Penyerbuan Siti Di Temanggung
Sabtu, 01 Agustus 2009, satu minggu sebelum terjadi penyergapan sarang teroris di daerah Temanggung, Jawa Tengah, oleh Densus 88 Anti Teror.
Jam menunjukkan pukul 13.00, Temanggung meskipun saat itu siang hari tapi karena daerah pegunungan udara terasa dingin dan sejuk.
Aku akan segera kembali ke Semarang setelah satu minggu ada tugas dinas di daerah Temanggung dalam rangka promosi produk dari perusahaan farmasi tempatku bekerja.
Dengan posisi menungging dihadapanku, seorang wanita usia 29 tahun tingginya kurang lebih 160cm berat badan tidak lebih dari 45kg, dengan kancing baju terbuka dan BH warna merah membungkus payudaranya yang berukuran 32, mengenakan Boy Shorts juga warna merah membungkus pantatnya yang padat berisi menutup seluruh pinggul dan sebagian perut, terlihat pantatnya lebih menyenangkan, nyaman, dan berkesan sporty.
Wanita ini terkesan mengidentifikasikan dirinya yang easy going dan down to earth.
Pantatnya bergerak gerak mengikuti gerakan mulutnya yang tengah sibuk mengoral penis Aris temanku yang berada didepan wajahnya.
Sedangkan kedua tangannya sibuk memegang dua penis milik Wawan dan Andi yang berada disamping kanan dan kirinya.
Dengan perlahan aku perhatikan adegan ini dari belakang.
Tangan Aris mulai meraih kepala Siti, nama wanita tadi dengan maksud untuk menahan gerakan gerakan mulutnya yang serasa sangat nikmat mengulum penisnya.
Sedangkan tangan Wawan dan Andi mulai sibuk mencari payudara Siti yang tergantung didadanya.
Dari belakang aku coba membantu melepas baju yang dipakai Siti dan dengan perlahan aku mengelus bagian punggungnya yang kini terpampang, mulai dari pangkal leher dengan perlahan tanganku menjalar ke bagian pundak, pangkal ketiak terus kebagian pinggang, sekitar 5 menit aku melakukan itu dan kini aku mulai meraih pengait BH yang dikenakan Siti dan dengan sekali tarik terlepas BH yang dipakainya dan kini pelan-pelan Bhnya aku lepaskan dari tangan Siti yang agak menghalangi saat kami berempat mulai menyaksikan tubuh Siti yang setengah telanjang.
Dan kesempatan ini tidak kami sia-siakan untuk menjamah payudara Siti yang kini tergantung bebas tanpa penutup dada tergantung bebas dengan posisi Siti yang kini merangkak dengan mulut bergantian mengulum 3 penis yang mengelilinginya, depan kanan dan kiri.
Sementara tangan Aris, Andi dan Wawan sibuk menggerayangi payudara Siti, tanganku dengan perlahan mulai menarik kebawah Boy Shorts yang dikenakan Siti, pelan tapi pasti Boy Shorts yang dikenakan Siti kini sudah setengah turun dan menutupi sebagaian pantatnya yang padat berisi.
Perjalanan dinas plus “honeymoon”
Aku menjabat Kepala Cabang perusahaan asing ternama disalah satu kota di Sumatra. Dalam pekerjaan ku, salah satu team ku sebagai asisten ku,bernama Ika sudah bersama ku selama 3 tahun lebih.
Ika sangat menarik, dandanannya cukup simple, namun suka pakai rok mini. Dalam pekerjaan sehari-hari aku dan Ika selalu membicarakan tugas, tidak pernah melenceng ke hal-hal sex, meskipun aku sering mencuri-curi ke arah pahanya yang mulus, yang tidak ter"cover" oleh rok-nya yang mini. Sering aku menghampiri meja kerjanya untuk membicarakan tugas, dan Ika dengan santainya membicarakan serius tanpa gaya merayu atau apapun. Paha yang terlihat pun tidak ada usaha untuk menutupinya ataupun. Pokoknya hubungan ku "straight" sebatas pekerjaan.
Adalah hal rutin untuk saya berkunjung ke kantor pusat Jakarta untuk urusan rapat dll. Namun kejadian minggu lalu adalah hal yang benar2 berbeda.
Undangan rapat pun tiba dan kantor pusat memanggil kami untuk rapat membicarakan krisis, karena cukup penting maka kantor pusat memanggil beberapa staff cabangku termasuk Ika.
Sengaja aku sampaikan ke Ika bahwa dia aku utuskan untuk hadir di Jakarta, namun dibalik itu aku memang rencanakan untuk hadir, aku booking tiket pesawat secara terpisah.
Pada hari H, aku langsung check in di counter Garuda, saat boarding sengaja aku masuk pesawat paling akhir, sambil jalan di gang aku lihat penumpang dan terlihatlat Ika yang sudah duduk dikursi jendela. Belum selesai dia terkaget akan kehadiranku, aku sudah langsung bilang bahwa aku putuskan untuk ikut rapat. Dalam perjalanan hampir dua jam lebih aku hanya bisa melihat Ika dari belakang, karena aku dapat kursi paling belakang sedangkan Ika ada ditengah.
Saat mendarat di Jakarta, langsung aku menghampirinya dan aku jelaskan lagi bahwa aku putuskan untuk ikut karena pentingnya rapat ini, dan Ika pun hanya mengangguk sembari menjawab "Ya Pak" dengan nada pelan, sambil dalam hati kebingungan (mungkin).
Dari Airport Jakarta langsung kami menuju ke Hotel Mulia tempat kami meeting dan menuju ke salah satu Ballroom untuk mengikuti meeting. Karena waktu yang mepet sekali, kami langsung menuju ke Ballroom tsb tanpa check in kamar terlebih dahulu. Rapat pun berjalan serius dan berakhir sore hari.
Saya langsung suruh Ika untuk check in ke reception, sempat Ika menanyakan apakah saya mau check in kamar juga. Saya jawab nanti saya susul setelah saya menemui atasan saya di Ball room itu.
Selesai berbicara dengan atasan saya, saya menuju ke reception, dari jauh aku melihat Ika dari belakang dengan rok mininya serta terlihat pahanya yang mulus yang sudah aku hafal benar...
Ku dekati Ika dan langsung Ika nanya, Bapak mau check in juga? Aku hanya bilang kamu check in saja dulu, aku nanti nyusul.
Selesai check in Ika menuju lift untuk kekamar, aku ikuti sambil membicarakan topic rapat tadi, Ika pun masuk lift dan memasukkan kartu kamarnya dan menekan tombol lantai 17. Didalam lift aku jelaskan bahwa kamar hanya pesan satu, dan aku tanya Ika apakah dia keberatan kalau aku gabung dikamar dia, plus aku tambahkan sekalian menghemat anggaran kantor cabangku, toh cuman untuk tidur saja.
Ika terlihat bingung namun juga tidak bilang keberatan atau tidak keberatan, sambil jalan ke kamar yang dituju. Sesampainya dikamar aku langsung aja menaruh koper kecilku, dan Ika sempat menanyakan apakah aku serius mau sekamar dengannya.
Aku tegaskan lagi bahwa kalau hanya untuk tidur semalam gak ada masalah. Akhirnya sambil terheran-heran, Ika meng-iya-kan, tanpa menyebut syarat-syarat.
Kami pun mulai melepaskan baju kantor kami, aku lepas dikamar dan Ika masuk ke kamar mandi untuk ganti baju sekaligus membersihkan diri.
Aku hanya bilang sehrian capek kita gak usah keluar makan, kita order room service saja, Ika pun langsung setuju.
Hukumanku
Beberapa waktu yang lalu aku tertangkap oleh aparat pemerintah dalam sebuah razia yang dilakukan di wilayah pinggiran kota xxxx. Dengan sedikit usaha yang aku bilang sangat panjang akhirnya aku mendapat pengetahuan tambahan dari mereka, tapi semua itu juga musti aku bayar dengan usahaku sendiri. Namaku yunita temanku biasa memanggilku yuni tinggiku 167 cm dengan ukuran dada 34b kulitku kuning langsat. Di kehidupanku yang lalu aku merupakan primadona kompleks tersebut. Aku menjadi pekerja seks karena kehidupanku yang ironis ketika aku tinggal didesaku, hingga sampai saat ini aku hidup sebatang kara tidak memiliki sanak saudara. Aku saat ini mencoba menjajaki kehidupan ku yang baru dan entah sampai kapan. cerita ini ad yang aku bumbui dan aku kurangi
Hilangnya Keperawanan Adik Kelasku
Nama saya Hendra (samaran). Saya seorang mahasiswa di suatu universitas swasta yang cukup terkenal di Bandung. Suatu hari menjelang ujian akhir semester, saya diajak oleh adik kelasku untuk belajar bersama. Aku menerima saja, karena dari dulu semenjak ia masuk ke jurusanku, aku memang sudah ingin jadi pacarnya.
Perawakannya cukup cantik, dengan tubuh yang ramping terawat, dan tentunya kulit yang putih karena ia keturunan Cina. Laura namanya. Begitu Laura mengajakku, tentu saja kujawab, "Mau.." "Jam berapa?" tanyaku. "Jam 3 sore, di rumahku, jangan terlambat soalnya nanti nggak selesai belajarnya", jawabnya. Wah, kesempatan nih, pikirku. Setahuku, ia tinggal berdua saja dengan pembantunya karena ayah dan ibunya yang sibuk mencari nafkah di luar pulau Jawa.
Pulang kuliah, aku langsung bergegas pulang, karena kulihat sudah jam 14:30 WIB. Dengan cepat kumasukkan buku yang sekiranya akan dipakai ke dalam tas, karena takut terlambat. Sesampainya di rumah Laura, aku langsung memencet bel yang ada di gerbang depan rumahnya, rumahnya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman kelihatannya. Sempat aku bertanya, kok rumahnya sepi banget. Kalau begitu berarti bonyoknya lagi pada pergi, jawabku dalam hati.
Tak lama setelah itu, Laura keluar membukakan pintu. Aku cukup kaget dengan penampilannya yang menarik, kali ini dia memakai kaos yang cukup ketat dan celana pendek ketat. Dia tersenyum lebar padaku, sambil mempersilakan aku masuk. Ketika masuk, aku merasakan rumahnya benar-benar sepi. "Langsung saja kita ke ruang tengah, yuk!" ajaknya.
Sesampainya di ruang tengah, aku langsung duduk di karpet karena tidak ada sofa. Ruang tengahnya didesain ala Jepang dengan meja Jepang yang pendek yang disertai rak majalah di bawahnya.
"Tunggu yah, aku mau mandi dulu", katanya, "Habis keringatan abis senam nih!" Ternyata aku baru tahu kalau badannya bagus karena ia sering senam. "Kamu mulai aja dulu, nanti terangin ke aku yah", katanya. "Kalo mau minum, ambil aja sendiri, soalnya pembantuku sedang sakit, dia lagi tiduran di kamarnya."
Cukup lama aku belajar sambil menunggunya dan akhirnya aku bosan dan melihat-lihat majalah yang ada di bawah meja di depanku. Kulihat semuanya majalah wanita, mulai dari kawanku, kosmo, dan majalah wanita berbahasa jepang. Tanpa sengaja, ketika kulihat-lihat kutemukan sebuah majalah yang berisikan foto cowok bugil dengan otot-otot yang bagus di tengah majalah bahasa jepang itu. Aku sempat kaget melihatnya. Bersamaan dengan itu, ia keluar dari kamar mandi yang letaknya di sudut kamar tengah di mana aku duduk. Dia keluar memakai kimono kain handuk putih. Karena keasyikan, aku tidak sadar kalau dia mendekatiku. Kupikir dia pasti masuk ke kamarnya untuk berpakaian terlebih dahulu. Aku sempat grogi, karena aku belum pernah didekati oleh wanita yang hanya menggunakan baju mandi, karena di rumahku tidak ada saudara perempuan, jadi aku merasa tidak biasa.
"Ih, kamu, disuruh belajar malah liat-liat yang aneh-aneh."
"Ini mah nggak aneh atuh", kataku, "Aku juga punya, dan badanku juga kayak gini loh!" bisikku sambil menunjuk ke salah satu model cowok di majalah tersebut.
Aku memang sudah ikutan fitness sejak kelas 2 SMU, tak heran kalau aku lebih terkenal karena badanku yang bagus dibanding kegantenganku.
"Ah, masa?" katanya, "Gua nggak percaya ah."
"Kamu kok tahan sih liat-liat kaya beginian?" tanyaku.
"Mana ada yang tahan sih?" balasnya.
"Tadi lagi nunggu kamu dateng ke sini saja aku sempet liat-liat dulu majalah itu lho! Jadi kamu tau khan, kenapa saya lama mandinya?" jawabnya sambil tersenyum mesum.
"Ihh, kamu ini!" balasku, "Ternyata suka juga ya sama yang gituan."
"Iya dong, tapi, Hendra katanya kalo maen langsung lebih enak ya dibanding masturbasi?" tanyanya. Saya sempat kaget ketika dia tanya hal yang begitu dalamnya.
"Kata kamu, kamu mirip ama yang di foto majalah itu, buktiin dong."
Wah, kupikir ini cewek sudah horny banget. Aku sempat grogi untuk kedua kalinya, aku cuma bisa tersenyum.
"Iya sih katanya, tapi khan..."
Belum selesai aku bicara, dia langsung mencium bibirku.
"Hendra, tau nggak kalo aku tuh sebetulnya udah seneng banget ama kamu semenjak aku ketemu kamu", bisiknya sambil mencium bibirku. Aku kaget dan responku cuma bisa menerima saja, soalnya enak sih rasanya. Terus terang aku belum pernah dicium oleh cewek sampai seenak itu, dia benar-benar ahli.
Tanpa sadar, posisinya sudah berada di atas pangkuanku dengan paha yang menjepit perutku. Sambil menciuminya, kuelus-elus pahanya dari atas ke bawah, dan dia mendesah, "Akh... enak sekali!" Kuteruskan aksiku sampai ke kemaluannya, kuraba klitorisnya, dan kugosok-gosok. Desahannya semakin keras, dan tiba-tiba dia berhenti. "Wah, kok berhenti?" aku bertanya dalam hatiku. Langsung saja kubisikkan padanya bahwa aku juga betul-betul menginginkannya jadi pacarku sejak awal bertemu. "Lalu mengapa kamu nggak bilang ama aku?" tanyanya. "Karena aku takut kalau perasaan kita berbeda", jawabku. Dia sempat terdiam sejenak.
Rumahku, Surga dan Nerakaku
Sambil terseyum kuperhatikan tubuhku yang terpantul di cermin. Malam ini aku terlihat cantik dengan daster yang berwarna pink, tanpa menggunakan BH dan celana dalam. Bentuk dadaku yang berukuran 36 B tercetak jelas di balik daster dengan putingnya yang menonjol. Sebelumnya perkenankan aku memperkenalkan diri, namaku Dhea Nita, biasa dipanggil Dhea, usiaku baru 21 tahun, sedangkan nama suamiku Roy usia 32 tahun, seorang pengusaha sukses, ia jarang sekali di rumah karena sibuk dengan pekerjaannya sehingga sebagai istri muda yang baru memulai kehidupan rumah tangga setahun yang lalu seringkali merasa kesepian. Memang terkadang aku sedikit menyesal memilih menikah terlalu awal, aku meninggalkan bangku kuliah dan karena menikah dengannya karena cintaku padanya. Ibuku juga cenderung lebih mendorongku agar menikah saja dengan Mas Roy yang telah mapan itu daripada meneruskan kuliah.
“sudahlah sayang, cermin itu bisa retak kalau kamu terlalu lama berdiri di situ!“ sahut suamiku sambil memeluk pinggangku dengan erat dan mencium lembut pipiku, “malam ini kamu terlihat sangat cantik bidadariku”
Aku tersipu malu mendengar pujiannya. Perlahan lidahnya yang hangat dan basah itu mulai menjalar ke leherku mempermainkan birahiku
“Mas bener-bener beruntung memiliki istri secantik kamu sayang, “ sslluuppss….. ssllluuppss!”
“Mas gombal ah….. hhhmm!!” jawabku sambil menahan napas saat lidah itu menyapu daun telingaku
Jari-jarinya mulai menyusup ke balik dasterku, perlahan jari itu menyentuh belahan vaginaku dan sedikit menggelitik klitorisku,
“Mas geli ahk, ohhkk….” desahku menahan nikmat
“geli apa geli? “ suamiku semakin bernapsu memainkan kewanitaanku,
“geli mas tapi mau“ kataku dengan nada yang manja sehingga dengan semangat 45 Mas Roy mendorong tubuhku ke kasur,
“Mas dah ga tahan nih sayang!” dengan buru-buru dia melepaskan celana dalamnya dan langsung menindih tubuhku.
Penis suamiku memang tidak terlalu besar dan gemuk hanya berukuran 12 cm dan diameter 3. Aku terseyum genit di depan suami ku menunggu apa yang akan dia lakukan terhadap tubuhku,
“Kamu bener-bener cantik sayang” rayunya lalu memagut bibirku.
Kini bibir kami beradu, lidah kami saling membelit rasanya begitu nikmat sekali, jarinya tak henti-hentinya mengelus setiap inci bibir vaginaku, sekali-sekali jari itu menusuk pelan ke ronggga vaginaku
“OoHhkk…. aaHhkkkK…mas, enak mas terus enak banget mas, Oohhkk…. Hhmm!!” rintihan ku menjadi-jadi saat aku merasa ada benda tumpul memaksa masuk ke vaginaku, dengan lembut jari-jarinya memainkan puting susuku,
“Oohhkkk….yyeeaaHhkk…. hhhmmm…… sssssss…..ohh… enak mas, ayo mas dipercepat, plisss!!” pintaku sambil menghentak-hentakkan pinggulku, wajahnya begitu puas melihatku sudah terbuai oleh nafsu,
“sayang…oohkk… “ penisnya yang keras terasa bergetar di dalam vaginaku, “ sayangnya saat itu aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi
“OooooHHHhkkk……Crreettsss…crroottsss…vaginaku terasa panas oleh lahar suamiku yang menyemprot di dalam sana,
“mmuuaaacckkhh…terima kasih sayang “ katanya sambil mencium keningku
Terus terang aku sedikit kesal karena belum mencapai puncaksementara ia sudah mendapat enaknya. Ccppookk, dengan sangat lembut dia melepas penisnya yang sudah loyo dari vaginaku lalu rebah di sebelahku. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan malam, dasterku kini acak-acakan akibat persetubuhan kami tadi, deru nafas kami yang masih naik turun dapat terdengar.
“sayang!” katanya sambil menatap mukaku dengan serius, tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya
“Iya Mas, ada apa?” kulihat raut mukanya begitu serius, aku terseyum, dengan lembut Mas roy mengusap rambutku yang panjang,
“Besok rencananya mas mau pergi lagi,” kata-kata itu sangat sering aku dengar, jadi tidak lagi membuat ku kaget, biasanya paling lama dia pergi 1 bulan,
“ga papa kok mas, kalau itu urusan kantor, kan mas bekerja juga untuk kita” kataku sambil mengelus wajahnya,
“tapi kali ini beda” selama beberapa detik suamiku terdiam sebelum kembali melanjutkan, “Mas, hhmm… mau keluar negeri ada urusan penting, mungkin dengan waktu lama mas baru pulang lagi,”
Kata-kata itu membuat tubuhku terasa lemas, bagaimana tidak, satu bulan tanpanya saja aku sudah rindu setengah mati, rindu akan cinta dan belaiannya, sekarang aku akan melewati hari-hari tanpa dirinya untuk jangka waktu yang tidak tentu. Cukup lama kami berpandangan, aku bingung harus ngomong apa lagi. Memang aku senang juga karena usaha suamiku semakin lancar, tapi di sisi lain aku takut kesepian,
“Ya sudahlah mas, kalau memang tidak ada cara lain” kataku dengan pasrah,
Dia terseyum sekali lagi dia mencium keningku dan dilanjutkan dengan bercinta tapi lagi-lagi ronde kali ini aku masih belum merasa puas. Ketika kami telah tergolek telanjang di balik selimut setelah orgasme tiba-tiba aku melihat bayangan hitam yang melintas di depan kamarku yang kebetulan tidak tertutup rapat. Saat itu Mas Roy telah tertidur sehingga aku urung membangunkannya dan aku sendiri juga mulai ngantuk, dalam hati aku berharap semoga yang lewat tadi bukan mengintip kami.
Surabaya Indah
Pagi ini aku sedang membereskan pakaianku untuk dimasukkan ke dalam koper. Ayahku memperhatikan dengan wajah sedih karena aku satu-satunya anak lelakinya harus pergi demi meraih masa depanku. Aku akan tinggal di Surabaya bersama Tante dan Oomku.
"Papa harap kamu bisa menjaga diri dan berbuat baik, menurut pada Oom Benny dan TanteLenny.." kata papaku.
Aku hanya diam menoleh menatap papaku yang nampak kurang bersemangat karena kepergianku, lalu kupeluk papaku.
"Saya tidak akan mengecewakan Papa.." kataku sambil menuju ke pintu.
Aku naik angkot menuju ke terminal bus. Ketika sudah di atas bus, aku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya sambil berharap semoga cita-citaku dapat tercapai. Sesampainya di terminal, aku melanjutkan dengan naik angkot menuju perumahan mewah di daerah Darmo.
"Apa ini rumahnya..?" kataku dalam hati.
Nomornya sih bener. Maklum aku belum pernah ke rumahnya.
"Gila.., ini rumah apa istana..?" gumamku bicara pada diriku sendiri.
Aku segera menekan bel yang ada pada pintu gerbang. Beberapa saat kemudian pintu gerbang dibuka. Seorang satpam berbadan gemuk mengamatiku, lalu menegurku.
"Cari siapa ya..?" tanyanya.
"Apa betul ini rumah Oom Benny..?" tanyaku balik.
"Ya betul.. sampean siapa?" tanyanya lagi.
"Saya keponakan Oom Benny dari Jember."
"Kenapa nggak bilang dari tadi, Sampean pasti Den Welly, kan..? Tuan sedang keluar kota, tapi Nyonya ada lagi nungguin."
Sekejap aku sudah berada di ruangan dalam rumah mewah yang diisi perabotan yang serba lux. Tak lama kemudian seorang wanita cantik berkulit putih bersih dan bertubuh seksi muncul dari ruang dalam. Kalau kutebak usianya sekitar 35 tahunan, tapi bagikan seorang gadis yang masih perawan.
Dia tersenyum begitu melihatku, "Kok terlambat Well..? Tante pikir kamu nggak jadi datang.." ucap wanita seksi itu sambil terus memandangiku.
"Iya Tante.. maaf.." jawabku pendek.
"Ya sudah.., kamu datang saja Tante sangat senang.. Pak Bowo.., antarkan Welly ke kamarnya..!" perintah Tante Lenny pada Bowo.
Kawin Paksa
"Jangan ngebuntutin aku kenapa, sih!!!"
"Ge eR banget!! wong mobilku didepan sono...Kebetulan aja searah...!!!"
Sejenak aku terlibat perang mulut di halaman parkir suatu Mall dengan seorang wanita muda yang sebenarnya sudah jadi temanku sejak kecil. Bahkan ayah kami teman akrab. Cuma dari dulu aku dan dia kerjanya beranteeeem mulu. Trus selalu bersaing di hampir semua bidang. Sama2 stubborn. Ga ada yang mau ngalah. Oh iya, cewe yang kumaksud namanya Hana. Umurnya 22 tahun, sama denganku dan juga bekerja di perusahaan yang sama denganku.
Orangnya Cantik, manis, dan kulitnya juga putih bersih. Dulu aku ngeledek dia dengan julukan "Papan gilesan", abis bodinya datar banget. Tapi semenjak SMA, aku ga bisa lagi ngejulukin dia kayak gitu lagi. Soalnya bodinya jadi montok sana sini. Bahkan kalo ngeliat sekilas aja, rasanya bedilku langsung naik. Padahal kalo dulu, pengen ngeliatpun nggak.
Tapi biarpun gitu, sebenarnya aku sudah lama juga memendam rasa cinta ke Hana. Tapi dasar apes, aku telat beberapa langkah. Dia sekarang pacaran sama Yota, yang notabene adalah musuh gengku waktu SMA dulu. Kayaknya poin yang bikin aku kalah saing adalah, Yota itu ortunya tajir abis. Biarpun ortuku juga lumayan tajir, tapi tetap aja ga setajir ortunya Yota. Dan kelihatannyanya, Hana juga ga ada nyimpan perasaan apa2 buatku. Tapi tetap aja aku ga bisa ngilangin rasa cintaku ke dia.
Tapi suatu hari, ada peristiwa yang benar2 merubah hidupku dan Hana. Ayahnya Hana tiba2 jatuh sakit, dan lumayan parah. Sudah dibawa berobat sana-sini, tetap aja kondisinya tak membaik. Kabarnya karena komplikasi. Dan akhirnya sampai pada suatu saat Om Santo (ayah Hana) seperti sudah berada di ujung nyawanya. Seluruh keluarganya larut dalam haru. Hana, ibunya, dan adik2nya. Bahkan keluargaku yang ikut menjengukpun juga. Aku hanya bisa terdiam dan turut sedih melihat kondisi om Santo. Soalnya orangnya sudah begitu baik padaku bahkan sejak aku kecil dulu.
Om Santo (OS) : Papa udah ga kuat lagi, Ma...!
Tante Santo (TS) : Papa jangan ngomong gitu, dong Pa...Mama juga ga kuat jadinya.
OS : Tapi bener2 sakit rasanya, Ma...kayaknya waktu Papa udah ga lama.
Hana : Papa jangan ngomong gitu, dong. Hana belum siap pisah dari Papa.
OS : Ah, Hana. Manusia pasti akan mati, toh. Tapi paling tidak, kamu mau, kan mengikuti satu aja permintaan Papa. Jadi kalo papa pergi pun sedikit ringan jadinya.
Hana : Apa permintaan Papa? Hana pasti turutin, kok.
OS : Janji?
Hana : Janji, Pa!
OS : Menikahlah dengan Joshua (aku...)!
Hana kaget buka kepalang. Apalagi aku!. Bahkan sepertinya semua orang di ruangan itu ikut kaget.
Hana : Tapi, pa! Hana, kan...
OS : uups...kamu, kan udah janji bakal nurutin semua keinginan Papa. Papa sudah dari dulu ingin menjadikan Joshua sebagai menantu Papa. Orang yang bakat gantiin papa ngurusin kamu. Kamu mau, kan, Josh!
Josh : Eeemm...anu...Kalo memang itu keinginan terbesar Om, aku pasti nurutin, kok Om!
OS : hoo...bagus lah...
Kulihat Hana hanya tertunduk sambil menangis. Aku bisa paham kalau dia tidak menginginkan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi. Ini permintaan terakhir Papanya. Kemudian Om Santo tertidur karena lelah. Kami semua disuruh perawat untuk keluar ruangan agar Om Santo bisa lebih santai. Di luar, keluargaku dan keluarga Hana tampak merundingkan hal tadi. Sementara terjadi perbincangan antara aku dan Hana.
Hana : Josh! Aku sama sekali ga mau nikah sama kamu! Ini cuma karena Permintaan terakhir papaku aja! Jadi jangan harap aku bakal jadi cinta sama kamu
Josh : Hoi hoi...emangnya aku mau nikah sama kamu!! Aku mau juga karena Om Santo yang minta!
Hana : Oke!! jadi kalo gitu setelah 4 bulan Nikah, Aku bakal Minta cerai sama kamu! Kalo perlu langsung talak tiga!
Josh : (Kaget...) Terserah!!!
Sebenarnya aku langsung uring-uringan mendengar permintaan Hana. Padahal kesempatan hanya satu kali ini. Aku bisa bersatu dengan orang yang kucinta. Aku harus segera menyusun rencana agar Hana tidak lepas dariku.
Suasana jadi sedikit kacau. Aku dan keluargaku sibuk mempersiapkan segala keperluan pernikahan. Sedangkan Hana bertengkar dengan Pacarnya. Tapi setelah dia menjelaskan rencananya, keadaan mereka kembali mereda.
Kegadisan Yulia
Waktu diusiaku yang beranjak dewasa, aku merasa bangga terhadap diriku yang ceria, supel, riang, penuh canda dan memiliki keindahan yang ada di dalam diriku. Tidak jarang aku berkumpul dan berjalan-jalan dengan kenalan baru, untuk saling mengetahui hal-hal yang baru. Aku di sekolah memiliki teman yang cantik dan seksi, sebut saja namanya Rina, tetapi diriku memiliki lebih dari apa yang dimilikinya. Temanku memiliki tubuh yang ideal, tinggi diatas 165 cm, berat 40 kg lebih, kulit putih mulus, bokong yang padat, dan yang paling kami banggakan adalah keindahan kedua buah dada yang kami miliki (34B lebih ukurannya), terkadang kami suka memakai pakaian yang pedek dan ketat untuk dapat memamerkan apa yang kami miliki, dan tentu saja indahnya tubuh kami sering dipuji. Bangga rasanya dapat menarik perhatian orang, yang terkadang tidak berkedip melihatku.
Sebut saja namaku Yulia, aku sangat akrab dan saling berbagi dengan temanku ini, walaupun itu hal yang kecil dan sepele. Di sekolah dan sepulang sekolah, rasanya seperti perangko saja, jarang berjauhan dan selalu terlihat bersama, dan tidak jarang kami menginap bergantian. Kalau sedang berdua, kami sering membandingkan sosok tubuh kami, apa yang kurang dan apa yang lebih. Kami membandingkan tubuh dengan berbagai macam jenis pakaian, dari yang dapat memperlihatkan indahnya tubuh dan pakaian yang benar-benar tertutup.
Dia sering bercerita apa yang sering dilakukannya dengan pacarnya, sampai ke hal-hal yang disukainya. Saat kami duduk berdua, dia menceritakan bagaimana dia merawat dadanya, dia mengajarkan bagaimana menghindari penyakit kanker payudara. Rina mengajarkan cara memijat dan lain-lain. Dia mengatakan kalau wanita menyusui sangat minim untuk terkena kanker. Dengan berbisik, Rina mengatakan kepadaku cara menjaganya dengan cara lain, tetapi lebih suka bila dibantu.
Dia berbisik lagi, "Dibantu dengan pacarku."
Lalu kubertanya, "Bagaimana..?"
"Sepeti ini (tanganya lalu meremas-remas dadanya) dan kadang dihisap, awalnya aku risih, tapi karena aku suka, jadi aku menyenanginya (pacarnya dan caranya)."
"Aku bingung.., seperti apa sih..?" jawabku.
"Bodoh kamu..!" kata Rina, lalu dia melepaskan pakaiannya dan memang bentuknya indah, aku saja terkagum-kagum, apa lagi pacarnya, buah dadanya mulus dan terlihat padat.
Lalu dia melepaskan BH yang menutupi keindahan dadanya. Kedua dada yang padat dan kedua puting yang merah terlihat lembut. Lalu tanganya meraba-raba, meremas-remas kedua puting yang terlihat bulat, akhirnya kedua puting payudara itu mengeras dan kedua dadanya tegang.
"Seperti ini..." katanya.
Dan dia memainkan puting yang merah itu sambil berkata, "Dia menghisap ini dengan nafsu, dan lembut juga lidahnya memainkan ini, nikmat loh..!"
"Apa nikmatnya..?" kataku.
Lalu dia menghampiriku dan tanganya meraba dadaku (yang ukurannya lebih besar dari miliknya), "Seperti ini loh Non.., dadamu boleh juga ya..?" kata Rina sambil tersenyum dengan peragaan kedua tangannya.
Rasanya aku tidak menyuka hal seperti ini, tetapi perlahan-lahan aku rasakan nikmat.
"Awalnya risih, tapi lama-lama rasanya lumayan, enak juga..!" kataku.
Kemudian kulihat tatapan matanya ke wajahku, rasa ingin berbagi pengalamannya terlihat.
"Bolehkan kubagi pengalamanku..?" sahut Rina dengan rasa penasaran, "Biar kamu tau yang kunikmati dari pacarku.." sambungnya dengan rasa ingin memberitahunya yang tinggi.
Aku berpikir dan rasanya penasaran juga, "Seperti apa sih..?" tanyaku dengan sikapku yang ingin mengetahui lebih lagi.
Lalu Rina meremas, dan kemudian mengangkat kaosku, sehingga BH-ku yang berenda dan berwarna krem dapat ditonton.
Rina melihat dan memujiku, "Kalau kamu punya pacar pasti suka dengan yang satu ini.. (dada berukuran 36 yang putih dan mulus)"
Dia pun melepaskan kedua kaitan bra-ku, bra yang tadinya menutup dengan sesak kedua buah dadaku, akhirnya diangkat bersama kaosku, sehingga tiada sehelai kain pun menutupi dadaku yang tertutup sesak, dan seakan dadaku sekarang lepas dan terlihat mengembang. Memang ukuran yang aslinya lebih besar dari bra yang kupakai.
Mika Maharani 1, Perkenalan & Seks Tanpa Suami
Sudah sangat klise rasanya memberikan alasan tentang mengapa akhirnya aku jadi wanita simpanan dan panggilan. Uang. Itulah alasan satu-satunya, atau paling tidak yang paling utama. Jutaan wanita panggilan di dunia ini bekerja untuk yang satu itu. Uang. Tak lebih tak kurang.
Tetapi tidak semua wanita panggilan berawal dari kebutuhan akan uang. Aku kehilangan keperawananku 8 tahun yang lalu, bukan karena aku butuh uang. Aku memberikan keperawananku karena orangtuaku yang membutuhkan kepastian. Entah kepastian apa, tetapi mereka selalu bilang bahwa aku harus hidup layak, karenanya harus menikahi seseorang yang memiliki kepastian. Seorang pemilik perusahaan besar. Orangtuaku menganggap perusahaan adalah salah satu bentuk kepastian, padahal akhirnya perusahaan juga bisa bangkrut. Tiga tahun setelah perkawinan itu, Arman -suamiku- tewas dalam kecelakaan lalulintas. Ia pulang dari sebuah pertemuan pemilik saham dalam keadaan mabuk. Pertemuan itu sendiri konon sangat kacau, karena berakhir dengan kesepakatan untuk tidak melanjutkan perusahaan yang dibebani hutang jutaan dollar. Suamiku tewas oleh galaunya sendiri, setelah sadar bahwa ia tak bisa mempertahankan perusahaan yang diwarisinya dari orangtuanya.
Kehidupan ekonomi ku langsung hancur. Orangtuaku minta maaf, tetapi untuk apa minta maaf kepadaku? Orang tua Arman ikut terpukul, karena suamiku adalah anak laki-laki tunggal. Kakak dan adiknya semua telah menikah, ikut suami-suami mereka hidup jauh dari sini. Orangtuaku maupun orangtua Arman sama-sama tak bisa menanggungku lagi. Untunglah kami belum punya anak, karena Arman belum mau punya anak.
Kehidupan psikologis ku juga hancur. Terutama karena aku terlalu bodoh membiarkan diriku bergantung sepenuhnya kepada suami. Aku tidak tahu, sampai sekarang, apakah aku mencintainya. Tetapi aku menggantungkan diri kepadanya, luar-dalam. Ia adalah pria pertama yang hadir dalam kehidupanku. Aku baru berusia 17 waktu menikah, dia berusia 26. Selama sekolah, aku belum pernah pacaran, walau selusin lebih teman pria berusaha mendekati. Aku cuma pernah sekali dicium, itu pun karena si nakal penciumnyamenipu ku dengan pura-pura akan berbisik. Aku tak menikmati sama sekali ciuman yang cuma 2 detik itu.
Dengan Arman, aku masuk ke dunia suami-istri seperti seorang buta dituntun seseorang yang terlatih untuk menuntun orang buta. Malam pertama kami tak kan pernah kulupakan. Ia begitu sabar menuntunku, membangkitkan sesuatu yang kemudian tak pernah tidur lagi!
Baiknya kuakui saja, seks adalah sesuatu yang sangat kusukai, dan Arman lah yang memberikan kesukaan itu pertama kali. Aku berhutang sepanjang hayat pada pria yang telah membawakan padaku sensasi indah itu. Perasaan ku padanya tidaklah bisa dibilang cinta, terutama karena aku sendiri tak tahu apa itu cinta.
Rupanya, tubuhku menyukainya, tetapi hatiku tak pernah bisa memutuskan. Gairahku cepat terbangkit kalau disentuhnya, tetapi perasaanku kepadanya biasa-biasa saja, seperti perasaanku kepada lelaki lain. Ia tidak seganteng bintang film pujaanku, tidak segagah teman sekelasku, tidak semenarik seseorang yang pernah kulihat di sebuah mal.
Tetapi almarhum suamiku adalah pecinta ulung. Di atas ranjang, ia bisa membuatku ketagihan. Percumbuan kami tak pernah sebentar, kecuali pada malam pertama atau ketika ia sedang tidak enak badan (dua atau tiga kali saja sepanjang perkawinan permainan cinta kami berlangsung 10 menit). Aku selalu bisa mengalami klimaks berkali-kali, dan suamiku selalu sanggup menunggu sampai aku melewati setidaknya 3 klimaks. Belum pernah rasanya kami bersetubuh kurang dari 1 jam.
Sebulan setelah menikah, suamiku memperkenalkan kenikmatan jilatan lidahnya. Suatu malam ia membuatku terduduk di sofa, mengangakan selanganku, dan menjilati bagian-bagian sensitif kewanitaanku, membuatku menggelepar-gelepar. Sejak itu aku selalu menjaga kebersihan dan keharuman selangkanganku, karena setiap hari aku ingin dijilati di sana, walau tentu tak setiap hari harapanku itu terpenuhi. Namun setidaknya setengah dari orgasme-orgasmeku datang dari lidahnya yang cekatan. Membayangkan lidahnya saja bisa membuatku merinding sendiri.
Almarhum pula yang bisa menyetubuhiku dengan berkepanjangan, dan memberikan padaku kenikmatan berkesinambungan. Pada awalnya aku beranggapan bahwa orgasme hanya datang dalam interval-interval. Tetapi suatu malam Arman mencumbuku 2 jam penuh, tanpa sekali pun melepaskan kejantanannya dariku. Ia menggenjot-genjotkan tubuhnya dengan berbagai irama dan dari berbagai posisi. Ia menindihku dan menggenjot pelan dan panjang. Ia membalikkan tubuhku dan menyetubuhiku dari belakang. Ia membuatku bergantung di pinggir ranjang dan menggejot dari samping. Ia melakukan segalanya dengan seksama, sementara aku sejak awal dilanda orgasme. Tak berhenti sampai akhirnya ia letih sendiri, dua jam kemudian.
Kini, setelah ia meninggal dan dikubur, aku seperti layang-layang putus talinya. Pada hari pemakaman aku menangis sejadi-jadinya, walau aku tak pernah mengerti untuk apa aku menangis. Apakah karena kehilangan sumber nafkah, ataukah karena kehilangan sumber kenikmatan? Atau apa?
Yang terang, setelah Arman meninggal, perlahan-lahan keadaan ekonomi ku memburuk. Aku tidak punya pengetahuan apa-apa. Sekolah ku hanya SMA, tanpa keahlian lain selain membuat sayur asam. Orangtua dan mertuaku pun tak berdaya, mereka sudah terlalu tua untuk menanggungku. Kakak-kakak ku tak pernah hidup lebih baik dari ku, sehingga rasanya berlebihan kalau bergantung kepadanya.
Pekerjaan pertamaku sangat membuatku tertekan. Sebuah restoran membutuhkan pelayan, dan seorang teman Arman (pria yang matanya selalu nakal memandangku) membawaku ke sana. Pemilik restoran memuji penampilanku (bukan sombong, wajah dan tubuhku sanggup membuat pria berputar 180 derajat kalau berpapasan). Segera aku diterimanya, diberi seragam yang agak sempit (tapi justru menonjolkan keseksianku). Gajiku langsung disamakan dengan seorang yang telah berpengalaman, dan aku langsung dimusuhi teman-teman sesama pelayan.
Pekerjaan itu cuma berusia 5 hari. Pemilik restoran terlalu sering memanggilku ke kantornya, dengan alasan ingin berbincang-bincang. Tetapi matanya itu! Matanya selalu menatap bokong dan dada ku di setiap kesempatan. Pada hari keenam, aku tidak hadir. Pada hari ketujuh, pemilik restoran mengirimkan amplop gaji sebulan penuh lewat seorang supir. Ada surat pendek mengatakan ia ingin bertemu denganku di sebuah tempat, yang ternyata adalah sebuah motel. Surat itu kusobek sekecil-kecilnya. Tetapi uang di dalam amplop kuterima dengan lega. Setidaknya, untuk sebulan ini dapur ku tetap mengepul.
Rumah Kost
Perkenalkan, ,,,nama aku Tedy,umur 30 tahun bekerja pada salah satu perusahaan swasta yang ada dikota (xxx),.Aku punya sedikit cerita yang bagiku cukup enak untuk dibaca.Peristiwa ini terjadi sewaktu aku mencari tempat kost dikota aku bekerjaSetelah lama mencari,akhirnya aku menemukan sebuah rumah yang menurutku cukup bagus.Kudatangi rumah itu dan kuketuk pintunya.
Tak lama berselang,dari balik pintu muncullah seraut wajah yang sangat cantik sekali.Seorang wanita yang jika kutaksir umurnya 28 tahun.Wajahnya cukup cantik,dengan rambut yg hitam dan subur yang panjangnya hingga kepunggung.
Jika kutaksir tinggi wanita ini kira2 155 cm.Namun yg membuat aku tertarik adalah bentuk tubuhnya yang proporsional. Dadanya membusung indah dgn ukuran bra 36B dan bokong yang besar,padat dan mengembang.Pada saat itu dia mengenakan baju kaos yg cukup ketat sekali dgn belahan dada yang rendah,sehingga aku dapat melihat kulit dadanya yg putih mulus ,dan celana lee yang dipotong pendek hingga pangkal pahanya yang menampakkan batang paha yang putih mulus tanpa cacat.
Akupun dipersilahkan masuk.Kamipun berkenalan.
“Perkenalkan, ,,,saya Tedy” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Sabrina,,,,panggil aja Rina”katanya sambil menjabat tanganku.
Kurasakan lembut tangannya dalam, genggaman tanganku.
Akupun mengutarakan niatku padanya dan kamipun saling tawar menawar tentang harga kost.setelah sepakat ,,,iapun mengajakku untuk melihat kamar yang akan kutempati.
“Mari,,,,silahkan dilihat dulu deh,,,,:” katanya padaku.
Akupun mengikuti langkahnya dari belakang.sambil berjalan akupun tak luput memelototi bokongnya yang bergoyang.tak terasa sesuatu bergerak dari dalam celanaku.sesampainy a dikamar yang aku tempati,kami masuk dan melihat seisi kamar tersebut.Namun sesekali mataku mencuri pandang kearah dadanya Mbak Sabrina yang putih mulus itu.ternyata dibalik baju kaos itu ia tak mengenakan bra sehingga puting buah dadanya membayang jelas,,,
“bagaimana Mas Tedy,,,,bagus khan,,,,” katanya padaku.
“Wah,,,bagus sekali mbak,,,,,bersih lagi,,,”kataku padanya.
“Jangan panggil mbak dong,,,panggil aja Rina,,,ya ,,mas:katanya padaku.
“oh ,,maaf,,,ya deh,,,”
Malam harinya akupun berkenalan dgn suaminya Mbak Sabrina.Ternyata diluar dugaanku,suaminya sabrina jauh lebih tua dari Sabrina.jika kutaksir umurnya sekitar 40 tahun.Namun beliau sangat ramah dan supel.Beliau seorang menejer disebuah perusahaan swasta yang ada dikota ini.Tujuannya membuka kos-kosan bigina hanyalah untuk menemani Sabrina agar jangan kesepian saja,karena beliau sering dinas keluar kota.
Akupun semakin hari semakiun betah tinggal disini.Hingga tak terasa aku telah tinggal disini selama 3 bulan.Jika kuperhatikan ,penampilan Sabrina ibu kost mudaku ini makin hari makin seksi saja.Terkadang aku sering menghayalkan dan membayangkan bagaimana rasanya bersetubuh dengannya.Padahal aku punya banyak kesempatan untuk melakukannya .Tak jarang suaminya pergi keluar kota untuk beberapa hari lamanya, dan selama itu pula sicantik Sabrina tinggal berdua denganku.
Hingga suatu hari,,,Ketika itu aku pulang kerja agak larut malam,,,ketika aku pulang,,kulihat lampu ruang tamu sudah mati.Agaknya Sabrina sudah tidur.Untunglah aku mempunya kunci cadangan ,hingga aku bisa masuk tanpa harus membangunkannya. Begitu kubuka pintu,,,,kulihat lampu diruang tengah masih menyala.Akupun mengunci pintu dan berjalan menuju ruang tengah.Alangkah terkejutnya aku menyaksikan pemandangan diruang tengah tersebut.Kulihat Sabrina tergeletak tidur diatas lantai yng beralaskan permadani.Disamping nya terlihat sebuah benda yang menyerupai penis lelaki.Rupanya ia habis masturbasi dengan penis yang terbuat dari karet hingga terlelap tidur.Akupun menghampirinya dan memelototi sekujur tubuhnya yang tak tertutupi oleh sehelai benangpun.Betapa mulusnya kulit Sabrina.Tak terasa sesuatupun bergerak dibalik celana panjang yang kukenakan.Timbullah keinginanku untuk menyetubuhinya malam ini.
Perlahan kugerakkan tanganku membelai buah dadanya yang padat dan berisi itu.Kuremas remas dua bukit yang ada didadanya sambil sedikit kupelintir ujung putingnya.Akupun mendekatkan bibirku kearah puting yang tegak menjulang itu.Kupermainkan dengan ujung lidahku sambil kugigit perlahan.Aku perhatikan dia tak bergerak sedikitpun.Mungkin ia hanyut dalam mimpi-mimpi yang indah.Akupun melanjutkan aksiku.Perlahan mulutku mengitari permukaan perutnya yang langsing itu dan akihirnya berhenti dibukit kemaluannya .Aku memperhatikan bukit lembab yang merah merekah dan tak ditumbuhi sehelai rambutpun.Kujulurka n lidahku untuk menyapu permukaan bukit itu.Terasa sangat halus sekali kulit permukaan vaginanya .Mulutku terus begerilya disekitar bibir kemaluannya. .
Akupun bangkit dan melepaskan seluruh pakaianku.Batang kejantananku tegak berdiri seolah ingin menusuk memiaw yang terbentang dihadapanku. Akupun kembali menghampiri Sabrina yang tergolek pasrah.Kembali kujilati lobang kewanitaan yang merah merekah itu.Batang kejantananku berada pada posisi yang sangat keras dan tegang sekali.Perlahan, kugosokkan ujung kepala peniskut permukaan vagina sabrina.Sampai saat itu ,,tak ada gerakan yang berarti yang terjadi pada dirinya.
Akupun segera saja menusukkan batang kejantananku kedalam lobang kewanitaannya .Bless,,,,,langsung masuk.Kudiamkan beberapa saat sebelum kugoyang perlahan.Beberapa menit kemudian,,,aku mulai menggoyang perlahan ,dan terus hingga akhirnya sesuatu terasa menyesak dari dalam diriku.Aku telah mencapai klimalks.Kucabut penisku dari dalam vagina Sabrina dan kumuncratkan spermaku diatas perutnya yang putih mulus itu.
Selesai menggeluti tubuh Sabrina ,,aku bergegas memberesi pakaianku dan pergi meninggalkannya yang masih tergolek dilantai dalam mimpi-mimpi indahnya.Malam ini menjadi malam keberuntungan bagiku ,,karena telah dapat menikmati tubuh cantik yang selalu menjadi hayalan dalam masturbasiku, ,walau hanya dalam tidurnya yang indah.
