi dalam bekerja.  Karyawan-karyawan yang asalnya terbiasa dengan kerja individual sekarang dipaksa kerja secara kolektif dalam suatu team work.  Semua karyawan tanpa kecuali harus melek teknologi dan untuk itu boss baru tidak segan-segan turun sendiri mengajari.  Sebagai sekretaris akupun banyak belajar dari beliau tetang berbagai hal dan karena aku adalah karyawan yang paling sering berinteraksi dengan beliau tentunya aku punya paling banyak kesempatan untuk belajar .

Pelahan-lahan mulai muncul rasa kagumku pada pak Yanto dan mulai mengidamkan mendapatkan jodoh seperti beliau atau mendekati kemampuan beliau.  Berbeda dengan karyawan pria lain yang suka memandang rendah bahkan melecehkan sesama karyawan wanita, pak Yanto sangat santun kepada wanita baik itu karyawannya maupun bukan.  Hal ini membuat muncul rasa sayangku pada pak Yanto karena aku merasa bisa berlindung kepada beliau.

Kombinasi rasa hormat, kagum dan sayang membuat aku merasa  selalu ingin dekat dengan beliau, sehingga saat kami sedang berdua aku kadang-kadang bersikap agak manja dan kelihatannya beliau tidak keberatan.  Lambat laun aku mulai melihat bahwa pak Yanto pun mulai merasa nyaman kalau dekat dengan aku.   Walaupun demikian kesempatan kami bisa berdua hanya saat berada di kantor saja sehingga semua urusan adalah berkaitan dengan pekerjaan dan pak Yanto tidak pernah mencoba mengajakku keluar berdua selain karena urusan kantor.

Hingga pada suatu waktu kantor Bandung harus bertindak sebagai tuan rumah pelatihan produk baru dari perusahaan dan pada akhir acara semua peserta ingin berwisata ke Ciater Subang. Walaupun aku bukan peserta training, tapi sebagai wakil panitia aku harus menemani mereka berwisata ke sana.  Seperti yang aku khawatirkan sebelumnya, sebagai wanita satu-satunya dimana peserta lainnya adalah pria, aku menjadi bulan-bulanan yang cenderung melecehkan.

Untung saja pak Yanto segera melihatnya sehingga bisa menarikku dan mengajakku pulang lebih awal karena teman-teman kantor Bandung yang lain pun tidak bisa diandalkan untuk melindungi aku.  Akhirnya aku pulang berduaan saja dengan pak Yanto dan pada kesempatan sepanjang perjalanan kembali ke Bandung kami manfaatkan untuk mengobrolkan hal-hal diluar perkerjaan bahkan ke hal-hal yang agak pribadi.

“Udah hampir sampai Bandung nih …” kata pak Yanto “Enaknya ke mana dulu ya ?”

“Lho … kenapa ga langsung pulang ? ” Kataku keheranan “Bukankah bapak biasa ada acara bersama keluarga kalau malam minggu seperti sekarang ?”

“Saya sudah tanggung nih ijin pulang malam ke istriku untuk nemenin orang-orang tadi” jelas pak Yanto

“Kalau begitu terserah bapa saja deh …” kataku dengan perasaan campur aduk antara senang bisa bersama beliau di malam minggu dengan rasa takut bepergian dengan suami orang.

“Okay … Jadi malam ini kita akan malam mingguan berdua  ya ” Sahut beliau sambil tersenyum.

Thya : Keperawananku Adalah Hadiah Ulang Tahun Buat Bossku

Posted on July 5, 2011

“Pak nanti kalau ulang tahun di Taipei mau diberi hadiah apa ?” Tiba-tiba aku bertanya pada bosku di tengah-tengah obrolan selama perjalanan dari Jakarta ke Taipei yang memakan waktu hampir 5 jam.  Saat itu aku sedang menemani bosku melakukan kunjungan rutin ke supplier perusahaan kami di Taiwan sekaligus mengunjungi pameran di sana selama kurang lebih satu minggu.

Namaku Thya, aku adalah General Manager Administration, Logistik & Purchasing di perusahaanku sehingga aku yang akan menemani boss apabila melakukan pertemuan dengan supplier-supplier perusahaan.  Aku orang menado yang sudah lama tinggal di Bandung,  berbadan mungil dengan kulit yang putih bersih serta rambut pendek.  Saat itu walaupun umurku sudah 28 tahun tapi aku belum menikah dan masih perawan walaupun sudah punya pacar.

“Memangnya laki-laki umur 37 tahun masih butuh kado kalau ulang tahun ?” Jawab pak Yanto dengan tersenyum.  Pak Yanto adalah nama bossku, selain sebagai pimpinan perusahaan dia juga merupakan pemilik perusahaan yang dia bangun sendiri dari nol.  Secara fisik, pak Yanto sangat kontras denganku; badannya tinggi besar dengan kulit sawo matang ditambah dengan bulu-bulu yang lebat yang mebuat pak Yanto terlihat macho bagiku.  Oh ya, bossku ini sudah menikah dengan dua anak yang sudah besar dan aku kenal cukup dekat dengan keluarganya karena diperusahaan kami sering diadakan family gathering paling sedikit setahun sekali.

Selama ini hubungan kami hanya sebatas professional, walaupun kuakui aku punya rasa simpati dan kagum yang sangat besar kepada pak Yanto karena aku mengikuti beliau sejak perusahaannya bukan apa-apa sampai menjadi perusahaan yang disegani.

“Biasanya kalau orang dikasih kan mau saja pak” Kataku dengan muka yang dipasang seserius mungkin.

“Kalau begitu saya hanya bakal menerima hadiah dari kamu saja Thya, wong pas saya ulang tahun kita masih di Taiwan” balas pak Yanto sambil tertawa “Nah … kamu emangnya bisa kasih apa ?”

“Orang Manado itu katanya terkenal karena bubur dan bibirnya” Jawabku dengan bercanda seperti biasa “ … dan karena kita sedang berada di Taiwan, saya tidak mungkin bisa membuatkan bubur untuk bapak jadi tinggal bibir Manadonya saja yang memang selalu ada bersama saya”.

Kata-kata itu terlepas begitu saja tanpa sempat aku pikirkan dulu akibatnya, malah yang sempat aku khawatirkan adalah apabila candaku itu membuat marah pak Yanto.  Hal ini yang membuatku jadi salah tingkah sendiri dan pura-pura melihat-lihat majalah penerbangan yang ada di hadapanku.

“Wah menarik nih …” kata pak Yanto dengan suara serius seperti kalau mendapat ide bisnis baru “Artinya kamu mau kasih hadiah ciuman bibir Manado kan di hari ulang tahun saya ?”

Keperwananku yang Di ambil Pacarku

Posted on February 11, 2011

perkenalkan nama saya Lisa. saya gadis berumur 19 tahun.cerita sex saya berawal pada saat saya berada di bangku sekolah menengah pertama.saat itu saya duduk di bangku kelas 2, pada bulan februari saya bertemu dengan seorang laku-laki bernama Juda.

Juda duduk di bangku sekolah menengah atas. Kami saling jatuh cinta dan akhirnya kami memutuskan untuk menjalin hubungan.Pada awal-awal masa pacaran kami hanya melakukan oral sex, itupun aku lakukan karena aku takut kalau di kecewa dan berpaling dariku (karena sebenarnya aku tidak mau). Kami sering sekali bertengkar karena masalah yang sama yaitu karena aku selalu menolak setiap kali aku di ajak berhubungan badan.

Itu aku lakukan karena aku ingin mempertahankan keperawananku saat itu.Kejadian ini bermula saat orang tuaku pergi, karena kebiasaan kedua orang tua ku kalau pergi pasti pulangnya pagi.aku menghubungi pacarku itu, aku menyuruhnya agar ia cepat datang ke rumahq karena rumahku sedang sepi.selang 15menit kemudian dia meneleponku dan mengatakan bahwa dia sudah ada diluar pagar rumahku. aku pun mengambil kunci gembok pagar rumahku dan membukanya dengan hati-hati.

setelah pintu aku buka dengan cepat pacarku langsung lari ke arah kamarku. karena kebetulan kamarku berada di paling depan dan ada pintunya.setelah aku kembali ke kamar dia memastikan bahwa tidak akan ada celah untuk orang melihat dan masuk.Lalu dia mulai menciumi bibirku, aku pun menyambutnya dengan penuh senang hati. sambil menciumi aku dia mulai meraba-raba tubuhku. di mulai dari mengelus-ngelus pantatku, kemudian naik ke ke dua buah dadaku.Lalu dia menjatuhkan ku di atas tempat tidurku. dia terus menciumi aku dengan penuh nafsu, lalu kedua tangannya menerobos masuk ke dalam buah dadaku yang masih kencang meskipun itu tidak terlalu besar hanya sebesar satu kepalan tangan. dia mulai membuka baju tidurku dan dengan cepat ia melepaskannya dari tubuhku, dan sekarang aku sudah setengah telanjang.

lalu mulutnya turun ke buah dadaku dan dia mulai menciumi buah dadaku sambil menyedot-nyedot puting susuku yang kecil itu.tak lupa tangannya menyelinap masuk ke dalam CD ku.setelah lama ia memainkan buah dadaku, kini ia melepas baju dan celananya. tak lupa ia juga melepaskan bawahan yang masih aku pakai beserta CD yang aku kenakan.dia pun mulai mengarahkan penis nya ke dalam mulutku, lalu aku kulum dan aku jilati kepala batang kemaluannya itu.tak lama berselang lalu dia meminta ku untuk memasukkan penisnya kedalam lubang vaginaku.

Windy

Posted on January 2, 2011

Cerita ini terjadi saat aku masih kelas 1 smp. Umur yg masih sangat muda untuk mengenal seks.aku bersekolah di suatu smp swasta di suatu kota di kaltim. Suatu hari aku dikenalkan sama temanku dengan windy. Tubuhnya agak gemuk tapi toketnya sangatlah besar untuk seusianya. Ku taksir ukurannya 34B. setiap hari aku smsan sama windy. Suatu hari aku ajak dia jalan-jalan berkeliling sekitar rumah hingga malam hari, saat aku mengantarnya pulang dia mengajakku main ke rumahnya dan aku masuk ke rumahnya. Ternyata rumah sangat sepi. Orangtuanya sedang keluar kota dan kakak-kakaknya sedang pergi jalan. Windy adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak-kakaknya cowok semua. Aku menemaninya menonton tv lalu dia berkata sama aku “eh kamu pernah nonton bokep ga?” “pernah,mang napa?” “aku punya bokep,kita nonton yuk” setelah itu dia mengajakku ke kamarnya dan nonton di komputernya. Aku sudah nonton bokep sejak kelas 6 sd. Bokep yang kita tonton adalah bokep indo,sepasang anak smp yg masih berpakaian seragam sedang ngentot di hutan. Aku jadi terangsang menonton film tersebut,begitu pula windy nafasnya mulai terengah-engah. Aku beranikan menyentuh toketnya dan meremasnya. “hhmmmm..hmmm” windy mulai semakin bernafsu lalu dia mencium bibirku,saling melumat dan memasukan lidahku ke mulutnya begitu pula sebaliknya. Aku mulai membuka bajunya dan bh sekaligus. Ternyata toketnya memang sangat besar dan montok dengan putting agak keclokatan. Aku emut putingnya berganti kiri dan kanan. Setelah puas menjelati ak membuka celana sekaligus cdnya. Memek sangat wangi dan mulai di tumbuhi rambut-rambut halus. Ak menjilatinya. Setelah puas ak melepas semua pakaianku hingga bugil.”wow kontolmu lumayan jg trus bulunya lebat banget!” lalu windy mulai menghisapi kontolku yang tegang. Aku benar-benar merasakan suatu kenikmatan. Tidak tahan lagi aku kangkangi windy “kamu masih perawan?” “iya,jd hati-hati ya” lalu ak masukan penisku perlahan dan memang memek windy masih sangat sempit tapi ak coba terus untuk memasukannya. Sekitar 15 menit akhirnya kontolku amblas dalam memeknya windy “aauww sakit,pelan donk” aku tidak memperdulikan ucapan dan menggenjot makin cepat. Windy pun mulai merasakan keenakan dan mulai berdesah “ahh ahh ahh ter..ruu..sin!” windy berdesah terputus. Aku genjot terus sambil menghisapi putingnya. 5 menit kemudian “duh aku mau keluar nih” kata windy dan tak lama kemudian aku merasakan cairan hangat membasahi kontolku. Lalu ku cabut kontolku dank u arahkan ke mulutnya. Windy langsung menghisap. Tak lama kemudian aku semprotkan spermaku dalam mulutnya. “duh enak banget ya ngentot!” kata windy “iy,kapan-kapan kita ulang lagi ya” “iya” setelah itu kami berpakaian dan akupun pamit.sebelum pulang aku sempat mencium bibir windy. Itulah kisahku dengan windy. Setelah itu kita sering ngentot dengan banyak gaya seperti yang ada di film. Sekarang aku sudah kelas 1 sma. Semenjak kelas 3 smp aku pindah keluar kota dan aku pun sangat sedih. Tapi bukan Cuma dengan windy saja aku ngentot. Aku juga ngentot dengan selvy yg beda sekolah denganku,dengan teman sdku riska dan dian. Saat di kota baruku aku jg ngentot dengan adik kelasku imas dan anggi dan dengan kakak kelasku ipeh. Nanti akan kuceritakan kisahku dengan mereka.

Sekian dan terima kasih

Rina : Training Management Di Atas Ranjang

Posted on December 19, 2010

“Adduuuhhh....Sakit Kang …pelan-pelan masukkinnya …” Aku pura-pura merintih kesakitan saat suamiku melakukan penetrasi pertama kalinya di malam pengantin kami.

“Akkkhhhhh ….Sakit sekali Kang ….aduuhhhhh …” Kembali aku pura-pura menjerit kesakitan ketika penis suamiku sudah setengah jalan sambil tanganku mencakar punggungnya.

Akhirnya aku bisa merasa lega setelah aku merasakan adanya rembesan cairan yang keluar dari liang senggamaku. Supaya kesannya liang senggamaku masih sempit seperti anggapan laki-laki kebanyakan tentang perawan, aku menahan kontraksikan otot-otot vaginaku selama mungkin. Aku tidak mau memakai jamu-jamuan untuk bikit “rapet” vagina karena akan membuatku kesakitan beneran saat penetrasi.

Untunglah semuanya akhirnya berjalan lancar, suamiku bisa menunaikan tugas pertamanya dengan baik walaupun aku tidak bisa mendapat orgasme yang karena mungkin aku terlalu berkonsentasi pada akting perawanku. Tapi yang paling penting dia tidak curiga aku sudah tidak perawan lagi karena selain aku berpura-pura belum pernah bersetubuh tapi juga ada “bukti nyata” berupa darah perawan yang berceceran di seprei.

Aku memang sudah tidak perawan lagi waktu menikah, keperawananku sudah diambil bossku dari kantor tempat aku bekerja saat kami berdinas di luar kota kurang lebih setahun sebelumnya. Beliaulah yang mengatur strategi buatku supaya aku bisa melewati malam pertamaku dengan “mulus” sehingga ketidak perawananku tidak mengganggu awal rumah tangga baruku.

Dari beberapa opsi yang beliau ajukan supaya aku terlihat perawan lagi di malam pertama, aku mengambil opsi synthetic hymen yang lebih praktis dibandingkan operasi plastik selaput dara. Aku minta untuk dibelikan synthetic hymen sebanyak yang memungkinkan supaya aku bisa berlatih dulu sampai fasih supaya calon suamiku yang sangat pecemburu tidak curiga. Inti latihannya adalah memasang synthetic hymen dengan tepat dan tidak mencurigakan karena kesempatannya hanya satu kali saja. Kemudian belajar pura-pura merintih kesakitan saat (calon) suamiku melakukan penetrasi pertama, baik awal kepala penis masuk maupun saat “selaput dara” mulai robek. Terakhir adalah belajar mengkotraksikan otot-otot vagina untuk member kesan liang senggamaku masih sempit.

Tentu saja aku meminta bantuan bossku itu untuk “memerawani” aku lagi berkali-kali dengan menggunakan synthetic hymen tersebut sampai aku benar-benar percaya diri untuk melakukannya sendiri. Bossku memasang kamera yang merekam setiap adegan latihan tersebut supaya bisa kami bahas sesudahnya. Setiap latihan “malam pertama” ini dilakukan dengan lengkap, mulai dari melakukan fore play sampai bossku ejakulasi. Aku harus melatih menjaga reaksiku seperti benar-benar baru pertama kali bersetubuh, bukan sebagai wanita yang sudah sangat berpengalaman dalam berhubungan badan. Untungnya aku dan suamiku sering melakukan petting waktu pacaran, sehingga aku tidak perlu belajar berpura-pura malu telanjang dihadapan dia.

Akhirnya aku merasa benar-benar lancar melakukannya setelah 7 kali latihan ditambah satu kali “gladi resik” yang semuanya kami lakukan dalam 2 minggu sebelum hari perkawinanku.

Andai Dia Jadi Milikku

Posted on December 8, 2010

Namaku Fiko. Aku ingin berbagi kisah namun minta maaf kalo cerita dan bahasanya tidak bagus. terserah pembaca mau kasih comment apa terhadap aku maupun ceritaku. Kisah ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu ketika aku masih kuliah di sebuah PT swasta di kota dekat tempat tinggalku. Aku memang cukup pendiam dan terkesan dingin terhadap cewek. Mungkin karena didikan ortuku yang keras dan mungkin juga karena keadaan ekonomi dan fisikku yang hanya 'pas-pasan'. Namun karena aku lelaki normal, tentu saja aku mempunyai keinginan yang besar untuk punya pacar, ML dll, seperti yang teman-temanku lakukan. Namun entah mengapa keinginan itu terus saja aku simpan sampai-sampai meski semenjak aku SMA beberapa cewek sempat menyatakan perasaannya padaku, bahkan ada yang langsung nembak aku ('gak sombong lohhh'). Namun sekali lagi, aku merasa nggak pantas punya pacar, entah takut berbuat dosa ato takut mengganggu studyku, karena aku dari semenjak SD selalu mendapat Ranking 1. Ketika kuliah aku mulai membuka hatiku untuk memandang cewek di sekitarku, dan itu aku lakukan dengan mengikuti hampir semua UKm (Unit Kegiatan Mahasiswa) di kampusku. Sehingga aku mendapat banyak kenalan maupun teman cewek. Ada satuyang agak berkesan di hatiku waktu itu. Sebut saja namanya Maya. Dia anak Bangka yang berkulit sawo matang dan mengambil satu jurusan denganku namun beda satu tingkat di bawahku. Tingginya 160 cm dengan berat badab 50kg. Cukup ideal bagiku karena aku juga cm 162cm, 55kg. Mulanya aku biasa saja sama dia, namun akhirnya aku merasa dialah yang paling aku cintai sampai saat ini. Meski sekarang dia telah menikah dengan seorang anggota TNI, namun aku merasa perasaanku dengannya belum tergantikan. Aku mengetahui dia ada rasa sama aku karena dia sering maen ke Kopma yang waktu itu aku lagi aktif disana. Sampai pada suatu ketika aku diminta maen ke kontrakannya. sebagai informasi, dia tinggal sendiri di sebuah rumah kontrakan milik familinya. bapaknya bekerja di PELTIM sehingga dia mempunyai cukup biaya untuk mengontrak rumah sendiri semasa kuliah. Beberapa hari semenjak aku maen ke kontrakannya, dia makin sering menemuiku, dan akhirnya dia memberikan sepucuk surat kepadaku, yang intinya dia ingin berteman lebih dekat denganku karena di sini dia sendiri, jauh dari ortu dan butuh teman sebagai 'kakak'nya. Aku mengiayakan saja karena aku emang ada rasa ama dia. Akhirnya aku jadi sering main ke kontrakannya, dan dari situlah cerita ini berlanjut.Singkat cerita aku dan dia jadian, sekitar bulan November. dan setelah dia menyatakan perasaannya, aku memegang tangannya, dan aku cium keningnya. Rasanya indah sekali waktu itu karena aku emang belum pernah mencium cewek sebelumnya. lama-lama kita sering jalan bareng ke pantai dan ke tempat-tempat lain yang romantis, dan semakin lama pula aku dan dia semakin berani cium bibir, french kiss, petting, saling raba dan bahkan saling kulum kemaluan kami. Awal kejadiannya waktu itu aku kemaleman dan ndak bisa pulang ke rumah karena kehabisan angkot, terus dia nawarin untuk nginep di kontrakannya. Aku menolak karena takut ketahuan orang kompleks atu tertangkap pak RT, namun dia berhasil meyakinkan aku dan membuat rencana agar aku bisa aman masuk ke rumahnya. Akhirnya sampailah aku di rumahnya dengan naik becak, dan aku menyelinap masuk. Jantungku begitu berdebar karena takut tadi ada yang melihatku, tapi lama kelamaan aku menjadi tenang karena emang aku lihat di komplek waktu itu sepi sekali. sekitar jam 11 dia pamit mau tidur, sementara aku masih asik menonton TV. sekitar jam 12 aku matikan TV dan menyiapkan kasur di depan TV. namun sekitar 10 menit aku dikejutkan dengan terbukanya pintu kamar dia.
"Belum tidur, mas?" tanya dia.
"Belum, entah kenapa aku sulit tidur. Mungkin aku saking khawatirnya kalo ketangkep....he he", jawabku
'Udah tenang aja, toh kita nggak ngapa-ngapain...'
'Emangya kalo kita ngapa-ngapain bakal ketangkep?'
Dia tidak menjawab namun malah bertanya,'Mau dak aku temenin tidur?" Aku jawab saja, 'Aku maunya ditidurin..."
'Apa!!" 'Maksudku di nina-boboin'.... 'ya udah sini kuelus punggung mas biar cepet tidur..." beberapa saat kemudian dia bertanya:

' Dah ngantuk belum?'

'Wah kalo gini aku jadi dak bisa tidur..'

'Mas..."

'Ya, kenapa?'

Aku sayang ma Mas. Mas gimana sih ma aku?'

Aku juga sayang ma kamu,  aku suruh gimana sih biar kamu percaya??

Masa lalu yang kembali

Posted on November 26, 2010

Setelah kuliah aku langsung pulang ke rumah karena ngantuk berat.. Tadi malem aku begadang di rumah temen nonton final liga Champion. Aku membuka pintu samping rumahku dan terhenyak melihat wajah seseorang yang sedang duduk bersama ibuku di ruang tengah. "Dani, masih inget kan sama mbak Elly..?" Aku sempat bengong selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. "Ayo duduk sini.." Aku menyalami mbak Elly dan dengan perasaan campur aduk duduk di sebelah ibu. Kata kata ibu selanjutnya membuat kepalaku serasa berputar, " mulai hari ini mbak Elly kerja disini lagi sama kita Dan.. Mudah mudahan betah ya El..?" Mbak Elly mengangguk sambil tersenyum padaku. Ia tampak lebih.. lebih menarik dari apa yang selama ini ku bayangkan.. Aku berdiri dan permisi untuk masuk kamar, dengan sudut mata, aku sempat melirik mbak Elly.. Kulitnya terlihat bersih.. dan dadanya.. pikiran mesumku berhenti ketika kakiku tersandung kaki kursi..Aku langsung masuk kamar, meninggalkan ibu dan mbak Elly mengobrol di ruang tengah..

Ya, dulu mbak Elly pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga kami. Ia bekerja sekitar 2 tahunan lalu berhenti bekerja karena menikah. Aku masih kelas VI SD waktu mbak Elly pamit sama orang tuaku untuk menikah.. Terbayang jelas apa yang saat itu kurasakan, selama beberapa minggu aku mengalami kesulitan tidur. Ayahku menggerutu sama ibu, itulah akibatnya kalau anak kita satu satunya terlalu deket sama pembantu, sampai tidur aja dikelonin si Elly.. Ya, aku memang tidur sekamar dengan mbak Elly karena ayahku seringkali menonton TV sampai larut malam sambil merokok di kamar tidurnya. Sehingga ibu merasa lebih baik kalau aku tidur terpisah.

Sebetulnya ada yang tidak mereka ketahui tentang mbak Elly.. dan aku.. Awalnya semua berjalan biasa biasa aja, aku memang sangat deket sama mbak Elly yang cukup sabar dan telaten mengurus rumah.. Kesibukan ayah sebagai kontraktor seringkali mengharuskan beliau keluar kota, dan ayah sering kali meminta ibu  mendampinginya. Awalnya aku sering diajak tapi karena takut keseringan bolos sekolah, orang tuaku lebih memilih menitipkanku ke mbak Elly.. Mbak Elly sangat memperhatikanku seperti anaknya sendiri, membuatku merasa nyaman walau sering ditinggal orang tuaku ke luar kota. Entah bagaimana awalnya aku tak ingat pasti, aku mulai merasakan ada sesuatu diantara aku dan mbak Elly. Usiaku yang memasuki usia puber 12 tahun, dan mbak Elly waktu itu berusia sekitar 18 tahun saat dimana seseorang mengalami kematangan seksual. Aku mulai merasakan desiran perasaan lain selain perasaan nyaman setiap kali berdekatan dengan mbak Elly. Harus kujelaskan disini bahwa mbak Elly selain dianugrahi wajah manis yang selalu ceria, juga memiliki tubuh proporsional yang cukup aduhai. Seringkali tanpa sengaja aku bersentuhan dengan dadanya yang montok yang terasa kenyal dan padat. Bahkan setelah beberapa lama, aku seringkali mengalami ereksi saat berdekatan dengannya. Suatu saat, mbak Elly menyuruhku duduk di teras belakang rumah. Ia duduk persis di belakangku, tangannya menelisik rambutku.. mencari kutu di kepalaku karena aku sering garuk2 kepala. Entah tanpa sadar atau disengaja, kedua payudaranya yang montok menempel di punggungku.. Aku merasakan desiran gairah itu perlahan membuat kemaluanku semakin menegang. Setiap kali ia bergerak, payudaranya yang menempel dipunggungku ikut bergerak gerak.. sensasi yang luar biasa  membuatku tak hanya merinding tapi juga membuat kemaluanku semakin mengeras berdenyut denyut.. Setelah beberapa lama, mbak Elly meyuruhku mandi.. Aku berdiri lalu menyadari mbak Elly sedang menatap selangkanganku dengan melotot.. Aku menunduk dan terkejut, ternyata ereksiku tampak jelas menonjol dari celana pendekku.. "Lho koq ada yang bangun..?" Belum habis rasa kaget ku ketika tiba tiba tangan mbak Elly meremas selangkanganku. Sebetulnya hanya beberapa detik saja ia meremas2 kemaluanku sambil bercanda, tapi efeknya sungguh luar biasa.. Aku seperti tersengat rasa nikmat ketika untuk sesaat tangan mbak Elly menelungkupi seluruh kemaluanku, jari2nya menyentuh kantung zakarku dan bergerak ke atas sepanjang batang kemaluanku yang teracung tegang.. Wajahku terasa panas karena malu, aku langsung berlari ke kamar mandi.

Malam Pertama dengan kekasihku

Posted on September 6, 2010

Namaku Anggi, umurku 22 tahun. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Saat ini aku sudah  berada di tingkat akhir dan sedang dalam masa penyelesaian skripsi. Sebelum aku memulai kisah yang akan menjadi kisah indah bagiku, perkenankan aku mendeskripsikan diriku. Tinggiku 160 cm dengan berat 45 kg. Rambutku hitam panjang sepinggul dan lurus. Kulitku putih bersih. Mataku bulat dengan bibir mungil dan penuh. Payudaraku tidak terlalu besar, dengan ukuran 34 B.

Sebulan yang lalu, seorang laki-laki berumur 28 tahun memintaku jadi pacarny. Permintaan yang tak mungkin aku tolak, karena dia adalah sosok yang selalu ku impikan. Dia seperti pangeran bagiku. Badannya yang tinggi dan atletis serta sorot matanya yang tajam selalu membuatku terpana. Namanya adalah Rico, kekasih pertamaku. Rico sudah bekerja di perusahaan swasta di Jogja. Rico sangat romantis, dia selalu bisa membawaku terbang tinggi ke dunia mimpi. Ribuan rayuan yang mungkin terdengar gombal selalu bagai puisi di telingaku. Sejauh ini hubungan kami masih biasa saja. Beberapa kali kami melakukan ciuman lembut di dalam mobil atau saat berada di tempat sepi. Tapi lebih dari itu kami belum pernah. Sejujurnya, aku kadang menginginkan lebih darinya. Membayangkannya saja sering membuatku masturbasi.

Hari ini (30 Maret 2010) tepat sebulan hari jadi kami. Rico dan aku ingin merayakan hari jadi tersebut. Setelah diskusi panjang, akhirnya diputuskan weekend kita berlibur ke kaliurang.

Sabtu yang ku tunggu datang juga. Rico berjanji akan menjemputku pukul 07.00 WIB. Sejak semalam rasanya aku tidak bisa tidur karena berdebar-debar. Untuk hari yang istimewa ini, aku juga memilih pakaian yang istimewa. Aku mengenakan kaos tanpa lengan berwarna biru dan celana jeans 3/4. Rambut panjangku hanya dijepit saja. Karena takut nanti basah saat bermain di air terjun, aku membawa sepasang baju ganti dan baju dalam. Tak lama kemudia Rico datang dengan mobil honda jazz putihnya. Ahh,, Rico selalu tampak menawan di mataku. Padahal dia hanya memakai kaos hitam dan celana jeans panjang.

"Sudah siap berangkat, Nggi?" aku pun mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Perjalanan tidak memakan waktu lama karena jalanan masih cukup sepi. Sekitar 45 menit kemudian kita sampai di tempat wisata. Ternyata pintu masuk ke area wisata masih ditutup.

"Masih tutup, mas.. Kita jalan dulu aja ke tempat lain, gimana?" tanyaku
"Iya.. coba lebih ke atas. Siapa tau ada pemandangan bagus."

Rico segera menjalankan mobilnya. Tidak begitu banyak pemandangan menarik. Begitu sekeliling tampak sepi, Rico memarkir mobilnya.

"Kita nunggu di sini aja ya, sayang. Sambil makan roti coklat yang tadi aku beli. Kamu belum sarapan, kan?"
"iya, mas.. Anggi juga lapar"

Sambil makan roti, Rico dan aku berbincang-bincang mengenai tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Tiba-tiba...

"Aduh Anggi sayang, udah gede kok makannya belepotan kayak anak kecil,,," ucapnya sambil tertawa. Aku jadi malu dan mengambil tisue di dashboard. Belum sempat aku membersihkan mukaku, Rico mendekat, "Sini, biar mas bersihin." Aku tidak berpikir macam-macam. Tapi Rico tidak mengambil tisue dari tanganku, namun mendekatkan bibirnya dan menjilat coklat di sekeliling bibirku. Oooh,, udara pagi yang dingin membuatku jantungku berdebar sangat kencang.

"Nah, sudah bersih." Ucap Rico sambil tersenyum. Tapi wajahnya masih begitu dekat, sangat dekat, hanya sekitar 1-2 cm di hadapanku. Sekuat tenaga aku mengucapkan terima kasih dengan suara sedikit bergetar. Rico hanya tersenyum, kemudian dengan lembut tangan kirinya membelai pipiku, menengadahkan daguku. Bisa ku lihat matanya yang hitam memandangku, membuatku semakin bergetar. Aku benar-benar berusaha mengatur nafasku. Seketika, ciuman Rico mendarat di bibirku. Aku pun membalas ciumannya. Ku lingkarkan kedua tanganku di lehernya. Ku rasakan tangan kanan Rico membelai rambutku dan tangan kirinya membelai lenganku. Tak berapa lama, ku rasakan ciuman kami berbeda, ada gairah di sana. Sesekali Rico menggigit bibirku dan membuatku mendesah, "uhhhh..." refleks aku memperat pelukanku, meminta lebih. Tapi Rico justru mengakhirinya, "I love you, honey" Lalu mengecup bibirku dengan cepat dan melepaskan pelukannya. Aku berusaha tersenyum, "I love you, too". dalam hati aku benar-benar malu, karena mendesah. Mungkin kalau aku tidak mendesah, ciuman itu akan berlanjut lebih. Aaahh,,, bodohnya aku. Rico lalu menjalankan mobilnya menuju tempat wisata.

Kami bermain dari pagi hingga malam menjelang. Tak terasa sudah pukul 19.00 WIB. Sebelum kembali ke kota, kami makan malam dulu di salah satu restoran. Biasa, tidak ada makan malam hanya 1 jam. Selesai makan, ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 21.30

"Waduh, mas,,, sudah jam segini. Kos Anggi dah tutup, nih. Anggi lupa pesen maw pulang telat. Gimana, ini?"
"Aduuh,, gimana, ya?? Ga mungkin juga kamu tidur di kos mas."
"Uuuh,, gimana, dong??"
"Udah, jangan cemas. Kita cari jalan keluarnya sambil jalan aja."

Selama perjalanan aku benar-benar bingung. Di mana aku tidur malam ini??

"Sayang, kita tidur di penginapan aja, ya. Daerah sini kan banyak penginapan. Gimana?"
"Iya deh, mas.. dari pada Anggi tidur di luar"

Page optimized by WP Minify WordPress Plugin