Gairah Liar Majikanku yang Cantik
Kisah ini bermula ketika keluargaku baru saja ditinggal pergi oleh kedua orangtua kami, yang meninggal dalam musibah kecelakaan angkutan umum di daerah kami, sebuah kota sejuk di dekat Jakarta. Sebagai anak tertua, maka aku yang selama ini hanya kuliah tanpa harus memikirkan sumber biayanya, terpaksa harus menggantikan tugas orang tuaku mencari nafkah untuk menghidupi adik-adikku dan melanjutkan kuliahku. Aku tidak ingin cita-cita kedua mendiang orang tuaku untuk memiliki anak yang berhasil menjadi sarjana, menjadi gagal. Akan tetapi ternyata tidak mudah juga untuk mencari nafkah di kota ku ini.
Pada suatu malam, yakni Minggu malam, ketika aku sedang melamun, terdengar orang mengucap salam dari luar. Ku bukakan pintu, ternya pak RT yang datang. Pak RT minta agar aku sudi menjadi supir pribadi dari sebuah keluarga kaya. Keluarga itu adalah pemilik perusahaan dimana pak RT bekerja sebagai salah seorang staff di perusahaan itu. Spontan aku menyetujuinya dan berterimakasih atas tawaran itu.
Esoknya kami berangkat ke rumah Boss-nya Pak RT ku. Ketika memasuki halaman rumah yang besar seperti istana itu, hatiku berdebar tak karuan. Setelah kami dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di ruang tamu yang megah itu, tak lama kemudian muncul seorang wanita yang tampaknya muda. Kami memberi hormat pada wanita itu. Wanita itu tersenyum ramah sekali dan mempersilahkan kami duduk, karena ketika dia datang, spontan aku dan pak RT berdiri memberi salam " selamat pagi". Pak RT dipersilakan kembali bekerja oleh wanita itu, dan diruangan yg megah itu hanya ada aku dan si wanita itu.
" Benar kamu mau jadi supir pribadiku ? " tanyanya ramah seraya melontarkan senyum manisnya.
" Iya Nyonya, saya siap menjadi supir nyonya " Jawabku.
" jangan panggil Nyonya, panggil saja saya ini Ibu, Ibu Maya " Sergahnya halus. Aku mengangguk setuju.
" Kamu sudah pernah bekerja jadi sopir pribadi sebelumnya ?"
" Tidak nyonya eh...Bu ?!" jawabku. " Saya tadinya masih kuliah, tapi saya pernah menjadi supir angkot tidak tetap selama satu tahun" sambungku. Wanita itu menatapku dalam-dalam. Ditatapnya pula mataku hingga aku jadi salah tingkah. Diperhatikannya aku dari atas sampai ke bawah.
" kamu masih muda sekali, ganteng, nampaknya sopan, kenapa mau jadi supir ?" tanyanya.
" Saya butuh uang untuk menghidupi keluarga saya, Bu " jawabku.
" Baik, saya setuju, kamu jadi supir saya, tapi harus ready setiap saat. gimana, okey ? "
" Saya siap Bu." Jawabku.
" Kamu setiap pagi harus sudah ready di rumah ini pukul enam, lalu antar saya ke tempat saya Fitness, setelah itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana saya suka. Kemudian setelah sore, kamu boleh pulang, gimana siap ? "
" Saya siap Bu" Jawabku.
" Oh..ya, siapa namamu ? " Tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Sepontan aku menyambut dan memegang telapak tangannya, kami bersalaman.
" Saya Leman Bu, panggil saja saya Leman " Jawabku.
" Nama yang bagus ya ? tau artinya Leman ? " Tanyanya seperti bercanda.
" Tidak Bu " Jawabku.
" Leman itu artinya Lelaki Idaman " jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku. Aku tersenyum sambil tersipu. lama dia menatapku. Tak terpikir olehku jika aku bakal mendapat majikan seramah dan sesantai Ibu Maya. Aku mencoba juga untuk bergurau, kuberanikan diri untuk bertanya pada beliau.
" Maaf, Bu. jika nama Ibu itu Maya, apa artinya Bu ? "
" O..ooo, itu, Maya artinya bayangan, bisa juga berarti khayalan, bisa juga sesuatu yang tak tampak, tapi ternyata ada.Seperti halnya cita-citamu yang kamu anggap mustahil ternyata suatu saat bisa kamu raih, nah…khayalan kamu itu berupa sesuiatu yang bersifat maya, ngerti khan ? " Jawabnya serius.
Ngerjain Model Amoy
Aku seorang fotografer yang sering mengorbitkan model2 yang belum punya nama. Aku punya kenalan banyak produser film dan agency model, sehingga aku selalu berhasil menyalurkan para model2 baru ini kepada mereka. Mereka percaya karena model2 yang kuajukan biasanya tidak pernah mengecewakan walaupun mereka belum berpengalaman. Aku kenalan dengan satu cewek amoy, sebut saja Fika, abg asal kota amoy, Singkawang. Seperti ciri kebanyakan abg amoy, Fika punya perawakan kutilang tapi gak darat, karena toketnya lumyayan gede. Pinggangnya ramping dan pinggulnya yang besar sehingga membuat setiap lelaki betah berlama2 menyapu tubuh Fika dengan matanya. Apalagi kalo liat Fika jalan, pantatnya yang besar bergerak kekiri kekanan mengikuti gerak langkahnya. Pasti bikin napsu lelaki yang ngeliatnya, apalagi Fika sering pake celana panjang, apalagi pendek, yang ketat. Kulitnya yang putih dan wajah sendu dengan sepasang mata sipit menambah kecantikan Fika. Yang khas lagi dari Fika adalah bulu tangan dan kaki yang panjang2, ditambah dengan kumis tipis yang menghiasi bagian atas dari bibir mungilnya, menambah keseksiannya. Pastilah jembutnya lebat, dan napsunya gede. Model pakeannya juga selalu seperti yang dipake abg amoy, rambut lurus sebahu yang dicat kepirangan, blus ketat yang menonjolkan kemontokkan toketnya, dan celana hipster yang juga ketat sehingga pinggang dan pinggulnya pasti menarik perhatian lelaki yang melihatnya. Lagian blus ketatnya cuma sepinggang sehingga pinggang dan perutnya yang putih mulus serta pusernya suka ngintip kalo Fika bergerak. Fika ingin mencoba peruntungannya dibidang modelling.
"Kamu punya bikini atau daleman model bikini gak?", tanyaku ketika menjadwalkan sesi pemotretan. "Punya om, cowokku sering beliin aku daleman model bikini, mana kekecilan dan tipis lagi. Bikini juga ada". "Kamu bawa ya, juga bawa baju ganti karena kita akan shooting di vila, kalo enggak selesai kita nginep ya". "Nginep om?", tanyanya. "Napa, kamu keberatan? Kalo gak selesai masa mesti balik lagi dan besok kesana lagi. Buang2 waktu lah, lagian kita juga bisa bikin foto sesionnya malem kan".
Pada hari yang dijanjikan, Fika membawa tas yang berisi baju ganti, bikini dan beberapa daleman bikini serta mantel. " Hai Fik", sapaku ketika jumpa di resto yang menjadi tempat pertemuan kami. Fika pake blus ketat warna pink dan jins hipster ketat juga. "Wah kamu cantik sekali, Fik, seksi juga lagi", kataku sambil menyalami Fika. "Om belum pernah neh dapet model amoy, mana amoynya bahenol lagi". Aku duduk didepan Fika. "Kita berangkat sekarang yuk". Kamipun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke mobil ku yang diparkir di halaman resto. Di jok belakang teronggok tas yang berisi peralatan fotografi, serta peralatan bantu lainnya. Segera mobil meluncur meninggalkan tempat parkir, menembus kemacetan kota menuju ke vilaku yang terletak di daerah Puncak. Selama diperjalanan kami ngoborol ngalor ngidul. Aku mampir disebuah mini mart didekat vila dan membeli makanan dan minuman serta keperluan lainnya. Belanjaan yang cukup banyak itu ditaruh dibagasi mobil mengingat di jok belakang dah dipenuhi peralatan foto. Sesampainya di vila, ku menurunkan semua bawaannya. Fika membantu ngangkatin juga selain tas pakeannya. "Gak ada yang nungguin ya om", tanya Fika. "Ada yang nunggu, setan". "Bener om ada setannya", Fika membelalak ketakutan. "He he om becanda kok, kalo juga ada setan, setannya takut ama om. Kan om rajanya setan", kataku sembari mencolek pinggang Fika yang terbuka. "Ih, om geli ah", jeritnya manja. "Kan vila ini kosong, jadi kalo om mo pake vilanya, ada orang yang dateng buat membersihkan seluruh vila sebelumnya". Makanan dan minuman dimasukkan ke lemari es, sebagian diletakkan dimeja pantri. Ketika itu dah sore, matahari dah mulai turun. "Fik, masih ada matahari, fotosession dulu yuk. Kamu pake deh bikini kamu. Om tunggu di belakang ya, di kolam renang". Fika masuk ke salah satu kamar dan mengganti pakeannya dengan bikini. Karena bikininya minim, toketnya yang besar montok seakan mo ngeloncat keluar. Demikian juga jembutnya yang lebat ngintip dari sela2 cd bikininya. Aku menelan ludah ketika melihat Fika berbikini sexy. "Wao, mulus banget Fik. Merangsang banget". Aku segera memberi arahan pada Fika untuk berpose di pinggir kolam renang dan mulai mengambil gambar. Karena Fika belum pernah akting maka gayanya kaku. "Kamu malu ya Fik ama om, kok kaku banget seh gaya kamu". "Enggak kok om, Fika gak malu". "Anggep aja om cowok kamu supaya kamu bisa lebih rilex gayanya". Dengan sabar aku mengarahkan Fika berpose sehingga akhirnya dapet juga satu set foto Fika berbikini. Aku mengomentari apa yang harus diperbaiki sembari melihat foto2 yang diambilnya di laptop.
Flirting Paradise
Namaku Michael umur 24 tahun dengan seorang istri bernama Jessica berumur 22 tahun, kami menikah 11 September 2004 lalu, belum dikaruniai anak, pernikahan kami itu masi terus saja menjadi bahan pembicaraan kami, walau setahun telah berlalu, kami selalu tertawa, dan tidak jarang kejadian itu membuat birahi kami bangkit, apalagi foto tersebut sekarang sudah beredar luas di internet, entah siapa yang iseng untuk menyebarluaskannya. Tapi untungnya lagi orang tua kami dapat memaklumi kejadian itu, saya tidak tahu apakah kalau ayah saya masih hidup bisa memakluminya atau tidak.
Tapi kejadian tersebut sudah berlalu, walaupun kalau diingat sangat menggelikan, bahkan pada saat menulis cerita ini kembali pun terasa sangat menggelikan, padahal sudah banyak yang mengingatkan kami, ?eh itunya turun tuh, naikin? teriak salah seorang teman, ?busyet deh, bagus amat tuh, sabar atuh malam pengantinnya? timpal yang lain. Kami hanya mengenyeritkan dahi tidak mengerti, sampai beberapa jepretan kamera, dan saat teman kami menunjuk ke arah dada sambil menggunakan bahasa tubuhnya untuk mengangkat gaun, barulah kami berdua sadar, tapi itu sudah terlambat, semua pengunjung sudah melihat dan foto pun sudah terekam, yang mengambil gambar kami pun sudah pulang tanpa bisa dicegah, sampai kami harus mendapatkan foto kami sendiri atas hasil karya orang tersebut melalui internet.
Ohya, kami belum dikaruniai anak bukan karena kami menunda memiliki anak, tetapi faktor kami berdua, rahim istriku ada sedikit gangguan yang menyebabkannya sulit untuk menerima sperma, kecuali sperma tersebut memang sangat kuat, dan sayangnya spermaku normal normal saja, bukan sperma super, sehingga kami belum bisa memiliki keturunan, kami pernah mencoba berobat ke Jerman, tetapi tidak membuahkan hasil, disamping sekarang kami juga agak sibuk menangani usaha kami di Indonesia, jadi kami tidak mencoba lagi berobat, kami hanya bercinta normal, dan berharap satu dari sekian milyar spermaku ada yang menjadi super sperma.
Dan seperti yang saya katakan, kejadian tersebut, selalu membuat gairah kami bangkit, maka pada tanggal 9 September 2005 kemarin kami berniat merayakan 1st anniversary kami dengan menginap selama seminggu di hotel mulia, tempat kami melangsungkan pernikahan kami yang begitu mewah dan ?tak terlupakan?.
?Hallo My sexy... hmm... gimana bagus ga??tanyaku, setelah kuhias seluruh ruangan dengan lilin, layaknya candle light dinner. Saya sudah menyiapkan ini dari pagi hari, karena memang saya meminta early check in, dan lilin baru kunyalakan setengah jam sebelum istriku masuk, kusuruh dia menunggu di lobby dulu. ?Waw.... I love it... ... I mm ... I just love it so...much thanks?kata istriku mengangguminya dengan segenap perasaan. Aku juga telah meminta ijin untuk memesan makanan, karena biasanya makanan berbau menyengat agak dilarang masuk ke hotel, tapi mungkin karena fasilitas suite kami lebih dilonggarkan. Kupesan Tony Roma?s baby back favoriteku dan blue ridge kesukaannya. Kami bersantap di meja makan suite kamar kami.
Sambil kami melihat kembali dvd pernikahan kami, yang tentu saja bagian ?itu? sudah diedit, begitu senang kami melakukannya. Kami merasa hal tersebut mengingatkan kami kepada memory memory ketika kami sangat kurang tidur, harus melakukan ini dan itu, tapi kami sungguh puas, sungguh bahagia, walaupun istriku terlihat sangat kelelahan saat itu. Kemudian kami mengingat kembali peristiwa itu lagi, dan membuat kami sangat turn on.
Setelah meniup lilin mati, kami membersihkan diri, gosok gigi dan lainnya, kami mulai bercinta, aku merasa hari itu aku sangat kuat sekali, sekitar 2 jam kami bercinta termasuk foreplaynya, istriku sangat terpuaskan, ?Jess, ah gimana kalau kita ekspos tubuh putih mulus kamu ini, pasti banyak yang senang, membuat semua orang senang, kamu cantik sekali, cantik banget sih...? kataku. ?Ah... i iya.. enak banget... uuh.. di ekspos gimana? Haha... kamu senang ya?? tanyanya. ?Iya Jess... buat anniversary kita...? kataku. ?Terserah kamu deh, hahaha... kamu emang seneng ya kaya gitu... emang ada ide??tanyanya lagi, ?Ide? Kamu serius? Ga papa nih?? tanyaku menyakinkan diriku sendiri, ?asal kamu seneng mike, kamu seneng ga? Kamu suka ga??, ?suka banget... suka bangett... ahh aku ada ide... ahh Jess aku uda mau keluar...?erangku. ?Iya Mike aku juga... ahh... teruss...? teriaknya. ?Kita panggil room service ya, buat siapin makanan Jess? kataku, ?tapi kitakan uda makan? tanyanya, ?bukan kita yang makan Jess... ahhh aku mau keluar... ahhhh....? teriakku. ?Ahh..... enak bangettttt Mike... hah...? erangnya.
Kupanggil sandwich dari room service, dan sekitar setengah jam-an suara bell pun berbunyi, ?Room Service? kata orang luar itu. Kubukakan pintu, aku sudah berpakaian lengkap, ?Sandwich pak...?, ?iya benar, bawa masuk deh? kataku. Kemudian dia masuk, menyiapkan di meja makan, ?Mas, jangan taruh di meja makan deh, bawa ke dalam kamar aja.? kataku. ?Oh baik pak.? Kemudian dia menggeser pintu kamar tidur, ?ah aduh.. ah sorry pak? katanya kemudian langsung membalikan badannya. ?Nama kamu siapa??tanyaku, ?A..Adi pak.? jawabnya cepat. Adi ini memiliki tinggi yang kurang lebih sama sepertiku, mungkin dia lebih tinggi, aku 170 dan mungkin dia ada 175 cm, kulitnya sawo matang kehitam hitaman, sedangkan kulitku putih tetapi tidak seputih istriku yang memiliki tinggi 162 cm dengan ukuran dada 34c mendekati d, tetapi cup c terasa sangat pas untuk dadanya, c agak sedikit besar. Tubuhnya sangat proposional, dengan perutnya yang rata.
?Adi, kamu masuk aja, duduk disana? kataku sambil menunjuk sofa di kamar tersebut. ?Hm.. ta... tapi?katanya terbata bata, melihat seorang perempuan berusia muda, putih cantik, sedang tidur tanpa busana, walau tertutup selimut. Kemudian aku maju, masuk ke dalam kamar, duduk di pinggiran kasur, menarik tubuh istriku yang sangat cantik dan menawan itu, beserta selimutnya, ?Jess, jangan pura pura tidur donk, katanya mau liatin orang makan. Nih orangnya uda dateng nih? kataku yang langsung mempermalukan istriku. ?Ah.. hm.he.?istriku terlihat salah tingkah. ?Ayo donk, ngomong langsung ke masnya, namanya Adi tuh? kupojokkan lagi Jessica.
?Eh..hmmh.. mm...mas.. A..Adi, saya mau lihat cara mas makan sandwich donk.? kata Jess. ?Nah kan denger sendiri kan mas? Ayo di makan? desakku. ?I...iya pak? lanjutnya. Dan tanpa ragu ragu lagi dia duduk di kursi terdekat, bukan di sofa tempat kutunjuk. ?Oh ya, sebelumnya, kuperkenalkan nama istriku Jessica, dan saya Michael? kataku memperkenalkan diri.
Kutarik selimut istriku sampai terbuka semua, dan kutarik dia bangun kemudian aku duduk di kursi yang bentuknya sama, dan istriku duduk di tangan kursi tersebut, posisi kursi kuletakkan sedemikian rupa sehingga aku sangat yakin pelayan ini mampu melihat seluruh tubuh istriku. Kutarik paha kiri istriku sehingga pemandangan terindah vaginanya terpampang jelas ke arah room service tersebut.
Ia terlihat sangat tidak tenang, gelisah, bingung sambil tetap memakan sandwichnya dan menelan ludah, seakan tak percaya, sedang mimpi apa dia.
Istriku merangkul bahuku, jemari kirinya menekan bahu kiriku, tampaknya ia juga gelisah, canggung, malu dan sebagainya, sedangkan rudalku sudah mulai naik lagi, lalu keheningan di pecahkan oleh dering telephone, aku mengangkatnya. ?Hallo, ..hm ya ... ini benar .. oh sudah pak, sudah datang, ohya sebelumnya maaf, memang dia belum saya suruh balik karena saya maunya setelah selesai makan langsung dibawa piringnya, jadi memang masnya saya suruh tunggu disini, ga apa ya... maklumkan ya.. oh ya,,oke.. makasih ya.? ?KLik? kututup telephonenya, ?hehe.. ditelfon sama room servicenya? kataku menjelaskan, Cuma istriku yang melihat kearahku, sedangkan mas Adi tampaknya sudah tak perduli lagi siapa yang menelephone, ia pandangi tubuh istriku tak ada habis habisnya, seperti serigala lapar. Aku senang melihatnya seperti itu, biasanya saja kalau istriku berbusana, setiap pria normal baik single, pacaran maupun yang sudah beristri pasti meliriknya lama lama, menelan ludah bahkan sampai kepalanya ikut berputar, apalagi ini. Sampai kayak orang mati.
Ngesex denganKakak Ipar Ceweku
Cerita ini mungkin terdengar standar, tapi buat ku sangat luarbiasa dan pengalaman yang menyenangkan.
Lebih dari setahun lalu aku punya pacar sebut saja namanya ita, lama pacaran dengannya aku dikenalkan dengan keluarganya, termasuk dengan - sebut saja - lina, yang kala itu masih berstatus pacar kakaknya ita, - Anggara. Awalnya sih biasa saja.. Keakraban kami dimulai ketika aku berani menelepon lina dengan alasan untuk mencari kado untuk ita, tentunya tanpa sepengetahuan ita dan anggara. Dari awalnya cuma sekedar pertanyaan standar seperlunya, berkembang ke cerita pribadi masing2, kemudian curhat ttg pasangan kami masing2 yang kaka beradik, bahkan tidak lama, dibelakang pasangan kami masing- masing, kami semakin akrab dan semakin intens berhubungan. Terkadang tanpa sepengetahuan anggara & ita kami menyempatkan bertemu di sela - sela waktu kerja dan pulang kerja, kebetulan kala itu tempat kerja kami tak jauh, lina bekerja sbg SPG di mall, aku pengawas lapangan atas proyek kontruksi. Perlu diketahui lina ini dgn kakaknya ita - anggara - tinggal satu atap (kumpul kebo), bisa ditebak mereka pernah berhubungan sex. Obrolan kami pun seringkali sampai ke tentang hubungan sex dengan pasangan masing2, mulai dari cara kissing sampe ke hal2 yang bisa bikin kami bergairah.....
Sampai suatu ketika, kami berdua kebetulan sedang bertengkar hebat dengan pasangan kami masing2. Seperti biasa kami saling curhat, sama denganku masalah ita dgn anggara belum selesai karena anggara keburu tugas luarkota. Sedangkan masalhku dengan ita .. eemmm .. ita justru coba menghindar dariku dengan pergi ke tempat kos lina, Karena bermaksud menyelesaikan masalah, aku menyusul ke tempat lina tanpa sepengetahuan ita namun dgn terlebih dahulu memberitahu lina.
Namun terlambat, sesampainya di kosan lina, ita telah pulang. Aku smpt mempertanyakan knp lina tdk memberitahuku kl ita sudah pulang, lina hanya menjawab tidak sempat, tapi sudahlah aku pikir tidak terlalu penting. Awalnya aku berniat menyusul ita, tapi lina menyarankan agar besok saja biar semua nya tenang, lagipula hari sudah sore. Akhirnya aku dan lina ngbrol, saling curhat permasalahan kami masing2, sebagai seorang lelaki tentu aku lbh tenang mengahdapi masalahku, berbeda dgn lina dia sempat menangis terisak-isak, entah kenapa aku tanpa pikir panjang segera merangkulnya dan memberikan pundakku padanya, dia merebahkan tubuhnya padaku, kupeluk erat2 tubuhnya, tak ada perlawanan sama sekali darinya. kurasakan toketnya menempel erat didada, kurasa dia tidak memakai Bra, kontol mulai menegang merasakan itu, dan kupikir lina pun merasakannya karena ia melepas pelukanku. AKu tak birakan dia lepas begit saja, birahiku mulai naik dengannya, kuusap airmatanya, kupandang dalam matanya, kukecup bibirnya, dia sempat terkaget, namun mungkin karena kita berdua sedang terluap emosi, maka emosi atas pasangan masing2 pun berubah menjadi napsu birahi , sesaat kemudian kulumat lagi bibirnya dengan penuh gairah, lina membalasnya, lebih agresif dari yang kuduga, birahi sudah menyelimuti aku dan lina, dengan ganasnya kita berciuman, aku merasakan sensasi yang berbeda dengannya, dia julur2kan lidahnya melumat bibrku, kami benar2 tak kuasa lagi menahan birahi, desahan kami semakin tinggi, kusedot lidahnya dengan penuh napsu, lina mengeranggg.. dibalasnya sedotanku.. kulanjutkan jilatan ke seluruh wajahnya. ""Uhhhh ahh.." kujilati lehernya , kusedot lehernya dan diapun mengerang " UGHH ... " lina blng " jangan dibikin cupang donk sayangg nanti ketauan.." , kuteruskan petualangan lidah menjilati membasahi sekujur leher, kubuka kaos tidurnya, ternyata benar dugaanku dia hanya memakai kaos saja tanpa Bra, terpampang dua gunung megah cukup mungil dengan puting yang mengeras, sebuah tanda birahi lina tlah amat naik....
Melepas Kangen
Jam menunjukkan pukul 6.45 malam. Masih ada waktu 1/2 jam sebelum Edwin datang. Kami belum pernah bertemu muka. Kami hanya bertemu online selama ini di ruang chat. Alasannya, ya karena aku tidak tinggal di kota yg sama dengannya. Bakalan mahal jika ingin sering bertemu. Keinginan bertemu bukan hanya karena ingin saling kenal lebih dekat tapi juga karena semakin memanasnya pembicaraan kami.
Bisa ditebak.. pembicaraan kami sudah melewati masa-masa bla bla bla.. dan berakhir dengan cyber sex. Bukan hanya sekedar chat sex tapi juga sex yg memuaskan, yah walaupun hanya di chat. Akhirnya setelah sekian lama, akulah yg memberanikan diri datang ke kota nya. Sekalian jalan-jalan. Dan malam ini, Edwin berjanji akan mengajakku makan malam bersama.
"Ting tong.. ting tong.. ting tong..", tepat pukul 7 malam suara bel kamar hotelku berbunyi 3 kali. Aku segera menghampiri pintu dan saat kubuka.., Edwin kulihat berdiri di depanku. Tampak gagah dan maskulin. Ternyata tidak jauh berbeda dari foto yg di kirimkannya ke emailku.
Sebaliknya, kulihat Edwin tertegun dengan apa yang kupakai malam ini. Aku mengenakan gaun tipis krem sepaha dengan tali kecil di pundak. Matanya masih tertegun melihat bercak 2 bulatan BH 34B di dadaku dan g-string yg tembus pandang tersorot lampu di gang.
"Silakan masuk.." kataku sambil menarik tangannya dengan manja. Hanya saja Edwin sepertinya tidak sabar dengan kedatanganku yg sudah ditunggu-tunggunya. Tanganku ditariknya lembut, badanku dipeluknya dengan hangat. Hingga wajahku tepat berada di depan wajahnya. "Aku kangen banget sama kamu, sayang" ucapnya sambil berniat menciumku. Aku berusaha menjauh, tapi tak kulepas dekapannya. Kututup bibirnya dengan telunjukku. "Eiitt.. sabar dong, win. Masak mau serobot aja sih. " aku mengerling nakal padanya. Dan kuajak ke sofa di kamarku. Kubiarkan dia duduk di sana dan bukan di tempat tidur yg terbentang di depan kami.
Kisah Winda
Kisah ini juga true story di mulai saat Winda seorang ibu muda, 26 tahun yang telah bersuami dan mempunyai seorang anak berumur 1 tahun di tempatkan di Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman-Sumatera Barat. Kabupaten ini terkenal dengan magisnya yang kuat, terletak di pesisir selatan Sumatera Barat. Demi karirnya di sebuah Bank swasta pemerintah, ia terpaksa bolak balik Padang - Lubuk Sikaping tiap akhir minggu mengunjungi sang suami yang menjadi dosen pada sebuah Universitas di kota Padang.
Awal Winda mengenal Johan sejak Winda kost di rumah milik kakak perempuannya. Winda tidak begitu kenal dekat, Winda hanya menganggukkan kepala saja saat bertemu dengannya. Diapun begitu juga pada Winda. Jadi mereka belum pernah berkomunikasi langsung. Yah, sebagai adik pemilik rumah tempat kostnya, Winda harus bisa menempatkan diri seakrab mungkin. Apalagi sifatnya yang suka menyapa dan memberi senyum pada orang yang Winda kenal. Winda tahu diri sebab Winda adalah pendatang di daerah yang cukup jauh dari kota tempat Winda bermukim.
Begitu juga dengan latar belakang Johan Winda tidak begitu tahu. Mulai dari statusnya, usianya juga pekerjaannya. Perkenalan mereka terjadi di saat Winda akan pulang ke Padang.
Saat itu hari jumat sore sekitar jam 17.30. Winda tengah menunggu bis yang akan membawanya ke Padang, maklum di depan rumah kost nya itu adalah jalan raya Lintas Sumatera, jadi bis umum yang dari Medan sering melewatinya. Tak seperti biasanya meskipun jam telah menunjukan pukul 17.50, bis tak kunjung juga lewat. Winda jadi gelisah karena biasanya bis ke Padang amatlah banyak. Jika tidak mendapat yang langsung ke Padang, Winda transit dulu di Bukittinggi, dan naik travel dari Bukittinggi.
Kegelisahannya saat menunggu itu di lihat oleh ibu pemilik kost Winda. Ia lalu memanggil Winda dan mengatakan bahwa adiknya Johan juga mau ke Padang untuk membawa muatan yang akan di bongkar di Padang. Dengan sedikit basa basi Winda berusaha menolak tawarannya itu, namun mengingat Winda harus pulang dan bertemu suami dan anaknya, maka tawaran itu Winda terima. Yah, lalu Winda naik truknya itu menuju Padang.
Selama perjalanan Winda berusaha untuk bersikap sopan dan akrab dengan lelaki adik pemilik kostnya itu yang akhirnya Winda ketahui bernama Johan. Usianya saat itu sekitar 45 tahun. Lalu mereka terlibat obrolan yang mulai akrab, saling bercerita mulai dari pekerjaan Winda juga pekerjaan Johan sebagai seorang sopir truk antar daerah. Iapun bercerita tentang pengalamannya mengunjungi berbagai daerah di pulau Sumatera dan Jawa. Winda mendengarkannya dengan baik. Dia bercerita tentang suka duka sebagai sopir, juga tentang stigma orang-orang tentang sifat sopir yang sering beristri di setiap daerah. Windapun memberikan tanggapan seadanya, dapat dimaklumi karena Winda yang di besarkan dalam keluarga pegawai negeri tidak begitu tahu kehidupan sopir.
Windapun bercerita juga tentang pekerjaannya di bidang perbankan dan suka dukanya. Iapun sempat memuji Winda yang mau di tempatkan di luar daerah, dan rela meninggalkan keluarga di kota Padang. Ya Winda tentunya memberikan alasan yang bisa diterima dan masuk akal.
Winda juga memujinya tentang ketekunannya berkerja mencari sesuap nasi dan tidak mau menggantungkan hidup kepada keluarga kakaknya yang juga termasuk berada. Iapun berkata bahwa truk yang ia sopiri itu milik kakaknya itu, setelah ia dan suaminya pensiun dari guru. Sedangkan anak-anak kakaknya itu sudah bekeluarga semua, juga bekerja di beberapa kota di Sumatera juga Jakarta.
Selama perjalanan itu mereka semakin akrab. Winda sempat bertanya tentang keluarga Johan. Ia tampak sedih, menurutnya sang istri minta cerai dengan membawa serta 2 orang anaknya .Istrinya meminta cerai karena ada hasutan dari keluarganya bahwa seorang sopir suka menelantarkan keluarga. dan Johan memberi tahu dirinya sebab musabab ia bercerai dengan lengkap. Padahal bagi Winda saat itu, hal itu tidaklah begitu penting, namun sebagai lawan bicara yang baik selama di perjalanan lebih baik mendengarkan saja. Hingga akhirnya Winda sampai di dekat rumahnya di Padang.
Winda di jemput suaminya di perempatan jalan by pass itu, Winda sempat mengenalkan Johan pada suami dan suaminya, dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Tak lupa Winda menawarkan singgah untuk makan kerumahnya, namun Johan dengan sopan menolaknya dengan alasan barang muatan truknya harus di bongkar secepatnya. Dan mereka pun berpisah di perempatan by pass itu.
Guru Seni Lukis Sexy
Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet. Kejadian ini tepatnya ketika aku masih duduk du bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih mengijak 19-20 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?
Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku
diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.
"Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani," ujar anak SD
tetangga Mbak Yani.
Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis
itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu,
kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan
rumah tangganya. Yang jelas, semenjak dia mengajaku melukis pergi ke lereng gunung dan making love di semak-semak hutan, Mbak Yani makin sering mengajakku pergi. Dan sore ini dia memintaku datang ke rumahnya lagi.
Brondong Pertamaku
Pagi itu cerah sekali. Aku bangun dengan tubuh dan perasaan yang benar-benar fresh. Hari ini hari Sabtu, berarti aku libur dari pekerjaanku sebagai seorang sekretaris direksi sebuah dealer mobil mewah di kawasan S, Jakarta. Hari ini aku rencananya akan menghabiskan weekend di rumah sahabatku, V di kota B. Oh ya, namaku *****, teman-teman biasa memanggilku Celyn, umurku saat ini menginjak kepala 3, tapi aku belum menikah karena masih menikmati hidup tanpa ikatan, tapi bukan berarti aku tidak punya pacar. Pacarku namanya Josh, di kerja di perusahaan trading. Kami sudah menjalin hubungan selama satu setengah tahun.
Kok jadi ngomongin diriku ya? (narsis bgt ya?). Anyway, aku segera bangun untuk bersiap-siap. Aku segera menuju kamar mandi. Seperti biasa, aku langsung melepas piyamaku. Setelah tidak ada sehelai benangpun di tubuhku, akupun mulai menggosok gigi. Sambil menggosok gigi, kuperhatikan tubuhku dicermin yang ada dihadapanku. Tubuhku memang montok, apalagi di bagian pinggul karena aku hampir tidak ada waktu untuk fitness, tapi toh aku tidak perduli, aku bahagia dengan tubuhku ini. Sambil menyikat gigi ku pegang buah dadaku, yang menurutku biasa saja, tapi tidak menurut teman-temanku. Menurut mereka buah dadaku seperti mau tumpah, mungkin karena aku selalu memakai bra yang tidak menutupi semua buah dadaku. Aku terus meraba buah dadaku sambil terus menyikat gigi, rasanya geli…lama-lama aku justru lebih fokus pada remasan tanganku daripada menyikat gigiku. Akhirnya aku tersadar…kuputuskan menghentikan kegiatan menyenangkan diriku itu lalu bergegas bersiap-siap.
Setelah memasukkan barang ke H…. J…ku (nanti dikira dapet sponsor), aku segera melaju ke arah tol menuju B. Sebelum berangkat aku sempat meminta alamat V, dan dia segera mengirim SMS alamat lengkapnya. Bukan sekali ini aku ke kota B, tapi Baru dua minggu yang lalu Vina pindah rumah ke daerah CL, dan aku tidak tahu sama sekali dimana itu. Aku pikir toh nanti bisa tanya sama orang di jalan.
Sesampainya di B, aku mulai mengikuti petunjuk SMS V untuk menuju ke rumahnya, tapi…jalanan di kota B ini sangat membingungkan. Setelah berputar-putar aku memutuskan untuk bertanya. Di depanku aku melihat kerumunan anak SMP yang baru pulang sekolah, aku lalu meminggirkan mobilku untuk bertanya pada salah satu dari antara mereka.
“Permisi dik, mau tanya alamat ini”, sambil kutunjukkan isi SMS dari V.
“Oooh…dari sini lurus terus nanti ada toko CK, tante belok kiri terus belok kanan, nanti belok kanan lagi, terus ambil kiri, terus ada tanjakan belok ke kanan. Naik terus nanti tanya aja lagi sama orang disitu”, dia memberikan penjelasan panjang lebar.
Diberi penjelasan seperti itu aku langsung kebingungan, tanpa pikir panjang aku langsung minta tolong padanya.
“Aduh, tante bingung nih! Kamu bisa anterin aja ga? Nanti tante kasih ongkos pulang” kataku.
Dia seperti kebingungan.
Aku pun berkata, “Tenang ga akan diculik kok”, kataku sambil tersenyum.
Dia makin kelihatan kebingungan.
“Kalo kamu takut, ajak saja temen kamu”, aku meyakinkannya, karena aku sudah pusing mencari alamat V.
Berbagi Kebahagiaan
Suatu kebahagiaan tersendiri bila ada tercipta rasa saling menyayangi di antara saudara. Tapi kebahagiaan seperti apa yang dirasakan Sandra ketika berusaha memberikan kebahagiaan untuk Shanty sebagai rasa sayang seorang adik kepada kakak kandungnya?
Kisah nyata ini dipaparkan oleh Lucky, suami Sandra, kepada saya untuk direka menjadi satu cerita. Lucky, 34 tahun, dan Sandra, 27 tahun, adalah pasangan suami istri harmonis yang dikaruniai satu orang putri 3 tahun yang lucu. Tinggal di Wilayah Jakarta Timur, Shanty, 30 tahun, saat itu sudah beberapa hari menginap di rumah mereka karena sedang menghindar dari suaminya. Shanty sedang mengurus perceraian dari suaminya karena sudah merasa tidak ada kecocokan lagi di antara mereka.
*****
Malam itu, 21 Juni 2006..
“Kami mau tidur dulu, Mbak..”, kata Sandra kepada Shanty yang masih asyik menonton acara di televisi.
“Tadi anakku tertidur di kamarmu..”, kata Sandra lagi.
“Iya.. Pergilah istirahat sana. Kasihan si Lucky besok harus kerja lagi..”, kata Shanty sambil tersenyum.
“Biar anakmu tidur denganku..”, sambung Shanty. Akhirnya Sandra dan Lucky segera masuk ke kamarnya.
“Kasihan Mbak Shanty ya, Mas?”, kata Sandra sambil memeluk Lucky.
“Betul.. Sudah berapa lama dia pisah ranjang dengan suaminya?”, tanya Lucky sambil memjamkan matanya.
“Kalau tidak salah sih.. Sudah hampir 4 bulan, Mas”, kata Sandra sambil menyusupkan tangannya ke sarung Lucky.
“Ha?! Mas nggak pakai celana dalam ya?”, tanya Sandra agak kaget tapi tangannya erat memegang tongkol Lucky.
“Memang tidak pakai kok..”, kata Lucky santai sambil tersenyum menatap Sandra.
“Jadi selama kita tadi nonton TV bersama Mbak Shanty.. Yee nakal ya!”, kata Sandra sambil meremas tongkol Lucky agak keras.
“Nggak apa-apa kok.. Nggak kelihatan ini kan?”, kata Lucky sambil memiringkan badannya menghadap Sandra.
“Lagian kalau dia lihat juga.. Anggap saja amal.”, kata Lucky sambil tersenyum nakal.
“Nakal ya!”, kata Sandra sambil melumat bibir Lucky sementara tangannya tak henti mengocok tongkol Lucky hingga tegang.
“Mm.. Enak sayang..”, bisik Lucky ketika tongkolnya makin cepat dikocok.
“Buka dulu bajunya, Mas..”, kata Sandra sambil menghentikan tangannya.
Aku Diperkosa Anakku
Namaku Ibu Ida (Nama Samaran), sekarang (Th 2008) usiaku 51 tahun, PNS di kota Bandung, Anakku yang pertama, laki-laki lahir tahun 1979 ....namanya Hendi.
Anakku yang kedua, perempuan lahir tahun 1981...namanya Wina.
Anakku yang ketiga, perempuan lahir tahun 1984...namanya Dewi.
Pada tahun 1990 aku dan suamiku bercerai, ketiga anak-anakku ikut bersamaku.. kehidupan kami pada sa'at itu tidak ada masalah terutama dari segi ekonomi, karena selain aku bekerja sebagai PNS, orang tuaku meninggalkan warisan cukup besar, sampai aku bisa mempunyai rumah sendiri, bisa beli mobil, perabotan rumah tangga yang lux, dan sisanya aku depositokan.
Sampai akhirnya anakku yang kedua...Wina, pada tahun 2002 menikah, selang beberapa bulan anakku yang pertama..Hendi diterima bekerja di ******** yang cukup ternama di kota Bandung...., setelah beberapa bulan dia menganggur setamat kuliahnya, DIII jurusan ******
Pada tahun 2004, anakku yang bungsu..Dewi menikah, ...sejak sa'at itu aku tinggal hanya berdua dengan anakku yang pertama...Hendi, Aku sering menggonjak Hendi "Hen..lihat adikmu semua sudah menikah.....kapan kamu nikah ???"....Hendi selalu cuek saja, malahan kelihatannya dia seperti belum pernah punya pacar...dia anaknya agak pendiam dan tertutup.

Paras Ayu