Kegadisan Yulia
Waktu diusiaku yang beranjak dewasa, aku merasa bangga terhadap diriku yang ceria, supel, riang, penuh canda dan memiliki keindahan yang ada di dalam diriku. Tidak jarang aku berkumpul dan berjalan-jalan dengan kenalan baru, untuk saling mengetahui hal-hal yang baru. Aku di sekolah memiliki teman yang cantik dan seksi, sebut saja namanya Rina, tetapi diriku memiliki lebih dari apa yang dimilikinya. Temanku memiliki tubuh yang ideal, tinggi diatas 165 cm, berat 40 kg lebih, kulit putih mulus, bokong yang padat, dan yang paling kami banggakan adalah keindahan kedua buah dada yang kami miliki (34B lebih ukurannya), terkadang kami suka memakai pakaian yang pedek dan ketat untuk dapat memamerkan apa yang kami miliki, dan tentu saja indahnya tubuh kami sering dipuji. Bangga rasanya dapat menarik perhatian orang, yang terkadang tidak berkedip melihatku.
Sebut saja namaku Yulia, aku sangat akrab dan saling berbagi dengan temanku ini, walaupun itu hal yang kecil dan sepele. Di sekolah dan sepulang sekolah, rasanya seperti perangko saja, jarang berjauhan dan selalu terlihat bersama, dan tidak jarang kami menginap bergantian. Kalau sedang berdua, kami sering membandingkan sosok tubuh kami, apa yang kurang dan apa yang lebih. Kami membandingkan tubuh dengan berbagai macam jenis pakaian, dari yang dapat memperlihatkan indahnya tubuh dan pakaian yang benar-benar tertutup.
Dia sering bercerita apa yang sering dilakukannya dengan pacarnya, sampai ke hal-hal yang disukainya. Saat kami duduk berdua, dia menceritakan bagaimana dia merawat dadanya, dia mengajarkan bagaimana menghindari penyakit kanker payudara. Rina mengajarkan cara memijat dan lain-lain. Dia mengatakan kalau wanita menyusui sangat minim untuk terkena kanker. Dengan berbisik, Rina mengatakan kepadaku cara menjaganya dengan cara lain, tetapi lebih suka bila dibantu.
Dia berbisik lagi, "Dibantu dengan pacarku."
Lalu kubertanya, "Bagaimana..?"
"Sepeti ini (tanganya lalu meremas-remas dadanya) dan kadang dihisap, awalnya aku risih, tapi karena aku suka, jadi aku menyenanginya (pacarnya dan caranya)."
"Aku bingung.., seperti apa sih..?" jawabku.
"Bodoh kamu..!" kata Rina, lalu dia melepaskan pakaiannya dan memang bentuknya indah, aku saja terkagum-kagum, apa lagi pacarnya, buah dadanya mulus dan terlihat padat.
Lalu dia melepaskan BH yang menutupi keindahan dadanya. Kedua dada yang padat dan kedua puting yang merah terlihat lembut. Lalu tanganya meraba-raba, meremas-remas kedua puting yang terlihat bulat, akhirnya kedua puting payudara itu mengeras dan kedua dadanya tegang.
"Seperti ini..." katanya.
Dan dia memainkan puting yang merah itu sambil berkata, "Dia menghisap ini dengan nafsu, dan lembut juga lidahnya memainkan ini, nikmat loh..!"
"Apa nikmatnya..?" kataku.
Lalu dia menghampiriku dan tanganya meraba dadaku (yang ukurannya lebih besar dari miliknya), "Seperti ini loh Non.., dadamu boleh juga ya..?" kata Rina sambil tersenyum dengan peragaan kedua tangannya.
Rasanya aku tidak menyuka hal seperti ini, tetapi perlahan-lahan aku rasakan nikmat.
"Awalnya risih, tapi lama-lama rasanya lumayan, enak juga..!" kataku.
Kemudian kulihat tatapan matanya ke wajahku, rasa ingin berbagi pengalamannya terlihat.
"Bolehkan kubagi pengalamanku..?" sahut Rina dengan rasa penasaran, "Biar kamu tau yang kunikmati dari pacarku.." sambungnya dengan rasa ingin memberitahunya yang tinggi.
Aku berpikir dan rasanya penasaran juga, "Seperti apa sih..?" tanyaku dengan sikapku yang ingin mengetahui lebih lagi.
Lalu Rina meremas, dan kemudian mengangkat kaosku, sehingga BH-ku yang berenda dan berwarna krem dapat ditonton.
Rina melihat dan memujiku, "Kalau kamu punya pacar pasti suka dengan yang satu ini.. (dada berukuran 36 yang putih dan mulus)"
Dia pun melepaskan kedua kaitan bra-ku, bra yang tadinya menutup dengan sesak kedua buah dadaku, akhirnya diangkat bersama kaosku, sehingga tiada sehelai kain pun menutupi dadaku yang tertutup sesak, dan seakan dadaku sekarang lepas dan terlihat mengembang. Memang ukuran yang aslinya lebih besar dari bra yang kupakai.
Mika Maharani 1, Perkenalan & Seks Tanpa Suami
Sudah sangat klise rasanya memberikan alasan tentang mengapa akhirnya aku jadi wanita simpanan dan panggilan. Uang. Itulah alasan satu-satunya, atau paling tidak yang paling utama. Jutaan wanita panggilan di dunia ini bekerja untuk yang satu itu. Uang. Tak lebih tak kurang.
Tetapi tidak semua wanita panggilan berawal dari kebutuhan akan uang. Aku kehilangan keperawananku 8 tahun yang lalu, bukan karena aku butuh uang. Aku memberikan keperawananku karena orangtuaku yang membutuhkan kepastian. Entah kepastian apa, tetapi mereka selalu bilang bahwa aku harus hidup layak, karenanya harus menikahi seseorang yang memiliki kepastian. Seorang pemilik perusahaan besar. Orangtuaku menganggap perusahaan adalah salah satu bentuk kepastian, padahal akhirnya perusahaan juga bisa bangkrut. Tiga tahun setelah perkawinan itu, Arman -suamiku- tewas dalam kecelakaan lalulintas. Ia pulang dari sebuah pertemuan pemilik saham dalam keadaan mabuk. Pertemuan itu sendiri konon sangat kacau, karena berakhir dengan kesepakatan untuk tidak melanjutkan perusahaan yang dibebani hutang jutaan dollar. Suamiku tewas oleh galaunya sendiri, setelah sadar bahwa ia tak bisa mempertahankan perusahaan yang diwarisinya dari orangtuanya.
Kehidupan ekonomi ku langsung hancur. Orangtuaku minta maaf, tetapi untuk apa minta maaf kepadaku? Orang tua Arman ikut terpukul, karena suamiku adalah anak laki-laki tunggal. Kakak dan adiknya semua telah menikah, ikut suami-suami mereka hidup jauh dari sini. Orangtuaku maupun orangtua Arman sama-sama tak bisa menanggungku lagi. Untunglah kami belum punya anak, karena Arman belum mau punya anak.
Kehidupan psikologis ku juga hancur. Terutama karena aku terlalu bodoh membiarkan diriku bergantung sepenuhnya kepada suami. Aku tidak tahu, sampai sekarang, apakah aku mencintainya. Tetapi aku menggantungkan diri kepadanya, luar-dalam. Ia adalah pria pertama yang hadir dalam kehidupanku. Aku baru berusia 17 waktu menikah, dia berusia 26. Selama sekolah, aku belum pernah pacaran, walau selusin lebih teman pria berusaha mendekati. Aku cuma pernah sekali dicium, itu pun karena si nakal penciumnyamenipu ku dengan pura-pura akan berbisik. Aku tak menikmati sama sekali ciuman yang cuma 2 detik itu.
Dengan Arman, aku masuk ke dunia suami-istri seperti seorang buta dituntun seseorang yang terlatih untuk menuntun orang buta. Malam pertama kami tak kan pernah kulupakan. Ia begitu sabar menuntunku, membangkitkan sesuatu yang kemudian tak pernah tidur lagi!
Baiknya kuakui saja, seks adalah sesuatu yang sangat kusukai, dan Arman lah yang memberikan kesukaan itu pertama kali. Aku berhutang sepanjang hayat pada pria yang telah membawakan padaku sensasi indah itu. Perasaan ku padanya tidaklah bisa dibilang cinta, terutama karena aku sendiri tak tahu apa itu cinta.
Rupanya, tubuhku menyukainya, tetapi hatiku tak pernah bisa memutuskan. Gairahku cepat terbangkit kalau disentuhnya, tetapi perasaanku kepadanya biasa-biasa saja, seperti perasaanku kepada lelaki lain. Ia tidak seganteng bintang film pujaanku, tidak segagah teman sekelasku, tidak semenarik seseorang yang pernah kulihat di sebuah mal.
Tetapi almarhum suamiku adalah pecinta ulung. Di atas ranjang, ia bisa membuatku ketagihan. Percumbuan kami tak pernah sebentar, kecuali pada malam pertama atau ketika ia sedang tidak enak badan (dua atau tiga kali saja sepanjang perkawinan permainan cinta kami berlangsung 10 menit). Aku selalu bisa mengalami klimaks berkali-kali, dan suamiku selalu sanggup menunggu sampai aku melewati setidaknya 3 klimaks. Belum pernah rasanya kami bersetubuh kurang dari 1 jam.
Sebulan setelah menikah, suamiku memperkenalkan kenikmatan jilatan lidahnya. Suatu malam ia membuatku terduduk di sofa, mengangakan selanganku, dan menjilati bagian-bagian sensitif kewanitaanku, membuatku menggelepar-gelepar. Sejak itu aku selalu menjaga kebersihan dan keharuman selangkanganku, karena setiap hari aku ingin dijilati di sana, walau tentu tak setiap hari harapanku itu terpenuhi. Namun setidaknya setengah dari orgasme-orgasmeku datang dari lidahnya yang cekatan. Membayangkan lidahnya saja bisa membuatku merinding sendiri.
Almarhum pula yang bisa menyetubuhiku dengan berkepanjangan, dan memberikan padaku kenikmatan berkesinambungan. Pada awalnya aku beranggapan bahwa orgasme hanya datang dalam interval-interval. Tetapi suatu malam Arman mencumbuku 2 jam penuh, tanpa sekali pun melepaskan kejantanannya dariku. Ia menggenjot-genjotkan tubuhnya dengan berbagai irama dan dari berbagai posisi. Ia menindihku dan menggenjot pelan dan panjang. Ia membalikkan tubuhku dan menyetubuhiku dari belakang. Ia membuatku bergantung di pinggir ranjang dan menggejot dari samping. Ia melakukan segalanya dengan seksama, sementara aku sejak awal dilanda orgasme. Tak berhenti sampai akhirnya ia letih sendiri, dua jam kemudian.
Kini, setelah ia meninggal dan dikubur, aku seperti layang-layang putus talinya. Pada hari pemakaman aku menangis sejadi-jadinya, walau aku tak pernah mengerti untuk apa aku menangis. Apakah karena kehilangan sumber nafkah, ataukah karena kehilangan sumber kenikmatan? Atau apa?
Yang terang, setelah Arman meninggal, perlahan-lahan keadaan ekonomi ku memburuk. Aku tidak punya pengetahuan apa-apa. Sekolah ku hanya SMA, tanpa keahlian lain selain membuat sayur asam. Orangtua dan mertuaku pun tak berdaya, mereka sudah terlalu tua untuk menanggungku. Kakak-kakak ku tak pernah hidup lebih baik dari ku, sehingga rasanya berlebihan kalau bergantung kepadanya.
Pekerjaan pertamaku sangat membuatku tertekan. Sebuah restoran membutuhkan pelayan, dan seorang teman Arman (pria yang matanya selalu nakal memandangku) membawaku ke sana. Pemilik restoran memuji penampilanku (bukan sombong, wajah dan tubuhku sanggup membuat pria berputar 180 derajat kalau berpapasan). Segera aku diterimanya, diberi seragam yang agak sempit (tapi justru menonjolkan keseksianku). Gajiku langsung disamakan dengan seorang yang telah berpengalaman, dan aku langsung dimusuhi teman-teman sesama pelayan.
Pekerjaan itu cuma berusia 5 hari. Pemilik restoran terlalu sering memanggilku ke kantornya, dengan alasan ingin berbincang-bincang. Tetapi matanya itu! Matanya selalu menatap bokong dan dada ku di setiap kesempatan. Pada hari keenam, aku tidak hadir. Pada hari ketujuh, pemilik restoran mengirimkan amplop gaji sebulan penuh lewat seorang supir. Ada surat pendek mengatakan ia ingin bertemu denganku di sebuah tempat, yang ternyata adalah sebuah motel. Surat itu kusobek sekecil-kecilnya. Tetapi uang di dalam amplop kuterima dengan lega. Setidaknya, untuk sebulan ini dapur ku tetap mengepul.
Rumah Kost
Perkenalkan, ,,,nama aku Tedy,umur 30 tahun bekerja pada salah satu perusahaan swasta yang ada dikota (xxx),.Aku punya sedikit cerita yang bagiku cukup enak untuk dibaca.Peristiwa ini terjadi sewaktu aku mencari tempat kost dikota aku bekerjaSetelah lama mencari,akhirnya aku menemukan sebuah rumah yang menurutku cukup bagus.Kudatangi rumah itu dan kuketuk pintunya.
Tak lama berselang,dari balik pintu muncullah seraut wajah yang sangat cantik sekali.Seorang wanita yang jika kutaksir umurnya 28 tahun.Wajahnya cukup cantik,dengan rambut yg hitam dan subur yang panjangnya hingga kepunggung.
Jika kutaksir tinggi wanita ini kira2 155 cm.Namun yg membuat aku tertarik adalah bentuk tubuhnya yang proporsional. Dadanya membusung indah dgn ukuran bra 36B dan bokong yang besar,padat dan mengembang.Pada saat itu dia mengenakan baju kaos yg cukup ketat sekali dgn belahan dada yang rendah,sehingga aku dapat melihat kulit dadanya yg putih mulus ,dan celana lee yang dipotong pendek hingga pangkal pahanya yang menampakkan batang paha yang putih mulus tanpa cacat.
Akupun dipersilahkan masuk.Kamipun berkenalan.
“Perkenalkan, ,,,saya Tedy” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Sabrina,,,,panggil aja Rina”katanya sambil menjabat tanganku.
Kurasakan lembut tangannya dalam, genggaman tanganku.
Akupun mengutarakan niatku padanya dan kamipun saling tawar menawar tentang harga kost.setelah sepakat ,,,iapun mengajakku untuk melihat kamar yang akan kutempati.
“Mari,,,,silahkan dilihat dulu deh,,,,:” katanya padaku.
Akupun mengikuti langkahnya dari belakang.sambil berjalan akupun tak luput memelototi bokongnya yang bergoyang.tak terasa sesuatu bergerak dari dalam celanaku.sesampainy a dikamar yang aku tempati,kami masuk dan melihat seisi kamar tersebut.Namun sesekali mataku mencuri pandang kearah dadanya Mbak Sabrina yang putih mulus itu.ternyata dibalik baju kaos itu ia tak mengenakan bra sehingga puting buah dadanya membayang jelas,,,
“bagaimana Mas Tedy,,,,bagus khan,,,,” katanya padaku.
“Wah,,,bagus sekali mbak,,,,,bersih lagi,,,”kataku padanya.
“Jangan panggil mbak dong,,,panggil aja Rina,,,ya ,,mas:katanya padaku.
“oh ,,maaf,,,ya deh,,,”
Malam harinya akupun berkenalan dgn suaminya Mbak Sabrina.Ternyata diluar dugaanku,suaminya sabrina jauh lebih tua dari Sabrina.jika kutaksir umurnya sekitar 40 tahun.Namun beliau sangat ramah dan supel.Beliau seorang menejer disebuah perusahaan swasta yang ada dikota ini.Tujuannya membuka kos-kosan bigina hanyalah untuk menemani Sabrina agar jangan kesepian saja,karena beliau sering dinas keluar kota.
Akupun semakin hari semakiun betah tinggal disini.Hingga tak terasa aku telah tinggal disini selama 3 bulan.Jika kuperhatikan ,penampilan Sabrina ibu kost mudaku ini makin hari makin seksi saja.Terkadang aku sering menghayalkan dan membayangkan bagaimana rasanya bersetubuh dengannya.Padahal aku punya banyak kesempatan untuk melakukannya .Tak jarang suaminya pergi keluar kota untuk beberapa hari lamanya, dan selama itu pula sicantik Sabrina tinggal berdua denganku.
Hingga suatu hari,,,Ketika itu aku pulang kerja agak larut malam,,,ketika aku pulang,,kulihat lampu ruang tamu sudah mati.Agaknya Sabrina sudah tidur.Untunglah aku mempunya kunci cadangan ,hingga aku bisa masuk tanpa harus membangunkannya. Begitu kubuka pintu,,,,kulihat lampu diruang tengah masih menyala.Akupun mengunci pintu dan berjalan menuju ruang tengah.Alangkah terkejutnya aku menyaksikan pemandangan diruang tengah tersebut.Kulihat Sabrina tergeletak tidur diatas lantai yng beralaskan permadani.Disamping nya terlihat sebuah benda yang menyerupai penis lelaki.Rupanya ia habis masturbasi dengan penis yang terbuat dari karet hingga terlelap tidur.Akupun menghampirinya dan memelototi sekujur tubuhnya yang tak tertutupi oleh sehelai benangpun.Betapa mulusnya kulit Sabrina.Tak terasa sesuatupun bergerak dibalik celana panjang yang kukenakan.Timbullah keinginanku untuk menyetubuhinya malam ini.
Perlahan kugerakkan tanganku membelai buah dadanya yang padat dan berisi itu.Kuremas remas dua bukit yang ada didadanya sambil sedikit kupelintir ujung putingnya.Akupun mendekatkan bibirku kearah puting yang tegak menjulang itu.Kupermainkan dengan ujung lidahku sambil kugigit perlahan.Aku perhatikan dia tak bergerak sedikitpun.Mungkin ia hanyut dalam mimpi-mimpi yang indah.Akupun melanjutkan aksiku.Perlahan mulutku mengitari permukaan perutnya yang langsing itu dan akihirnya berhenti dibukit kemaluannya .Aku memperhatikan bukit lembab yang merah merekah dan tak ditumbuhi sehelai rambutpun.Kujulurka n lidahku untuk menyapu permukaan bukit itu.Terasa sangat halus sekali kulit permukaan vaginanya .Mulutku terus begerilya disekitar bibir kemaluannya. .
Akupun bangkit dan melepaskan seluruh pakaianku.Batang kejantananku tegak berdiri seolah ingin menusuk memiaw yang terbentang dihadapanku. Akupun kembali menghampiri Sabrina yang tergolek pasrah.Kembali kujilati lobang kewanitaan yang merah merekah itu.Batang kejantananku berada pada posisi yang sangat keras dan tegang sekali.Perlahan, kugosokkan ujung kepala peniskut permukaan vagina sabrina.Sampai saat itu ,,tak ada gerakan yang berarti yang terjadi pada dirinya.
Akupun segera saja menusukkan batang kejantananku kedalam lobang kewanitaannya .Bless,,,,,langsung masuk.Kudiamkan beberapa saat sebelum kugoyang perlahan.Beberapa menit kemudian,,,aku mulai menggoyang perlahan ,dan terus hingga akhirnya sesuatu terasa menyesak dari dalam diriku.Aku telah mencapai klimalks.Kucabut penisku dari dalam vagina Sabrina dan kumuncratkan spermaku diatas perutnya yang putih mulus itu.
Selesai menggeluti tubuh Sabrina ,,aku bergegas memberesi pakaianku dan pergi meninggalkannya yang masih tergolek dilantai dalam mimpi-mimpi indahnya.Malam ini menjadi malam keberuntungan bagiku ,,karena telah dapat menikmati tubuh cantik yang selalu menjadi hayalan dalam masturbasiku, ,walau hanya dalam tidurnya yang indah.
Office Story: The Introduction – Yani
Jalanku sampai aku bekerja di perusahaan tempatku bekerja sekarang tidaklah mudah. Aku harus melalui pendidikan yang keras melalui penderitaan hidup sampai akhirnya aku dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat S2.
Petualanganku sebenarnya diawali sebelum aku masuk ke perusahaan ini. Aku jatuh cinta pada seorang gadis yang tinggal di pulau Sumatera. Sayangnya dia memanfaatkan cintaku dan mempermainkan perasaanku. Aku baru mengetahui hal ini setelah aku putus dengannya. Aku sangat kecewa karena aku pernah mempertaruhkan nyawaku untuk mendatanginya dengan mengendarai sepeda motorku. Sebuah perjalanan berisiko tinggi melintasi jalur Lintas Timur Sumatera untuk sampai ke tempatnya. Ketika aku sampai di depan rumahnya, ia malah menolakku mentah-mentah. Akupun lalu pulang kembali ke Jakarta dan memutuskan untuk melanjutkan kembali hidupku tanpa dirinya, meskipun suatu saat di masa depan aku akan bertemu lagi dengannya. Bagian ini akan kuceritakan nanti.
Kembali ke Jakarta, akupun berhasil menyelesaikan studiku dan diterima di perusahaan konsultan tempatku bekerja sekarang. Bermodal kemampuan meyakinkan orang, latar belakang pendidikan, dan penampilan yang lumayan, karirku pun melesat dalam waktu singkat. Aku sering ditempatkan pada client yang berada di luar Jakarta, dan dalam waktu yang singkat aku telah menjelajahi Indonesia.
Sayangnya, meskipun karirku baik dan penampilanku tidak dapat dibilang jelek, aku belum menemukan tambatan hati juga. Beberapa wanita yang kudekati selalu hanya mengincar uangku saja. Akhirnya kuputuskan untuk fokus pada karirku dan melupakan sementara keinginanku untuk menambatkan hati.
Ternyata inilah yang membuka jalanku pada petualangan cinta yang kujalani sekarang ini.
Aku masih ingat saat itu pertama terjadi. Ketika itu kami berada pada akhir tahun fiskal dan akupun baru kembali dari penugasan pada sebuah bank nasional yang cukup ternama. Penugasan berlangsung cukup lama dan akupun banyak tertinggal berita di kantor. Pagi pertamaku kembali di kantor, aku berpapasan dengan seorang wanita yang sangat menarik. Wanita itu berkulit putih dengan tinggi kurang lebih 160 cm. Berhidung mancung dan bermata agak sayu. Payudaranya terlihat menantang dibalik blazer abu-abu yang dikenakannya.Kukira-kira ukurannya 34B. Ia melirik ke arahku sesaat lalu membuang kembali pandangannya ke tempat lain sambil tersenyum. Bibir tipisnya sangat indah terlihat saat ia tersenyum. Aku pun lalu bertanya-tanya, siapakah dirinya? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.
Yani, itu namanya. Akhirnya kudapatkan juga info itu dari temanku. Ia baru bekerja dua minggu di tempatku. Pantas saja aku belum pernah melihatnya. Akupun bersemangat mencari info baru tentang dirinya. Akhirnya kudapatkan info tambahan setelah ia menerimaku sebagai temannya di facebook. Tapi hatiku hancur saat itu juga. Yani ternyata telah bersuami dan mempunyai 2 orang anak. Yang mengagumkan adalah badannya tetap terawat dan tidak terlihat seperti telah dua kali melahirkan. Patah hati, akupun memutuskan untuk kembali fokus pada perkerjaan dan karirku.
Sampai kesempatan itupun datang.
Aku mendapat penugasan untuk mengatasi masalah client perusahaan yang berlokasi di Surabaya. Dalam penugasan itu aku mendapat seorang staff. Dan staff yang kudapatkan adalah Yani, si cantik yang telah mencuri perhatianku.
Akhirnya hari keberangkatan kamipun tiba. Sepanjang perjalanan menuju bandara kami membahas tentang client yang kami akan hadapi karena kebetulan aku pernah ditugaskan di client tersebut. Beberapa kali kami bercanda ringan untuk meringankan suasana. Setibanya di Surabaya kami langsung dijemput oleh client kami dan dibawa ke hotel.
Aku tidak tahu apakah aku harus berbahagia atau sebaliknya. Hanya ada satu kamar yang tersedia di hotel karena client kami tidak memperkirakan bahwa kedua konsultan yang dikirim adalah lawan jenis. Aku sempat menawarkan diri untuk tinggal di kos temanku agar Yani dapat tinggal di hotel tetapi kemudian Yani menolaknya. "Kamu kan bisa tidur di sofa. Lagian, aku tidak berani kalau sendirian", kata Yani. Karena memang hotel sedang penuh dan aku juga agak malas mencari hotel lain, akhirnya kuterima saja tawaran Yani. Malam itu tidak ada yang terjadi karena aku juga sedang capai sekali. Sehabis mandi aku langsung tidur di sofa meninggalkan Yani yang sedang menelepon keluarganya sendirian.
Adik Angkatanku, Pacarku, Selingkuhanku
Sy kuliah di salah satu PTN di Makassar. Sy termasuk mahasiswa angk.2000 yg pendiam & gak gaul. Tp semua berubah sejak sy masuk organisasi sekaligus panitia Ospek untuk maba angk.2002.
Wanita..yah wanita..disinilah awal petualangan sexku dengan wanita. Hubungan dengtan pacar 1ku (angk.2002) di kampus gak sukses, hanya 2 bulan hubungan kami bertahan (biasa..naluri lelaki,hehe..). Hilang 1 tumbuh 1000, beberapa wanita mencoba pdkt dengan sy baik dari angkatanku maupun angkatan yg lain. Lucunya sy pacaran lagi dengan angk.2002 yg ternyata teman segang pacar 1ku di kampus! but so far so good, gak ada masalah antara mereka berdua. Hubungan sy kali ini lebih berkesan daripada yg pertama, tp lagi2 karena keegoisan masing2 hubungan ini hanya bertahan 6 bulan.
Dalam kondisi sy sering labil seperti inilah sy selalu dapat motivasi dari adik angkatanku yg lain (lagi2 teman segang pacar 1 & 2ku di kampus). Sebutlah namanya Lina, dialah yg selalu dengan tulus jadi sandaran ketika sy lelah, jadi "t4 sampah" ketika sy curhat & banyak lagi pengobanannya untuk sy (anaknya berjilbab, item manis, cuby2 gitu deh & bodynya itu..wuih..!!). Kami sepakat untuk tetap jadi saudara apapun yg terjadi nantinya. Hingga akhirnya karena saling ketergantungan kami berdua gak dapat membohongi perasaan masing2. Kami sepakat pacaran walau resikonya sangat besar, terutama untuk dia (statusnya lagi tunangan sama pilihan ortunya, citra yg buruk di kampus sebagai wanit gampangan & kebetulan lagi "jalan" sama teman satu organisasiku).
1 Minggu hubungan kami berjalan, sebelum ke kampus sy biasa ajak dia kerumahku terlebih dahulu. Saat itu kami lagi nyantai nonton TV, tiduran sambil pelukan. Sy suruh dia buka jilbabnya agar gak kepanasan. Selang beberapa menit dia tertidur, sambil mukanya mengarah ke sy. Krn belum pengalaman, sy gak tau klo itu kode dari dia. Sepertinya dia mau dicium. Dengan deg2an sy coba cium dahinya dulu, keningnya, pipinya, hidungnya sampe akhirnya ke bibirnya"..cup..cup.."Setelah dua kali sy cium dia bereaksi membalas ciumanku. Sy gemetar, bingung, nafsu jadi satu. Tp te..te..p lan..jut! awalnya cuma ciuman biasa lama2 lidah kami mulai bermain. Sy isap lidahnya sruu..p..Muchh..Muach..dalam hati sy rasakan sensasi yg pertama kali sy rasakan krn cinta yg begitu membara sampai membuat kami berdua "terbakar". Dengan posisi miring & kepala setengah terangkat untuk cium dia, sy mulai lingkarkan tangan & mengelus2 perutnya. Entah kenapa sy makin nekat meraba & mencium lehernya untuk merangsang dia seperti yg sy liat di film bokep"..ouh..sshhh...yach..."dia mendesis menerima rangsangan dari kakaknya yg paling dia sayang.
Saat sy rasa dia cukup terangsang, sambil tetap cium dia sy mulai buka kancing kemejanya satu per satu. Sampai akhirnya tangan ini cukup meraih payudaranya yg...alamak...kenceng & kenyal banget bro! tanpa ba bi bu lagi langsung aja sy terkam payudaranya sedang yg satunya sy remas2. "Ach..oouuhh..."lagi2 dia mendesah sambil gemetaran. Sekitar 5 menit cium & remasan itu berlangsung, dia sempat tersadar untuk gak melanjutkan hal itu denga berbagai alasan, walau akhirnya eh..malah dia mancing2 sy lagi dengan mencium leher sy berkali-kali "..cup...cup...cup..." sy tergoda & kembali pagutan bibir itu terjadi dan kali ini dia sendiri yg membuka bajunya sendiri. Kayaknya dia gak perduli lagi krn kepercayaannya yg tinggi dengan sy. "Much...ssshh..Ach..Kak..." suara2 kami mulai gak karuan. Yg bikin tambah horny krn kami lakukan itu di ruang keluarga rumahku. Tangan sy kembali bergerilya di leher & payudaranya, malah sy kemudian sy susupkan ke dalam celananya,"muuh..he..eh...dia menggigil merasakan mem*knya digerayangi. Apalagi saat sy mempermainkan klitorisnya,"ha..ah...ah...ah..." dia berasa di awang2. Pakaian kami satu per satu juga sudah lepas semua. Di saat dia sudah gak tahan dia menarikku untuk menindihnya, sambil membuka pahanya mempersilahkan "jagoanku" masuk ke lubang kewanitaannya. Tp entah kenapa (Malaikat sedang lewat kali ye!) sy kok gak tega meneruskannya, sy turun dari badannya sambil kami berpakaian kembali. Lalu kami berdiri, berpelukan, berciuman kembali & bersiap-siap ke kampus.
Muasin Client
Aku bekerja di sebuah perusahaan Event Orgenizer yang cukup terkenal di Jakarta. Disana aku bekerja sebagai Senior Account Executive. Klien terbesarku adalah Ur. Aku telah banyak menggoalkan proposal event yang kukerjakan bersama teamku, namun pada saat presentasi biasanya aku sendirian atau berdua dengan staffku seorang junior account executive atau salah seorang dari team kreatif.
O ya, namaku Aryo, biasa dipanggi Ari. Usiaku 29 tahun belum menikah, belum punya pacar, saat ini. Asli Bandung namun aku mengontrak rumah kecil, dekat yang dengan kantorku di bilangan Gatot Subroto. Penghasilanku lumayan, hasil tabunganku 4 tahun bekerja di 3 perusahaan periklanan, dapat membeli mobil yang kuidamkan, sebuah Mercy Tiger tahun 1986, warna hitam dan gaya custom pelek lebar 18 inch, body ceper gaul, dan audio dengan sound quality yang memanjakan telinga. Cukup cocok mendukung pekerjaan dan penampilanku. Setidaknya orang dapat menilaiku seorang eksekutif menengah di sebuah perusahaan.
Senin pagi itu aku ada janji bertemu dengan Brand Manager Ur, untuk produk shampo terkenal, berkaitan dengan pitching event shampo tersebut yang cukup menyita waktu istirahatku. Berangkat pagi pulang subuh, selama dua minggu walau diselingi dugem di HR atau di daerah Kemang sebagai pelepas penat.
"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" gadis manis receptionist menyapa dengan senyum ramah di wajahnya.
Lumayan, agak menurunkan tensi, karena terus terang hari itu aku merasa tegang sekali berkaitan dengan proposal event yang sempat aku presentasikan seminggu yang lalu.
"Bisa bertemu dengan Ibu Silvy? Saya ada janji bertemu dengan beliau, Saya Ari, dari I*****", sambil menunjukkan name tag-ku.
"Mohon ditunggu sebentar, Ibu Silvy sedang ada tamu", sambil mempersilahkan duduk, Cinthya tersenyum kembali.
Kutahu namanya dari name tag-nya.
"Revi kemana Mbak?" tanyaku menanyakan receptionist yang pernah kutemui saat aku presentasi.
"Dia sudah resign, persis satu minggu yang lalu".
Ooo.. berarti ketika aku presentasi, hari itu adalah hari terakhirnya Revi.
Imut sekali. Lebih cantik dari Revi Tidak terlalu tinggi, tapi terlihat manis dengan blazer coklat, blouse krem dan rok sepaha, yang cukup lumayan tinggi, hingga kulit pahanya yang mulus terlihat dengan jelas. Sepatu hak tinggi menambah seksi kaki mungil cinthya. Usianya kira-kira 24 atau 25 tahun. Ah,.. sudahlah, setidaknya dengan melihat Cinthya pikiran ku agak sedikit rileks, berhubung minggu lalu aku dibantai habis-habisan oleh Ibu Silvy, mulai dari konsep event hingga budget yang kuajukan. Berbeda dengan brand manager produk lainnya, Ibu Silvy agak sedikit dingin namun kritis sekali dalam menilai sebuah proposal. Pertanyaan yang bertubi-tubi pada saat presentasi menandakan beliau sangat berpengalaman sekalidalam menghandle produk. Saat fantasiku melayang memikirkan Cinthya dengan lingeries (dasar cowok), tiba-tiba suara Cinthya memecah konsentrasiku..
"Pak Ari, silakan, ditunggu di ruang kerja Ibu Silvy", sambil berdiri dekatku yang duduk di sofa ruang tunggu.
Bau Cool Water women tercium harum sekali menambah tajamnya fantasiku tentang Cinthya, yang kusimpan dulu sementara untuk dilanjutkan setelah bertemu Ibu Silvy. Cinthya jalan didepan mengantarku menuju raung kerja Ibu Silvy. Roknya cukup ketat, hingga menampilkan garis CD yang tidak biasanya ku lihat.. G-String! Woow.. Kalau aku Ryo Saeba (City Hunter) tentunya aku telah dibuatnya mimisan. Tamu Ibu Silvy terlihat keluar dari ruangan Ibu Silvy. Sososk yang tidak mungkin kulupakan, Hendra! bajingan itu mencuri konsepku dua tahun yang lalu ketika sama-sama kerja di B**O. Kurang ajar.. ngapain dia ketemu Ibu Silvy? Apakah dia mengerjakan proyek yang sama seperti aku tangani sekarang? Diakah musuh pitchingku? Who cares! Ketika saling papasan kami hanya saling pandang sebentar dan berlalu begitu saja..
"Ibu, pak Ari dari I*****", Cinthya memberitahu Ibu Silvy yang sedang duduk menghadap jendela kaca.
Begitu membalik, Ibu Silvy sedang memegang proposalku dan melemparnya ke meja dihadapan beliau. Glek!.. This could be the end of the world.. Perasaanku semakin tidak enak, karena pengalamanku selama mengerjakan 19 proposal proyek event atuapun Integrated Marketing Communication, hanya 2 yang ditolak, itupun kalah pithcing denga agensi lain. Berarti ini yang ketiga dari 20.. que sera sera.. what ever will be, will be.
"Duduk Ri,.." seiring pintu ditutup Cintya dari luar.
Kira-kira 3 menit ruangan itu hening. Terus terang aku semakin grogi dibuatnya. Tidak terpikirkan satu katapun untuk diluncurkan membuka kebekuan ini. Ibu Silvy melihat proposalku sambil sesekali melirik padaku. Gilaa.. Aku semakin salah tingkah dibuatnya.. tidak pernah sebelunya aku merasa setegang ini dan menjadi tidak pede.
"Ha.. ha.. ha.. ha.. nggak usah tegang gitu deh Ri!" sambil berdiri dan berjalan ke lemari es kecil di samping sofa di ruangannya.
"Mau minum apa Ri..?" sambil membuka lemari beliau berkata.
Puihh.. tensiku sedikit menurun.
"Ehm.. anything you drink.. same as you I guess", masih beku lidahku, walaupun di lemari es itu kulihat Vodka Cruiser, minuman kegemaranku.
Beliau mengambil 2 Coke kaleng dingin. Satu ditaruhya di depanku setelah sebelumnya beliau buka.
"Honestly.. I do like your proposal.. very much!" sambil kemudian meneguk Coke dari kalengnya.
Sedikit mengibaskan rambutnya sebelum minum, leher jenjangnya terlihat putih, sangat seksi..
Hampir loncat dari kursi aku mendengarnya dan berteriak hore.. Namun tidak kulakukan.. Jaim.. jaim Ri..
"O ya..? How could you posibbly like my proposal? Perasaan aku bikinnya nggak begitu pede bu," kataku merendah, sambil kumundurkan badanku menyentuh sandaran, hingga merasa rileks.
"Oo.. jadi kalo pede, mungkin lebih bagus lagi yaa..? Ah, lu bisa aja deh Ri", sambil sedikit tertawa.
Hari itu Ibu Silvy yang kukenal ketika pertama kali presentasi sangat berbeda. Imageku tentang Bu Silvy langsung berubah 180 derajat. She's so lovely today.
"Mmm, sini deh Ri..!" kembali berdiri dan berjalan menuju sofa.
Sedari tadi baru sekarang aku penampilan Ibu Silvy yang begitu menggairahkan, karena konsentrasiku masih tertuju pada proposal. Blouse putih, tipis ketat, menampilkan garis bra hitam yang begitu menggoda. Rok tinggi hitam dan stocking hitam tipis membungkus kakinya, ditambah sepatu hak tinggi bergaya stilletto semakin menambah beliau seksi.
Gairah Liar Majikanku yang Cantik
Kisah ini bermula ketika keluargaku baru saja ditinggal pergi oleh kedua orangtua kami, yang meninggal dalam musibah kecelakaan angkutan umum di daerah kami, sebuah kota sejuk di dekat Jakarta. Sebagai anak tertua, maka aku yang selama ini hanya kuliah tanpa harus memikirkan sumber biayanya, terpaksa harus menggantikan tugas orang tuaku mencari nafkah untuk menghidupi adik-adikku dan melanjutkan kuliahku. Aku tidak ingin cita-cita kedua mendiang orang tuaku untuk memiliki anak yang berhasil menjadi sarjana, menjadi gagal. Akan tetapi ternyata tidak mudah juga untuk mencari nafkah di kota ku ini.
Pada suatu malam, yakni Minggu malam, ketika aku sedang melamun, terdengar orang mengucap salam dari luar. Ku bukakan pintu, ternya pak RT yang datang. Pak RT minta agar aku sudi menjadi supir pribadi dari sebuah keluarga kaya. Keluarga itu adalah pemilik perusahaan dimana pak RT bekerja sebagai salah seorang staff di perusahaan itu. Spontan aku menyetujuinya dan berterimakasih atas tawaran itu.
Esoknya kami berangkat ke rumah Boss-nya Pak RT ku. Ketika memasuki halaman rumah yang besar seperti istana itu, hatiku berdebar tak karuan. Setelah kami dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di ruang tamu yang megah itu, tak lama kemudian muncul seorang wanita yang tampaknya muda. Kami memberi hormat pada wanita itu. Wanita itu tersenyum ramah sekali dan mempersilahkan kami duduk, karena ketika dia datang, spontan aku dan pak RT berdiri memberi salam " selamat pagi". Pak RT dipersilakan kembali bekerja oleh wanita itu, dan diruangan yg megah itu hanya ada aku dan si wanita itu.
" Benar kamu mau jadi supir pribadiku ? " tanyanya ramah seraya melontarkan senyum manisnya.
" Iya Nyonya, saya siap menjadi supir nyonya " Jawabku.
" jangan panggil Nyonya, panggil saja saya ini Ibu, Ibu Maya " Sergahnya halus. Aku mengangguk setuju.
" Kamu sudah pernah bekerja jadi sopir pribadi sebelumnya ?"
" Tidak nyonya eh...Bu ?!" jawabku. " Saya tadinya masih kuliah, tapi saya pernah menjadi supir angkot tidak tetap selama satu tahun" sambungku. Wanita itu menatapku dalam-dalam. Ditatapnya pula mataku hingga aku jadi salah tingkah. Diperhatikannya aku dari atas sampai ke bawah.
" kamu masih muda sekali, ganteng, nampaknya sopan, kenapa mau jadi supir ?" tanyanya.
" Saya butuh uang untuk menghidupi keluarga saya, Bu " jawabku.
" Baik, saya setuju, kamu jadi supir saya, tapi harus ready setiap saat. gimana, okey ? "
" Saya siap Bu." Jawabku.
" Kamu setiap pagi harus sudah ready di rumah ini pukul enam, lalu antar saya ke tempat saya Fitness, setelah itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana saya suka. Kemudian setelah sore, kamu boleh pulang, gimana siap ? "
" Saya siap Bu" Jawabku.
" Oh..ya, siapa namamu ? " Tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Sepontan aku menyambut dan memegang telapak tangannya, kami bersalaman.
" Saya Leman Bu, panggil saja saya Leman " Jawabku.
" Nama yang bagus ya ? tau artinya Leman ? " Tanyanya seperti bercanda.
" Tidak Bu " Jawabku.
" Leman itu artinya Lelaki Idaman " jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku. Aku tersenyum sambil tersipu. lama dia menatapku. Tak terpikir olehku jika aku bakal mendapat majikan seramah dan sesantai Ibu Maya. Aku mencoba juga untuk bergurau, kuberanikan diri untuk bertanya pada beliau.
" Maaf, Bu. jika nama Ibu itu Maya, apa artinya Bu ? "
" O..ooo, itu, Maya artinya bayangan, bisa juga berarti khayalan, bisa juga sesuatu yang tak tampak, tapi ternyata ada.Seperti halnya cita-citamu yang kamu anggap mustahil ternyata suatu saat bisa kamu raih, nah…khayalan kamu itu berupa sesuiatu yang bersifat maya, ngerti khan ? " Jawabnya serius.
Ngerjain Model Amoy
Aku seorang fotografer yang sering mengorbitkan model2 yang belum punya nama. Aku punya kenalan banyak produser film dan agency model, sehingga aku selalu berhasil menyalurkan para model2 baru ini kepada mereka. Mereka percaya karena model2 yang kuajukan biasanya tidak pernah mengecewakan walaupun mereka belum berpengalaman. Aku kenalan dengan satu cewek amoy, sebut saja Fika, abg asal kota amoy, Singkawang. Seperti ciri kebanyakan abg amoy, Fika punya perawakan kutilang tapi gak darat, karena toketnya lumyayan gede. Pinggangnya ramping dan pinggulnya yang besar sehingga membuat setiap lelaki betah berlama2 menyapu tubuh Fika dengan matanya. Apalagi kalo liat Fika jalan, pantatnya yang besar bergerak kekiri kekanan mengikuti gerak langkahnya. Pasti bikin napsu lelaki yang ngeliatnya, apalagi Fika sering pake celana panjang, apalagi pendek, yang ketat. Kulitnya yang putih dan wajah sendu dengan sepasang mata sipit menambah kecantikan Fika. Yang khas lagi dari Fika adalah bulu tangan dan kaki yang panjang2, ditambah dengan kumis tipis yang menghiasi bagian atas dari bibir mungilnya, menambah keseksiannya. Pastilah jembutnya lebat, dan napsunya gede. Model pakeannya juga selalu seperti yang dipake abg amoy, rambut lurus sebahu yang dicat kepirangan, blus ketat yang menonjolkan kemontokkan toketnya, dan celana hipster yang juga ketat sehingga pinggang dan pinggulnya pasti menarik perhatian lelaki yang melihatnya. Lagian blus ketatnya cuma sepinggang sehingga pinggang dan perutnya yang putih mulus serta pusernya suka ngintip kalo Fika bergerak. Fika ingin mencoba peruntungannya dibidang modelling.
"Kamu punya bikini atau daleman model bikini gak?", tanyaku ketika menjadwalkan sesi pemotretan. "Punya om, cowokku sering beliin aku daleman model bikini, mana kekecilan dan tipis lagi. Bikini juga ada". "Kamu bawa ya, juga bawa baju ganti karena kita akan shooting di vila, kalo enggak selesai kita nginep ya". "Nginep om?", tanyanya. "Napa, kamu keberatan? Kalo gak selesai masa mesti balik lagi dan besok kesana lagi. Buang2 waktu lah, lagian kita juga bisa bikin foto sesionnya malem kan".
Pada hari yang dijanjikan, Fika membawa tas yang berisi baju ganti, bikini dan beberapa daleman bikini serta mantel. " Hai Fik", sapaku ketika jumpa di resto yang menjadi tempat pertemuan kami. Fika pake blus ketat warna pink dan jins hipster ketat juga. "Wah kamu cantik sekali, Fik, seksi juga lagi", kataku sambil menyalami Fika. "Om belum pernah neh dapet model amoy, mana amoynya bahenol lagi". Aku duduk didepan Fika. "Kita berangkat sekarang yuk". Kamipun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke mobil ku yang diparkir di halaman resto. Di jok belakang teronggok tas yang berisi peralatan fotografi, serta peralatan bantu lainnya. Segera mobil meluncur meninggalkan tempat parkir, menembus kemacetan kota menuju ke vilaku yang terletak di daerah Puncak. Selama diperjalanan kami ngoborol ngalor ngidul. Aku mampir disebuah mini mart didekat vila dan membeli makanan dan minuman serta keperluan lainnya. Belanjaan yang cukup banyak itu ditaruh dibagasi mobil mengingat di jok belakang dah dipenuhi peralatan foto. Sesampainya di vila, ku menurunkan semua bawaannya. Fika membantu ngangkatin juga selain tas pakeannya. "Gak ada yang nungguin ya om", tanya Fika. "Ada yang nunggu, setan". "Bener om ada setannya", Fika membelalak ketakutan. "He he om becanda kok, kalo juga ada setan, setannya takut ama om. Kan om rajanya setan", kataku sembari mencolek pinggang Fika yang terbuka. "Ih, om geli ah", jeritnya manja. "Kan vila ini kosong, jadi kalo om mo pake vilanya, ada orang yang dateng buat membersihkan seluruh vila sebelumnya". Makanan dan minuman dimasukkan ke lemari es, sebagian diletakkan dimeja pantri. Ketika itu dah sore, matahari dah mulai turun. "Fik, masih ada matahari, fotosession dulu yuk. Kamu pake deh bikini kamu. Om tunggu di belakang ya, di kolam renang". Fika masuk ke salah satu kamar dan mengganti pakeannya dengan bikini. Karena bikininya minim, toketnya yang besar montok seakan mo ngeloncat keluar. Demikian juga jembutnya yang lebat ngintip dari sela2 cd bikininya. Aku menelan ludah ketika melihat Fika berbikini sexy. "Wao, mulus banget Fik. Merangsang banget". Aku segera memberi arahan pada Fika untuk berpose di pinggir kolam renang dan mulai mengambil gambar. Karena Fika belum pernah akting maka gayanya kaku. "Kamu malu ya Fik ama om, kok kaku banget seh gaya kamu". "Enggak kok om, Fika gak malu". "Anggep aja om cowok kamu supaya kamu bisa lebih rilex gayanya". Dengan sabar aku mengarahkan Fika berpose sehingga akhirnya dapet juga satu set foto Fika berbikini. Aku mengomentari apa yang harus diperbaiki sembari melihat foto2 yang diambilnya di laptop.
Flirting Paradise
Namaku Michael umur 24 tahun dengan seorang istri bernama Jessica berumur 22 tahun, kami menikah 11 September 2004 lalu, belum dikaruniai anak, pernikahan kami itu masi terus saja menjadi bahan pembicaraan kami, walau setahun telah berlalu, kami selalu tertawa, dan tidak jarang kejadian itu membuat birahi kami bangkit, apalagi foto tersebut sekarang sudah beredar luas di internet, entah siapa yang iseng untuk menyebarluaskannya. Tapi untungnya lagi orang tua kami dapat memaklumi kejadian itu, saya tidak tahu apakah kalau ayah saya masih hidup bisa memakluminya atau tidak.
Tapi kejadian tersebut sudah berlalu, walaupun kalau diingat sangat menggelikan, bahkan pada saat menulis cerita ini kembali pun terasa sangat menggelikan, padahal sudah banyak yang mengingatkan kami, ?eh itunya turun tuh, naikin? teriak salah seorang teman, ?busyet deh, bagus amat tuh, sabar atuh malam pengantinnya? timpal yang lain. Kami hanya mengenyeritkan dahi tidak mengerti, sampai beberapa jepretan kamera, dan saat teman kami menunjuk ke arah dada sambil menggunakan bahasa tubuhnya untuk mengangkat gaun, barulah kami berdua sadar, tapi itu sudah terlambat, semua pengunjung sudah melihat dan foto pun sudah terekam, yang mengambil gambar kami pun sudah pulang tanpa bisa dicegah, sampai kami harus mendapatkan foto kami sendiri atas hasil karya orang tersebut melalui internet.
Ohya, kami belum dikaruniai anak bukan karena kami menunda memiliki anak, tetapi faktor kami berdua, rahim istriku ada sedikit gangguan yang menyebabkannya sulit untuk menerima sperma, kecuali sperma tersebut memang sangat kuat, dan sayangnya spermaku normal normal saja, bukan sperma super, sehingga kami belum bisa memiliki keturunan, kami pernah mencoba berobat ke Jerman, tetapi tidak membuahkan hasil, disamping sekarang kami juga agak sibuk menangani usaha kami di Indonesia, jadi kami tidak mencoba lagi berobat, kami hanya bercinta normal, dan berharap satu dari sekian milyar spermaku ada yang menjadi super sperma.
Dan seperti yang saya katakan, kejadian tersebut, selalu membuat gairah kami bangkit, maka pada tanggal 9 September 2005 kemarin kami berniat merayakan 1st anniversary kami dengan menginap selama seminggu di hotel mulia, tempat kami melangsungkan pernikahan kami yang begitu mewah dan ?tak terlupakan?.
?Hallo My sexy... hmm... gimana bagus ga??tanyaku, setelah kuhias seluruh ruangan dengan lilin, layaknya candle light dinner. Saya sudah menyiapkan ini dari pagi hari, karena memang saya meminta early check in, dan lilin baru kunyalakan setengah jam sebelum istriku masuk, kusuruh dia menunggu di lobby dulu. ?Waw.... I love it... ... I mm ... I just love it so...much thanks?kata istriku mengangguminya dengan segenap perasaan. Aku juga telah meminta ijin untuk memesan makanan, karena biasanya makanan berbau menyengat agak dilarang masuk ke hotel, tapi mungkin karena fasilitas suite kami lebih dilonggarkan. Kupesan Tony Roma?s baby back favoriteku dan blue ridge kesukaannya. Kami bersantap di meja makan suite kamar kami.
Sambil kami melihat kembali dvd pernikahan kami, yang tentu saja bagian ?itu? sudah diedit, begitu senang kami melakukannya. Kami merasa hal tersebut mengingatkan kami kepada memory memory ketika kami sangat kurang tidur, harus melakukan ini dan itu, tapi kami sungguh puas, sungguh bahagia, walaupun istriku terlihat sangat kelelahan saat itu. Kemudian kami mengingat kembali peristiwa itu lagi, dan membuat kami sangat turn on.
Setelah meniup lilin mati, kami membersihkan diri, gosok gigi dan lainnya, kami mulai bercinta, aku merasa hari itu aku sangat kuat sekali, sekitar 2 jam kami bercinta termasuk foreplaynya, istriku sangat terpuaskan, ?Jess, ah gimana kalau kita ekspos tubuh putih mulus kamu ini, pasti banyak yang senang, membuat semua orang senang, kamu cantik sekali, cantik banget sih...? kataku. ?Ah... i iya.. enak banget... uuh.. di ekspos gimana? Haha... kamu senang ya?? tanyanya. ?Iya Jess... buat anniversary kita...? kataku. ?Terserah kamu deh, hahaha... kamu emang seneng ya kaya gitu... emang ada ide??tanyanya lagi, ?Ide? Kamu serius? Ga papa nih?? tanyaku menyakinkan diriku sendiri, ?asal kamu seneng mike, kamu seneng ga? Kamu suka ga??, ?suka banget... suka bangett... ahh aku ada ide... ahh Jess aku uda mau keluar...?erangku. ?Iya Mike aku juga... ahh... teruss...? teriaknya. ?Kita panggil room service ya, buat siapin makanan Jess? kataku, ?tapi kitakan uda makan? tanyanya, ?bukan kita yang makan Jess... ahhh aku mau keluar... ahhhh....? teriakku. ?Ahh..... enak bangettttt Mike... hah...? erangnya.
Kupanggil sandwich dari room service, dan sekitar setengah jam-an suara bell pun berbunyi, ?Room Service? kata orang luar itu. Kubukakan pintu, aku sudah berpakaian lengkap, ?Sandwich pak...?, ?iya benar, bawa masuk deh? kataku. Kemudian dia masuk, menyiapkan di meja makan, ?Mas, jangan taruh di meja makan deh, bawa ke dalam kamar aja.? kataku. ?Oh baik pak.? Kemudian dia menggeser pintu kamar tidur, ?ah aduh.. ah sorry pak? katanya kemudian langsung membalikan badannya. ?Nama kamu siapa??tanyaku, ?A..Adi pak.? jawabnya cepat. Adi ini memiliki tinggi yang kurang lebih sama sepertiku, mungkin dia lebih tinggi, aku 170 dan mungkin dia ada 175 cm, kulitnya sawo matang kehitam hitaman, sedangkan kulitku putih tetapi tidak seputih istriku yang memiliki tinggi 162 cm dengan ukuran dada 34c mendekati d, tetapi cup c terasa sangat pas untuk dadanya, c agak sedikit besar. Tubuhnya sangat proposional, dengan perutnya yang rata.
?Adi, kamu masuk aja, duduk disana? kataku sambil menunjuk sofa di kamar tersebut. ?Hm.. ta... tapi?katanya terbata bata, melihat seorang perempuan berusia muda, putih cantik, sedang tidur tanpa busana, walau tertutup selimut. Kemudian aku maju, masuk ke dalam kamar, duduk di pinggiran kasur, menarik tubuh istriku yang sangat cantik dan menawan itu, beserta selimutnya, ?Jess, jangan pura pura tidur donk, katanya mau liatin orang makan. Nih orangnya uda dateng nih? kataku yang langsung mempermalukan istriku. ?Ah.. hm.he.?istriku terlihat salah tingkah. ?Ayo donk, ngomong langsung ke masnya, namanya Adi tuh? kupojokkan lagi Jessica.
?Eh..hmmh.. mm...mas.. A..Adi, saya mau lihat cara mas makan sandwich donk.? kata Jess. ?Nah kan denger sendiri kan mas? Ayo di makan? desakku. ?I...iya pak? lanjutnya. Dan tanpa ragu ragu lagi dia duduk di kursi terdekat, bukan di sofa tempat kutunjuk. ?Oh ya, sebelumnya, kuperkenalkan nama istriku Jessica, dan saya Michael? kataku memperkenalkan diri.
Kutarik selimut istriku sampai terbuka semua, dan kutarik dia bangun kemudian aku duduk di kursi yang bentuknya sama, dan istriku duduk di tangan kursi tersebut, posisi kursi kuletakkan sedemikian rupa sehingga aku sangat yakin pelayan ini mampu melihat seluruh tubuh istriku. Kutarik paha kiri istriku sehingga pemandangan terindah vaginanya terpampang jelas ke arah room service tersebut.
Ia terlihat sangat tidak tenang, gelisah, bingung sambil tetap memakan sandwichnya dan menelan ludah, seakan tak percaya, sedang mimpi apa dia.
Istriku merangkul bahuku, jemari kirinya menekan bahu kiriku, tampaknya ia juga gelisah, canggung, malu dan sebagainya, sedangkan rudalku sudah mulai naik lagi, lalu keheningan di pecahkan oleh dering telephone, aku mengangkatnya. ?Hallo, ..hm ya ... ini benar .. oh sudah pak, sudah datang, ohya sebelumnya maaf, memang dia belum saya suruh balik karena saya maunya setelah selesai makan langsung dibawa piringnya, jadi memang masnya saya suruh tunggu disini, ga apa ya... maklumkan ya.. oh ya,,oke.. makasih ya.? ?KLik? kututup telephonenya, ?hehe.. ditelfon sama room servicenya? kataku menjelaskan, Cuma istriku yang melihat kearahku, sedangkan mas Adi tampaknya sudah tak perduli lagi siapa yang menelephone, ia pandangi tubuh istriku tak ada habis habisnya, seperti serigala lapar. Aku senang melihatnya seperti itu, biasanya saja kalau istriku berbusana, setiap pria normal baik single, pacaran maupun yang sudah beristri pasti meliriknya lama lama, menelan ludah bahkan sampai kepalanya ikut berputar, apalagi ini. Sampai kayak orang mati.
Ngesex denganKakak Ipar Ceweku
Cerita ini mungkin terdengar standar, tapi buat ku sangat luarbiasa dan pengalaman yang menyenangkan.
Lebih dari setahun lalu aku punya pacar sebut saja namanya ita, lama pacaran dengannya aku dikenalkan dengan keluarganya, termasuk dengan - sebut saja - lina, yang kala itu masih berstatus pacar kakaknya ita, - Anggara. Awalnya sih biasa saja.. Keakraban kami dimulai ketika aku berani menelepon lina dengan alasan untuk mencari kado untuk ita, tentunya tanpa sepengetahuan ita dan anggara. Dari awalnya cuma sekedar pertanyaan standar seperlunya, berkembang ke cerita pribadi masing2, kemudian curhat ttg pasangan kami masing2 yang kaka beradik, bahkan tidak lama, dibelakang pasangan kami masing- masing, kami semakin akrab dan semakin intens berhubungan. Terkadang tanpa sepengetahuan anggara & ita kami menyempatkan bertemu di sela - sela waktu kerja dan pulang kerja, kebetulan kala itu tempat kerja kami tak jauh, lina bekerja sbg SPG di mall, aku pengawas lapangan atas proyek kontruksi. Perlu diketahui lina ini dgn kakaknya ita - anggara - tinggal satu atap (kumpul kebo), bisa ditebak mereka pernah berhubungan sex. Obrolan kami pun seringkali sampai ke tentang hubungan sex dengan pasangan masing2, mulai dari cara kissing sampe ke hal2 yang bisa bikin kami bergairah.....
Sampai suatu ketika, kami berdua kebetulan sedang bertengkar hebat dengan pasangan kami masing2. Seperti biasa kami saling curhat, sama denganku masalah ita dgn anggara belum selesai karena anggara keburu tugas luarkota. Sedangkan masalhku dengan ita .. eemmm .. ita justru coba menghindar dariku dengan pergi ke tempat kos lina, Karena bermaksud menyelesaikan masalah, aku menyusul ke tempat lina tanpa sepengetahuan ita namun dgn terlebih dahulu memberitahu lina.
Namun terlambat, sesampainya di kosan lina, ita telah pulang. Aku smpt mempertanyakan knp lina tdk memberitahuku kl ita sudah pulang, lina hanya menjawab tidak sempat, tapi sudahlah aku pikir tidak terlalu penting. Awalnya aku berniat menyusul ita, tapi lina menyarankan agar besok saja biar semua nya tenang, lagipula hari sudah sore. Akhirnya aku dan lina ngbrol, saling curhat permasalahan kami masing2, sebagai seorang lelaki tentu aku lbh tenang mengahdapi masalahku, berbeda dgn lina dia sempat menangis terisak-isak, entah kenapa aku tanpa pikir panjang segera merangkulnya dan memberikan pundakku padanya, dia merebahkan tubuhnya padaku, kupeluk erat2 tubuhnya, tak ada perlawanan sama sekali darinya. kurasakan toketnya menempel erat didada, kurasa dia tidak memakai Bra, kontol mulai menegang merasakan itu, dan kupikir lina pun merasakannya karena ia melepas pelukanku. AKu tak birakan dia lepas begit saja, birahiku mulai naik dengannya, kuusap airmatanya, kupandang dalam matanya, kukecup bibirnya, dia sempat terkaget, namun mungkin karena kita berdua sedang terluap emosi, maka emosi atas pasangan masing2 pun berubah menjadi napsu birahi , sesaat kemudian kulumat lagi bibirnya dengan penuh gairah, lina membalasnya, lebih agresif dari yang kuduga, birahi sudah menyelimuti aku dan lina, dengan ganasnya kita berciuman, aku merasakan sensasi yang berbeda dengannya, dia julur2kan lidahnya melumat bibrku, kami benar2 tak kuasa lagi menahan birahi, desahan kami semakin tinggi, kusedot lidahnya dengan penuh napsu, lina mengeranggg.. dibalasnya sedotanku.. kulanjutkan jilatan ke seluruh wajahnya. ""Uhhhh ahh.." kujilati lehernya , kusedot lehernya dan diapun mengerang " UGHH ... " lina blng " jangan dibikin cupang donk sayangg nanti ketauan.." , kuteruskan petualangan lidah menjilati membasahi sekujur leher, kubuka kaos tidurnya, ternyata benar dugaanku dia hanya memakai kaos saja tanpa Bra, terpampang dua gunung megah cukup mungil dengan puting yang mengeras, sebuah tanda birahi lina tlah amat naik....

Paras Ayu